Part 9

1334 Words
PILOT TEWAS BERSAMA GUNDIKNYA Ia menggosok-gosokkan lehernya dengan tangan. Lalu sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia tertawa cengengesan. "Oh ini … tadi Mas masuk angin gitu. Terus sambil duduk aku kerikin sendiri pake koin. Ternyata jadi merah-merah. Astaga." Ia terbahak-bahak, menutupi rasa gugupnya. Aku bisa merasakan, kejanggalan dari suara tawanya. Mas … Mas … Mau sampai kapan kamu terus berbohong padaku? "Masa sih kerikan begitu bentuknya? Lebih mirip bekas cupangan deh." "A-apa? Cu-cupangan? Hahaha … becandaan kamu lucu deh, Sayang. Kamu aja lagi nifas. Emangnya Mas melakukan hal itu dengan siapa?" Aku mengedikkan bahu. "Entahlah mungkin aja dengan Hesti." "Astaga, Hesti lagi, Hesti lagi. Udah berapa kali Mas bilang. Mas dan Hesti gak ada hubungan apa-apa, Sayang." "Oh gitu … Atau jangan-jangan Mas selingkuh lagi sama Dinda," cecarku dengan ekspresi pura-pura bodoh. Matanya membulat ke arahku. Jakun di tenggorokannya naik turun, karena ia bolak balik menelan ludah. Skakmat! "A-apa kamu bilang? Hahaha … makin ngawur kamu itu. Mana mungkin juga aku selingkuh sama Dinda. Dia kan uda punya Kevin. Gak masuk akal deh kecurigaan kamu." Jika yang pertama ia tertawa santai, kali ini tawa yang terdengar sangat dibuat-buat dan dipaksakan. Mas Thoriq pun tidak berani menatap wajahku. "Yaa kali aja kan. Soalnya ini zamannya suami orang selingkuh dengan istri orang juga. Oh yaa satu lagi, ini juga zamannya pagar makan tanaman. Sahabat berselingkuh dengan suami sahabatnya sendiri. Begitu juga sebaliknya," pungkasku dengan berjalan mondar mandir di depan Mas Thoriq yang duduk di tepi ranjang. Persis sedang menginterogasi seorang penjahat. Lelaki berambut hitam pekat itu hanya tertunduk. Jemarinya saling memainkan jemari yang lain di atas pangkuannya. Bola matanya berputar ke sana ke mari. Terkadang terdengar ia menghela napas berat. "Karena …," lanjutku lagi. "Menurut hasil survey yang aku baca. Pemicu seseorang untuk berselingkuh itu, karena tidak puas untuk urusan ranjang atau mungkin pasangannya sudah terlihat tidak menarik lagi. Apa benar begitu, Mas?" "Tapi, ada pula survey mengatakan, orang yang suka berselingkuh dengan suami atau istri orang lain itu, karena ia memiliki gangguan fantasi seksualnya atau kejiwaannya. Sehingga ia lebih cenderung menyukai milik orang lain." Sebenarnya hasil survey yang aku katakan adalah karanganku saja. Tak lebih untuk melihat seperti apa reaksi Mas Thoriq, ketika aku membahas soal perselingkuhan. Mas Thoriq diam seribu bahasa. Berbeda ketika dulu aku menuduhnya selingkuh dengan Hesti. Seribu kalimat dia gunakan untuk membantah. Tapi kali ini, ia seperti tak berkutik. Serupa dengan kucing yang tersiram air. "Kamu ini ngomong apa Sih, Nin? Ngalor ngidul gak jelas. Ah, udahlah, Mas keluar dulu. Mau beli persiapan untuk berangkat lusa," tangkisnya,kemudian menyambar kunci mobilnya di meja riasku. "Sebentar, Mas!" Aku menarik tangannya. Mas Thoriq menoleh. Wajah tampan itu menatapku dengan tatapan serba salah. "Sekedar mengingatkan aja sih. Mas jangan coba-coba selingkuh dengan Dinda. Soalnya Mas Kevin itu tidak segan-segan menghabisi siapa aja yang mencoba menganggu istri dan rumah tangganya." Mas Thoriq tertawa hambar. "Ngomong apa sih kamu? Udah ah, Mas mau pergi dulu." Kemudian ia melesat pergi. __________ Hari ini Alissha sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Bobot tubuhnya sudah mencapaiLagi-lagi tanpa Mas Thoriq mendampingi. Entah dimana dia sekarang. Dia tidak pulang sejak tadi malam. Ketika dihubungi pun, ponselnya dalam keadaan tidak aktif. Aku sudah tidak peduli. Sudah lelah. Tinggal bagaimana biar Farid yang bekerja dan aku tinggal duduk manis menerima informasi saja. "Halo, Bu Nina." Benar saja kan? Baru aku membatin, sudah masuk telepon dari Farid, mata-mata sewaanku. "Ya, Farid. Ada informasi terbaru lagi?" "Tentu saja, Bu. Kalau saya menelepon pasti ada informasi penting untuk Ibu." "Oke, ada info apa pagi ini?" "Pak Thoriq ada di sebuah villa di Puncak bersama seorang wanita." Villa di Puncak? Jika benar, memang Mas Thoriq itu betul-betul manusia tak punya malu. Bisa-bisanya membawa selingkuhan ke villa milik istrinya. "Coba share lokasi kamu. Saya segera ke sana." "Baik, Bu." Setelah telepon berakhir, hanya dalam hitungan menit saja, pesan lokasi masuk ke aplikasi hijauku. Kubuka maps lokasi dan benar saja, villa milik Papi yang terletak kawasan Puncak yang mereka pakai. Sepandai-pandai dia menutupi kebusukan perselingkuhannya, pasti akan tercium