Bab 2. Jangan Melarikan Diri

1096 Words
Liam terbangun tanpa mendapati Evelyn di kamar itu lagi. Gadis itu telah pergi, meninggalkan beberapa lembar uang serta sebuah memo yang bertuliskan ungkapan terima kasih. "Gadis bodoh!" Uang dan memo itu dilempar, satu malam penuh gairah yang tidak akan pernah dilupakan. Sayangnya Gadis itu telah pergi sebelum mereka saling bertatap muka dengan jelas padahal dia sangat penasaran dengan rupa asli gadis itu tanpa make up tebal yang dia gunakan. Sebatang rokok dibakar dan dihisap. Apakah dia harus mencari tahu siapa gadis itu? Senyuman sinis terukir di wajah. Dia rasa tidak perlu melakukannya karena mereka hanya bersenang-senang saja. Rokok itu pun dimatikan. Liam bergegas menuju kamar mandi. Setidaknya dia telah melewatkan malam dengan seorang gadis perawan yang belum tentu akan dia dapatkan lagi. Bukankah dia beruntung? Dia pergi dari kamar setelah membersihkan diri. Dia mengambil uang yang diberikan oleh Evelyn serta memo yang dia tulis. Anggap itu sebagai Kenangan dan akan dia kembalikan jika suatu hari nanti mereka bertemu kembali. *** Evelyn meninggalkan dirinya di waktu yang tepat. Dia tidak ingin pria itu mengenal dirinya dan dia pun tidak ingin mengenal pria itu. Kebersamaannya dengan pria itu cukup malam itu saja dan dia tidak mau terlibat dengannya lagi. Evelyn kembali ke rumah sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Tanda merah yang diberikan oleh Liam, memenuhi dadanya dan kedua tangannya terasa sakit karena pria itu terlalu kuat mengikat kedua tangannya. Tubuhnya terasa remuk dan rasa perih itu masih dia rasakan. Evelyn memandangi dirinya di cermin. Bukan itu yang dia inginkan tapi dia justru berakhir seperti itu. Tapi siapa yang pantas disalahkan? "Benar-benar pria liar yang berbahaya!" Dia kembali menyentuh merah kebiruan di dadanya dan meringis. Padalah pria itu sudah memperingati dirinya tapi dia menganggap permainan itu sepele. Sekarang dia mendapatkan ganjarannya tapi setidaknya dia mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak menyesal, tidak sama sekali. "Evelyn!" Terdengar teriakan ibu tirinya yang mulai menguasai seluruh rumah itu. Evelyn mengusap tanda merah yang terdapat di d**a, dia tidak peduli sama sekali dengan ibu tirinya. Seandainya wanita itu tidak hadir dalam kehidupan mereka, maka pernikahan bodoh itu tidak akan terjadi dan dia tidak akan melakukan hal nekat ini. Dia pun benci dengan ayahnya yang begitu mudah dikendalikan dan begitu patuh pada perkataan ibu tirinya. Sekarang yang ayahnya pedulikan hanya istri barunya itu serta anak angkatnya "Evelyn!" Ibu tirinya kembali memanggil sambil menaiki anak tangga sebab kamar Evelyn berada di atas. Besok adalah hari pernikahan Evelyn dan hari ini dia harus pergi mencoba gaun pengantin. Dia harus memastikan Evelyn tidak melarikan diri karena mereka tidak boleh kehilangan uang yang sudah berada di depan mata. "Jangan coba-coba melarikan diri, Evelyn. Besok adalah hari pernikahanmu jadi jangan coba-coba melarikan diri!" "Tua bangka berisik!" Evelyn memakai bajunya. Dia tidak mau mendengar teriakan itu lebih lama karena terdengar begitu menyebalkan. Dia juga tidak mau bertengkar dengan ayahnya karena dia tahu sebentar lagi ayahnya pasti akan mencarinya lalu membela istri barunya itu. "Kau harus segera pergi ke butik sebelum jam 10.00. Jangan lupakan itu!" "Aku tahu!" Teriak Evelyn dengan nada kesal. Kebetulan dia juga ingin pergi untuk mencuci foto erotisnya. Besok ayahnya akan mendapatkan kejutan dan dia tidak peduli ayahnya mau kecewa atau apa karena ayahnya telah mengecewakan dirinya terlebih dahulu. Evelyn keluar dari kamar sambil membawa tasnya. Dia bergegas menuruni anak tangga sambil melewati ibu tirinya. "Dari mana kau?" Dia mendapatkan tatapan