POV DINDA
Ini adalah hari penerbangan kami yang pertama. Aku, Karenina, dan Hesti adalah sahabat seangkatan saat sama-sama menempuh pendidikan di Pendidikan Staf Penerbangan dan Pramugari.
Berhubung kami masih pramugari junior, kami hanya memperhatikan cara kerja para senior kami.
Ketika hendak masuk ke toilet, tak sengaja aku menabrak seorang pria.
"Sorry, sorry, Mbak. Saya gak sengaja," ujarnya meminta maaf. "Lho, kamu temennya Nina kan?"
"Iya, Cap. Gak papa. Saya juga tadi gak liat-liat. Asal masuk aja," tukasku pada pria muda dan tampan yang sudah menjadi Captain Pilot. Aku mengetahuinya dari empat garis emas di bar yang terletak pada kedua bahunya.
"Oh ya, nama kamu siapa?"
"Dinda, Cap."
"Padahal kamu sering main ke rumah kan? Tapi karena saya sibuk, jadinya saya gak tau siapa-siapa aja temen-temen adik saya," tawanya sehingga terlihat belahan pada dagu yang sedikit runcing itu.
"Iya, Cap. Namanya juga orang sibuk ya."
"Jangan panggil, Captain lah. Terlalu formal. Panggil aja Mas Thoriq. Biar lebih akrab gitu," tukasnya ramah, seraya mengulurkan tangannya.
Aku pun ikut mengulurkan tangan, membalas jabatan tangan pria berkulit putih tersebut.
"Lain kali kita ngobrol lagi. Saya balik ke ruangan kokpit dulu ya. Kasihan temen Co-Pilot saya ditinggal sendirian." Mas Thoriq tergelak, lalu masuk ke dalam ruangan yang juga disebut dengan kata lainnya Flight Deck.
Entah kenapa, jantungku tiba-tiba berdegup kencang setelah bertemu dengan Captain muda barusan. Ah, aku harus mencoba untuk mendekatinya.
"Eh, napa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Hesti, ketika aku masuk ke dalam ruang peristirahatan awak kabin, yang biasa disebut Lower-Deck Mobile Crew Rest.
"Tadi gue gak sengaja tabrakan sama Abang lo, Nin."
"Oh ya? Emang kebetulan jadwal flight gue sama dia sama kali ini."
"Emang napa? Lo suka sama Captain Thoriq?" seru Hesti.
"Hahaha … inget lo udah mau kawin Mas Kevin lo itu. Masih aja clamitan sama abang gue," imbuh Nina sambil melemparkan gumpalan tissue ke arahku.
"Gila! Masih lama gue kawin sama Kevin keles. Cuci mata aja dulu kan gak papa," Aku tergelak dan otomatis membuat mereka menyerbuku dengan cubitan di pinggang.
Tapi suatu kali, aku melihat Captain Thoriq atau Mas Thoriq seperti mencoba mendekati Hesti di pesawat. Atau kadang sesekali di terminal di bandara.
Hatiku terbakar melihat kedekatan mereka berdua. Aku cemburu, karena di hati sudah ada cinta untuk Captain muda itu. Walau pun Kevin, seorang pengusaha muda dan kaya raya, telah menjadi tunanganku saat itu. Namun tak dapat kutepis, ada rasa yang tak biasa menelusup di hati.
Hingga suatu saat ….
"Gue bentar lagi mau nikah, Girls!" sorak Nina, ketika kami bertemu di sebuah kafe.
"Ha, seriusan lo? Mau nikah sama siapa?" timpal Hesti.
"Ya sama oranglah, masa sama monyet," balasnya dengan terbahak.
"Gue serius keles," ujar Hesti kesal sambil mengangkat sendok, seakan hendak melemparkan padaku.
Aku tertawa sambil refleks menghindar.
"Sama … Captain Thoriq!"
Deg. Captain Thoriq?
"Yang bener aja lo? Bukannya dia abang elo ya?" tanya Hesti tak percaya.
"Dia itu abang angkat gue. Dari kecil bokapnya udah meninggal. Jadi karena kasihan dia sebatang kara, dibesarin deh sama bokap gue."
"Oh, gitu …." Mulut Hesti membulat membentuk huruf "O".
Aku berpura-pura asyik dengan gawai di tangan. Padahal hati ini sudah berkecamuk tak menentu, mendengar Mas Thoriq akan menikah dengan Nina. Padahal, Mas Kevin sudah berkali-kali melamar, tapi kutolak dengan alasan masih ingin berkarir.
Itu hanya sebatas alasan semata. Karena aku ingin mencoba mendekati Captain Pilot maskapai swasta itu. Andaikan ia membalas perasaanku, maka hubungan dengan Mas Kevin segera kuakhiri.