juga. Tunggu saja, ajal kebohonganmu akan segera tiba. Aku segera menghubungi Mas Kevin. Semoga saja hari ini dia sedang tidak sibuk. "Ya, halo, Nina," sapa Mas Kevin. "Mas, semalam Dinda pasti tidak pulang kan?" "Kamu kok tau?" "Dia sedang bersama Mas Thoriq di villa milikku. Sebaiknya tidak usah menunggu mereka ke Bali. Mendingan sekarang aja kita gerebek mereka, Mas. Jangan kita biarkan berlarut-larut dalam dosa." Sejenak di seberang sepi. Sepertinya pengusaha tambak itu tengah berpikir. "Apakah ini tepat, Nina?" "Ya, Mas. Tentu aja. Harus menunggu sampai kapan? Kita harus segera membuka perselingkuhan itu. Sebelum mereka semakin terlena dalam kekeliruan mereka." "Oke, kamu di mana sekarang? Biar Mas yang jemput kamu. Kita bareng ke sana." "Aku di rumah Mama, Mas. Kamu tau rumah Mamaku kan?" "Iya, Mas masih ingat. Mas segera ke sana." Aku mencoba menghubungi Papi untuk mengajaknya serta dalam penggerebekan ini. Sayangnya, beliau tengah mengerjakan meeting bersama beberapa relasinya. Sekian lama aku menunggu, Mas Thoriq belum sampai juga. Entah sudah berapa kali Farid menghubungi. Katanya Mas Thoriq dan Dinda sepertinya akan bersiap-siap untuk meninggalkan villa. Bolak balik aku menatap jam di tangan. Aduh, ke mana ini Mas Kevin? desahku gelisah, sembari berjalan mondar mandir di teras. Sesekali mata menatap ke jalan. Berharap mobil Mas Kevin yang tiba. Sayangnya hanya mobil yang melintas. Aku mendengus kesal. "Kamu mau pergi, Nina?" Mami keluar dengan Alissha di gendongannya. "Iya, Mi. Kata orang suruhanku, Mas Thoriq dan Dinda sedang berada di villa kita yang di Puncak." "Astaghfirullah, ngapain mereka di sana?" Aku hanya mengedikkan bahu. "Lalu kamu sedang nungguin siapa sekarang?" tanyanya lagi. "Nungguin Mas Kevin, Mi. Rencananya kami berdua mau menggerebek mereka." Mami menghela napas dalam, lalu membelai kepala yang ditutupi pashmina. "Kamu yang sabar ya, Nak. Semoga akan segera ada jalan untuk semua permasalahanmu ini. Percayalah, Allah itu gak pernah tidur. Dia yang akan membantumu menyelesaikan semua ini. Yang bathil akan segera terbuka." Aku memeluk Mami yang sedang menggendong Alissha. Begitu bersyukurnya diri ini, memiliki mereka berdua di tengah permasalahan pelik yang membelit. "Mi, kayaknya aku pergi sendiri aja deh. Soalnya Mas Kevin lama banget. Tadi kata orang bayaranku, mereka uda siap-siap mau pergi. Aku takut bakalan gak ketemu," tukasku sambil meraih tas dan kunci mobil di meja teras. "Ya udah, kamu hati-hati ya, Nak. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Papi kamu." Aku tersenyum melihat guratan kekhawatiran di wajah bidadari tanpa sayapku itu. "Iya. Bantu doa ya, Mi." Baru saja aku hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba sebuah mobil Fortuner merah berhenti tepat di depan rumah. Setengah berlari, Mas Kevin menghampiri. "Sorry ya, Nina. Pasti kamu nunggu lama ya. Tadi ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ditambah jalanan macet pula." "Ya udah, buruan yuk, Mas. Takutnya gak ketemu lagi sama mereka." "Oke, kamu bareng sama aku aja." Aku segera masuk ke dalam mobil Mas Kevin. Kemudian lelaki berhidung mancung itu menekan pedal gas, lalu melesat membelah kota. Mobil memasuki Tol Jagorawi. Karena jika melalui jalan Jakarta-Bogor, dikhawatirkan macet di jam-jam menjelang makan siang seperti ini. "Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Mas Kevin memecah kebisuan di antara kami. Aku tertawa. "Melakukan apa? Aku juga gak tau, Mas. Sampai saat ini aku sendiri belum bisa menerima kenyataan, bahwa suamiku menduakan aku di saat aku sedang hamil dan baru saja melahirkan," jawabku. "Dia aja sama sekali gak peduli dengan keadaan anaknya yang lahir prematur dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Bahkan ketika aku minta dia menemaniku untuk menjemput bayi kami di rumah sakit, sejuta alasan yang dia berikan." Terdengar Mas Kevin menghembuskan napas berat. Memang hanya dengan cara begitu, maka sesak beban di hati dapat terlepaskan. Mobil Fortuner merah itu membelok ke sebuah kawasan penginapan di daerah sejuk itu. Aku terlalu hanyut pada lamunanku. Sampai-sampai tidak kusadari, entah berapa banyak panggjlan tidak terjawab dan chat dari Farid. [Kamu dimana, Farid?] [Saya di depan villa. Ibu dimana? Kok lama sekali? Pak Thoriq dan wanitanya baru saja keluar dari villa.] Benar saja, tampak mobil Alphard hitam Mas Thoriq membelok ke arah jalan raya. "Mas, Mas, itu Mas Thoriq dan Dinda. Ayo cepat kejar, Mas!" ___________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD