PILOT TEWAS BERSAMA GUNDIKNYA
___________
"Kenapa, Nin?" tanya Dinda khawatir, ketika melihat aku mulai meringis menahan sakit, sembari mengelus-elus bagian bawah perut.
Belum sempat aku menjawab, aku merasa seperti ada yang pecah dan air mengalir dari sela kedua paha.
"Air apa itu?" Dinda menatap bingung melihat air yang keluar dari selangkanganku. "Lo ngompol, Nin?"
"Enggak kok. Gue juga gak tau itu air apa, Din."
_________
Dinda merasa panik melihat air yang mengalir cukup deras dari selangkanganku.
"Bentar, bentar, gue panggil Mas Thoriq ya." Dinda berlari keluar.
Sedangkan aku hanya terduduk merasakan sakit. Namun bukan sakit yang terlalu. Cuma keram dan tegang. Lalu air apa ini? Apakah ketubanku pecah.
"Nina, Nina, kamu kenapa?" teriak Mas Thoriq panik, melihatku terduduk lemas di lantai kayu ruang tamu villa. Aku menoleh sekilas. Hesti ikut masuk ke villa. Hanya saja ia cuma berdiri di depan pintu.
Aku tak menjawab. Hanya meringis sembari mengusap perutku. Biasanya jika mengusapnya seperti ini, maka rasa keram tadi akan berkurang. Tapi, kenapa ini malah tidak berkurang sama sekali ya? Justru terasa seperti terus menekan ke bawah dan sakit yang terasa hilang dan timbul.
"Kamu gak papa, Sayang?" tanya Mas Thoriq, memegang jemariku. Kutepis tangannya. Rasa sakit bekas tamparannya tadi, masih terasa di pipiku. Tapi ngomong-ngomong, hei! Kemana cincin pernikahan kami? Kok tidak ada di jari manis Mas Thoriq?
"Bawa istrinya ke rumah sakit, Mas. Itu ketubannya sudah pecah. Kalau tidak cepat diatasi, nanti bayi di dalam bisa kenapa-kenapa, karena kehabisan cairan," celetuk seorang ibu paruh baya yang kebetulan lewat.
Mendengar kata-kata Ibu tadi, sontak Mas Thoriq langsung menggendong tubuhku. Sudahlah, nanti-nanti saja aku tanya.
"Dinda, tolong bukakan pintu belakang mobil!"
Dengan tergesa, Dinda membuka pintu jok belakang. "Mas, aku ikut ya."
Mas Thoriq terlihat mengangguk.
"Mas, aku juga ikut ya," pinta Hesti. Wajahnya terlihat khawatir. Halah, munafik!
"Gak! Gue gak mau lo ikut. Gue gak sudi liat lo!" umpatku kasar.
"Tapi, Nin, gue khawatir sama lo."
"Lo diem aja deh. Dan gak usah sok khawatir atau perhatian gitu. Gue tau, mungkin justru lo pengen gue cepat mati. Iya kan?"
"Sudahlah, Sayang. Tahan emosimu. Lihat keadaanmu saat ini. Ingat bayi kita."
Mobil pun melaju meninggalkan Hesti yang berdiri terpaku, menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Mas Thoriq menghentikan mobilnya tepat di depan ruang IGD.
"Suster tolong, istri saya sepertinya mau melahirkan," teriak Mas Thoriq.
Beberapa perawat langsung mendorong brankar kemudian membantu Mas Thoriq memapah tubuhku naik ke atas brankar tersebut.
"Dokter, apa istri saya mau melahirkan?" tanya Mas Thoriq pada dokter berhijab itu.
"Kita cek saja dulu, Pak. Kalau menurut perkiraan hasil pemeriksaan lalu, seharusnya belum. Karena belum delapan bulan penuh. Tapi, biar kita periksa lagi ya, Pak," jawab Dokter Fitri. Lalu ia masuk ke dalam ruang bersalin diikuti perawat yang mendorong masuk aku yang tergolek di atas brankar.
Dokter Fitri mengarahkan seorang perawat untuk meletakkan cairan gel ke atas perutku.
"Kita USG dulu ya, Bu Nina."
"Alhamdulillah bayi Ibu Nina baik-baik saja. Hanya air ketuban Ibu sudah mengering. Kita harus segera melakukan tindakan operasi, Bu."
"Caesar? Apa tidak bisa normal, Dok?"
Dokter Fitri menggeleng. "Agak sulit, Bu. Karena ketuban yang kering, bisa berbahaya bagi bayi. Jadi untuk keselamatan Ibu dan bayi, ya dengan cara operasi caesar."
"Ya gimana baiknya saja, Dok. Saya pasrah. Yang penting anak dalam kandungan saya baik-baik saja."
Setelah meminta persetujuan dari Mas Thoriq, Dokter dan tim medis lainnya segera mempersiapkan ruangan dan keperluan untuk pelaksaan operasi caesar.
Pakaianku pun diganti menjadi serba hijau. Seorang dokter anestesi, menyuntikkan anastesi spinal Epidural ke tulang belakangku.
Dalam waktu sekitar lima belas menit, seluruh bagian tubuh terasa seperti mati dan tak dapat digerakkan. Hanya dzkir nabi Yunus saat terperangkap dalam perut ikan paus, yang terus aku lantunkan.
”Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."
Aku tidak tahu berapa lama proses operasi tersebut. Namun selang tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi yang cukup kuat.
"Masya Allah, Alhamdulillah." Terdengar Dokter Fitri mengucap syukur. "Anak Ibu perempuan. Cantik, sehat dan normal."
Bulir bening hangat menetes dari sudut mata. Anak yang kukandung selama delapan bulan dengan perjuangan dan air mata, akhirnya dapat kudengar suaranya.
Seorang perawat meletakkan bayi merah itu ke dadaku. Sentuhan kulit kami begitu terasa hangat. Ada perasaan dan getaran yang menelusup ke dalam hati. Air mata tak henti mengalir.
Tak seharusnya kamu lahir dengan cara seperti ini, Nak. Sesaat sebelum kamu lahir, mama malah sempat bertengkar dengan selingkuhan Papa kamu.
Setelah segala proses operasi selesai, aku dipindahkan ke ruang perawatan. Aku sempat melihat Mas Thoriq mengadzankan bayinya. Hatiku kembali melenguh perih. Teringat akan pengkhianatan yang ia lakukan.
Aku berharap setelah ini kamu mau segera menyadari kesalahanmu, Mas. Karena anakmu yang lahir dari rahimku itu perempuan. Bagaimana perasaanmu jika anakmu kelak diduakan oleh suaminya?
Kakiku masih belum bisa digerakkan. Sepertinya efek bius epidural itu masih bekerja.
"Sayang …."
Aku menoleh dan diam. Enggan rasanya menjawab.
"Nina, anak kita cantik dan sehat," imbuhnya lagi. Melihatku hanya diam tanpa suara, ia mendekat lalu mencium kening dan puncak kepalaku.
"Mas mohon, tolong maafkan Mas. Jangan diam aja kayak gini dong, Sayang," mohonnya memelas. "Sumpah, Mas dan Hesti gak ada hubungan apa pun. Tolong percaya sama Mas."
"Ada apa ini? Kenapa ada kata-kata permintaan maaf segala?" Tiba-tiba Papi masuk ke dalam ruang perawatanku disusul Mami.
"Eh, Papi. Gak ada kok. Aku cuma minta maaf kalau ada kesalahan selama ini sama Nina. Melihat perjuangan istriku melahirkan tadi, membuat aku sadar. Perjuangan seorang wanita itu gak mudah," kilahnya sambil menciumi punggung tangan Papi dan Mami bergantian.
Aku mencebik sinis dalam hati. Benar-benar pintar bersandiwara buaya darat ini. Memuakkan!
"Kenapa kamu bisa sampai lahiran prematur sih, Nak?" tanya Mami. "Seharusnya bulan depan kamu baru lahiran kan?"
"Mungkin si baby udah gak sabar mau lihat dunia kali, Pi. Pengen ketemu sama Papa, Mama, Opa dan Omanya," celetuk Mas Thoriq lagi. Cepat-cepat dia menyerobot menjawab. Sepertinya Mas Thoriq takut jika aku menceritakan kejadian yang memicu kelahiran prematur bayi kami.
Lalu suster mendorong box bayi masuk ke kamar perawatanku.
"Ah, ini dia cucu Oma yang cantik sudah datang," ujar Mami, lalu langsung membawanya ke dalam gendongan.
Begitu senangnya Papi dan Mami, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Sedikit terobati perasaan lukaku.
"Mau kalian kasih nama siapa si cantik ini?" tanya Mami.
Mas Thoriq melirik ke arahku, tersenyum. "Rencananya mau aku kasih nama Alissha Putri Ahmad. Gimana, Sayang?"
"Bagus juga," tanggapku datar.
"Wah, nama yang bagus. Alissha Putri Ahmad. Nanti Oma panggil Icha ya," ucap Mami, lalu menciumi bayi yang baru lahir beberapa jam lalu itu.
Melihat kebahagiaan kedua orang tuaku itu, juga menimbulkan kebahagiaan tersendiri untukku. Apa pun masalah hidup yang menerpa, hanya pada keluarga jua lah akan kembali.
"Pi," panggilku pada pria paruh baya itu.
"Ya, Nak, ada apa?"
"Setelah bayiku berusia dua bulan nanti, aku boleh ya terbang lagi?"
Papi dan Mami menoleh padaku lalu mereka saling berpandangan. Terlebih Mas Thoriq. Matanya nyaris keluar dari sarangnya.
"Maksud kamu? Kamu mau balik jadi pramugari lagi?" tanya Mami.
"Hu'um." Aku mengangguk pasti. "Nanti aku carikan baby sitter buat jagain Icha. Tapi di bawah pengawasan Mami juga ya."
"Terus, nanti Papi bilangin ke Om Rahmat juga ya. Bilangin Karenina mau balik lagi," rayuku pada pria yang baru saja menjadi Opa itu.
Dari sudut mata dapat kulihat Mas Thoriq menatapku tajam. Aku tersenyum sinis dalam hati.
_________