Sayangnya, ia tak jua membalas perasaanku. Justru ia lebih memperhatikan Hesti. Menurut tebakanku, Mas Thoriq naksir dengan salah satu sahabatku itu. Tapi kenapa justru ia akan menikah dengan Nina?
Tebakanku berikutnya, apakah mungkin karena alasan balas budi? Karena menurut cerita Nina tadi, keluarganya sudah menanam budi pada kehidupan Mas Thoriq.
__________
Aku masuk ke dalam sebuah kafe, langganan tongkronganku bersama Mas Kevin. Tadi pria Indo-Inggris itu mengirimkan pesan, ia ingin menemuiku di sini.
Aneh, kenapa kafe ini mendadak gelap. Apa sedang mata listrik? Tiba-tiba ….
"SURPRISE …!" seru beberapa orang dengan menyalakan lampu di ponsel mereka masing-masing.
Kupicingkan mata, mencoba melihat dalam gelap. Ternyata teman-teman dari Mas Kevin.
Lampu pun menyala kembali. Kemudian masuk dari arah kanan, Mas Kevin dengan balon merah hati dan boneka Hello Kitty besar.
Tiba-tiba ia berlutut di hadapanku, dengan kotak berbentuk hati yang terbuka. Sebuah cincin bermata berlian di dalamnya.
Empat orang temannya masing-masing memegang sebuah kertas bertuliskan WILL YOU MARRY ME?
Mataku kembali menatap pada pria blasteran yang tengah berlutut dengan kaki kanan ditekuk sejajar perutnya. Bibirnya tersungging sebuah senyum.
"Apa-apaan ini, Mas?"
"Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Sekarang dan selamanya." Diraihnya jemariku lalu mengecup ujungnya. "Please … mau jadi istriku ya. Aku gak main-main, Dinda. Aku serius dengan hubungan kita."
Aku tercenung berpikir. Mungkin wanita lain akan meleleh jika dilamar dengan sebegini romantisnya. Entah kenapa dengan hati ini. Nama pria lain sudah terlanjur terpatri di hati, kendati Mas Kevin yang duluan masuk ke dalam hidupku.
Hanya saja apa yang bisa kuharapkan lagi. Captain tampan itu akan segera menikah dengan sahabatku, Nina. Seandainya pun tidak menikah dengan Nina, hatinya pun cenderung ke Hesti. Bukan aku!
Akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran Mas Kevin. Mungkin saja seiring berjalannya waktu bisa timbul perasaan cinta untuknya.
______
Pernikahan besar-besaran dan mewah pun digelar di sebuah gedung terkenal di Jakarta, dua bulan setelah pernikahan Nina dan Mas Thoriq. Dengan pengisi hiburannya beberapa penyanyi terkenal dan host terkenal pula.
Hanya saja pikiranku melanglang buana. Raga berada di pelaminan mewah ini, tapi jiwaku entah terbang ke mana.
Tak lama, Nina dan Mas Thoriq naik ke pelaminan untuk mengajak foto bersama. Mataku sejenak bertatapan dengannya. Memang benar tak ada cinta untukku di sana.
_______
Hari itu, aku ada jadwal flight dari Jakarta ke Maluku. Kebetulan saat itu mensturasi hari pertama agak sedikit menyerang mood-ku.
Tak sengaja aku melihat Mas Thoriq tengah bersantai, di ruang istirahat khusus para awak kabin. Kebetulan kami hanya berdua. Beberapa pramugari tengah melayani para penumpang. Sedangkan Co-pilot yang tengah mengawasi keadaan cuaca dan lalu lintas udara.
Berawal dari obrolan santai, kemudian aku memberanikan diri untuk menciumnya. Dan anehnya lelaki itu diam saja, dan justru membalas ciuman bibirku. Ternyata gayung bersambut!
Hubungan kami terus dekat. Kami tidak peduli dengan pasangan kami masing-masing. Yang kami tahu hanya kebahagiaan ketika kami bertemu dan saling mencumbu.
Kami sering bertemu sesaat setelah kami pulang dari perjalanan kerja. Di hotel yang tak jauh dari bandara.
Mas Thoriq mencumbuku dengan liar, seakan ingin melepaskan hasrat yang tertahan. Karena waktu pertemuan kami tak lama. Mas Kevin akan pulang dari Lombok hari ini.
Tiba-tiba gawaiku berdering. Sial! Aku lupa mematikan ponsel tadi.
"Gak usah diangkat!" perintah Mas Thoriq. Wajahnya terlihat kesal karena harus berhenti di tengah hasrat yang tengah memuncak.
"Sabar, Sayang," jawabku sambil mengusap pipinya. "Kali aja dari Mas Kevin. Nanti dia banyak pertanyaan kalau telepon darinya gak kuangkat."
Mas Thoriq mendengus kesal, kemudian berguling ke ranjang.
Aku terkejut melihat nama yang tertera di layar gawai. Karenina!
"Halo, Nina." Kuangkat ponsel sambil melirik ke Mas Thoriq. Ia tersentak mendengarku menyebut nama Nina.
Ia menanyakan tentang jadwal flight-ku apakah sama dengan suaminya atau tidak. Tiba-tiba saja aku teringat Hesti. Kujadikan saja dia tumbal. Agar Nina berpikir, Hesti yang menjadi selingkuhan Mas Thoriq.
Awalnya ia percaya, apalagi ketika aku mengirimkan foto Hesti dua tahun lalu, yang tengah dirangkul Mas Thoriq.
[Lo hati-hati sama Hesti, Nin. Soalnya kayaknya dia dekat banget sama laki lo. Mesra lagi] Kukirimkan chat padanya.
Benar saja. Dia percaya denganku. Lucunya lagi, dia justru menyuruhku untuk membantu untuk mengawasi suaminya dari jeratan Hesti. Dia tak tahu, suaminya kini sedang b******u dan bergumul denganku saat ini.
Dasar perempuan bodoh!
______
Aku libur dari penerbangan selama seminggu. Rencananya ingin mengajak Mas Thoriq liburan ke Bali untuk beberapa hari. Dan dia setuju.
Ah, kebetulan aku sedang bersama Hesti. Timbul ide untuk lagi-lagi memanas-manasi Nina dengan mengatakan Mas Thoriq sedang janjian untuk liburan dengannya.
Cekrek! Kuambil foto dari belakang. Kala itu Hesti sedang bertelepon dengan Armand, kekasihnya. Posisinya menjauh dariku.
Lalu kukirimkan foto itu pada Nina dengan caption,
[Nina, gue ada info buat lo. Gue denger Hesti berencana liburan sama Mas Thoriq. Hati-hati deh lo, Nin] Setelah itu kukirimkan foto Hesti yang sedang bertelepon tadi pada Nina. Done!
Centang dua abu-abu berubah menjadi biru. Artinya sudah dibaca. Hanya saja tidak dibalas. Tak apa. Tapi aku sudah tahu bagaimana perasaan Nina saat ini. Ponsel kututup, aku tertawa senang.
Akan terus kubakar emosinya. Lalu tak lama dia akan meminta cerai. Setelah itu Mas Thoriq menjadi milikku seutuhnya.
______
Ternyata aku salah langkah. Tak kusangka, ia mendengar obrolan Mas Thoriq denganku ditelepon. Ia malah mendesak suaminya itu untuk liburan di Carita, Ancol.
Halah, banyak tingkah anak itu! Akhirnya liburan ke Bali pun jadi harus tertunda.
Aku tak mau kalah. Kususul mereka ke Carita dan menyewa villa yang tak jauh dari villa mereka. Tentu saja aku tak rela, Nina bersenang-senang dengan Mas Thoriq-ku.
Sengaja kuundang Hesti juga ke sini. Dengan alasan untuk menemaniku liburan. Kebetulan Mas Kevin sedang ke Medan untuk urusan pekerjaannya.
Sengaja kuatur duduk mereka agar bersebelahan. Dan … BAM! Rencanaku berhasil. Nina datang dan memergoki mereka duduk bersebelahan. Padahal ada aku juga di sana.. Mungkin mindset curiga yang telah terbangun, membuatnya tak mampu berpikir jernih lagi.
Nina masuk dan langsung menampar Hesti. Plaaak! Hesti pun terhuyung. Dalam keadaan hamil besar, emosinya yang tak terkendali, Nina menarik rambut Hesti. Wanita itu berteriak kesakitan, tatkala Nina pun mencakar wajahnya.
Plaaak! Tamparan kedua melayang lagi. Tapi kali ini dari tangan Mas Thoriq ke pipi Nina. Astaga, rasanya aku ingin tertawa senang, tapi kutahan.
"Kamu menamparku, Mas? Demi perempuan ini?" pekiknya marah. Kugigit bibir bawahku agar jangan sampai terlepas tawa ini.
Lalu Nina melangkah ke luar. Cepat aku mengejarnya. Aku ingin tahu juga apa yang terjadi pada dirinya setelah ini. Jangan-jangan dia mau bunuh diri lagi.
Kulihat ia menangis dengan posisi terduduk di depan pintu.
"Sabar ya, Nin." Aku pura-pura peduli. Padahal dalam hatiku berkata, "Bodo amat!"
________