sinis dari ibu tirinya. "Aku mau pergi ke mana, itu bukan urusanmu. Kau bukan ibuku jadi jangan bertingkah seolah-olah kau adalah ibuku!" "Jangan berbicara lancang seperti itu, Evelyn!" Teriak ayahnya yang sudah berada di bawah tangga. "Memangnya kenapa? Apa yang aku katakan tidak salah sama sekali karena dia bukan Ibuku!" "Kau?!" Ayahnya sangat kesal karena Evelyn tak bisa menerima istri barunya. "Daddy tidak pernah berteriak seperti ini sebelumnya tapi setelah menikah dengannya, Daddy mulai berubah dan mengatur hidupku. Daddy bahkan tidak peduli dengan keinginanku padahal aku tidak mau menikah dengan si tua bangka itu!" "Daddy memintamu menikah dengan pria itu demi kebaikanmu!" "Demi kebaikanku atau demi perusahaan Daddy? Atau jangan-jangan Daddy melakukannya untuk memuaskan keinginan istri baru Daddy!" "Cukup. Kau semakin kurang ajar saja!" Jason Douglas semakin kesal dengan putri semata wayangnya. Entah apa yang membuat putrinya tidak menyukai istri barunya, padahal wanita itu sangat baik dan peduli dengan Evelyn. "Itulah sebabnya dia harus segera menikah, Jason!" Jane Coonel, adalah wanita yang dia nikahi minggu lalu. Jane memiliki seorang Putra dan mereka berdua bersikap kurang ajar terhadap Evelyn. Sebelum ayahnya menikahi wanita itu, Evelyn sudah tidak menyukainya dan setelah ayahnya menikahi wanita itu, Jane tidak ragu sama sekali menunjukkan siapa dirinya. Sudah jelas jika Jane dan putranya ingin menguasai harta kekayaan yang ayahnya miliki tapi ayahnya tidak menyadari. Ayahnya yang merindukan sosok seorang Putra pun begitu menyayangi Putra Jane. "Kau benar. Aku tidak menduga Evelyn cukup kurang ajar. Mungkin karena Ibunya sudah tiada sejak dia kecil oleh karena itulah dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Aku harap kau bisa menyayanginya dan mengubah sikapnya itu!" "Aku tidak butuh kasih sayang palsu yang diberikan oleh wanita ini!" Evelyn menuruni anak tangga. Sudah cukup, dia tahu dia tidak akan menang berdebat dengan mereka tapi besok dia akan menyelamatkan dirinya dari pernikahan yang tidak dia inginkan itu. "Jangan coba-coba melarikan diri, Evelyn!" "Daddy tidak perlu khawatir. Aku tidak akan lari. Daripada bersama dengan wanita ini yang hanya memberikan kasih sayang palsu lebih baik aku bersama dengan pria tua itu!" Dia berkata demikian supaya ayahnya dan ibu tirinya tidak curiga. "Bagus. Jangan lupa pergi ke butik untuk mengambil gaun pernikahanmu!" Ayahnya kembali mengingatkan. "Aku pasti pergi!" Evelyn tersenyum licik. Jangan mengira dia akan menjadi anak patuh apalagi ayahnya sudah begitu mengecewakan. Dia pergi mencari seorang teman dan dia meminta bantuan sahabatnya itu untuk mencuci semua foto erotis yang ada di kameranya. Dia tidak melihat foto-foto itu, dia melakukannya karena dia jijik melihat apa yang dia lakukan dengan gigolo itu. "Kau gila!" Apa yang dia minta tentu saja membuat Leon terkejut apalagi setelah melihat foto erotisnya "Lakukan saja, Leon. Buat sebanyak mungkin tapi ingat, kau harus menyamarkan wajah pria itu supaya tidak ada yang mengenali dirinya. Walau dia hanya gigolo tapi aku tidak boleh menghancurkan reputasinya!" "Apa tidak ada cara lain, Evelyn?" Leon benar-benar ragu. "Tidak ada!" "Tapi ini akan mempermalukan dirimu sendiri dan semua foto ini akan menjatuhkan reputasi ayahmu. Apa kau benar-benar ingin melakukannya?" "Ya. Hanya kau yang bisa aku andalkan. Besok kau harus menayangkan videonya dan kau harus menyebarkan foto-foto itu agar pernikahanku hancur!" Dia yakin pria tua itu tidak akan sudi menikah dengannya. Rasanya sudah tidak sabar, menghancurkan pernikahannya sendiri dan membuat ibu tirinya malu. Mesti dia tahu resikonya tapi ayahnya yang memulai terlebih dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD