2

1116 Words
"Loh, koq sudah tutup sih?" Ucapku ketika langkah kaki kecilku ini sudah mendekati Salon miliknya Aryani. Aku melihat hordeng jendela kaca besar Salonnya Aryani itu, sudah tertutup setengah. Papan bertuliskan Open- Close yang menempel di pintu kaca Salonnya Aryani pun, terlihat sudah di balik menjadi Close. "Eh say?" Sapa Aryani ketika aku baru saja membuka pintu kaca salonnya ini. "Ya ampun mba? Kirain aku beneran sudah di tutup? Koq masih rame sih?" Ya ampun rame banget di dalam ruangan salonnya ini. Isinya para wanita sepertiku, si cantik manja yang suka berhalu menjadi wanita seutuhnya. Aku duduk di kursi tunggu yang berada di sebelah pintu salonnya ini. "Memang sudah tutup kali ciiin." Ucap salah satu temannya Aryani sembari duduk memoles-moles wajahnya sendiri di depan cermin. "Memangnya kamu tidak tahu ya?" Ucap temannya Aryani yang lain, sambil memoles wajahnya sendiri juga. "Tidak mba. Aku tidak tahu apa-apa. Aku masih sangat polos." Ucapku benar-benar polos. "Memang sengaja di tutup say. Kita-kita mau pergi ke hajatan. Mau pergi ke layar tancep." Ucap Aryani sambil memoles wajahnya sendiri juga di depan cermin salonnya ini. Memang sangat sulit, menghadapi ketiga tante-tante aspal itu. "Maksudnya mba Aryani, kalian bertiga itu mau pergi kondangan ya mba?" Ucapku. "Iiih, kamu super dodol deh Cindy? Ya tidak mungkinlah kita kondangan. Kita-kita juga, tidak mengenal itu orang yang punya hajatan." Ucap temannya Aryani. "Terus, kalian bertiga ini, mau pergi kemananya sih? Mau nonton layar tancep gitu?" Ucapku. "Sumpah deh, eke bisa puyunghay, kalo lama-lama sama anak didik kamu ini Yan?" Ucap salah satu temannya Aryani yang satunya berkata kepada Aryani. "Sama kali. Kayak sewaktu kamu masih polos kayak dia." Ucap Aryani menjawabnya. "Ups!" Temannya Aryani itu menutup bibir dengan telapak tangan kanannya. "Iya ya? Dulu juga kita oon kayak dia. Hihihihi.." Sambungnya lalu tertawa ngikik, seperti kuntilanak. Aryani sudah terlihat sangat cantik. Aryani bangkit berdiri. "Sini cu? Emak dandanin? Sekalian nanti, kamu juga ikut?" Ucap Aryani kepadaku. Aku tersenyum manja. Dengan senang hati aku bangkit berdiri. Aku melangkah. Aku duduk di kursi yang barusan di pake oleh Aryani. Aryani langsung memberikan bantal kecil. Aryani melingkarkan bandana di kepalaku. Aku mendaratkan kepalaku di bantal kecil yang berada diatas penyangga kursi ini. Aryani memulai mendandani wajahku. "Mba, sebenarnya kita ini mau pergi nonton layar tancep, atau bagaiama sih?" Ucapku sambil mendongak kearah atas, menatap langit-langit. "Kita mau pergi cari uang say. Bukan meninton film maupun kondangan." Ucap Aryani sangat ramah, sambil memoles wajahku dengan jari lentiknya yang lembut itu. "Caranya bagaimana mba?" Ucapku. "Nanti, disana akan ada orang yang membuka meja. Mereka itu menjual minuman. Dan biasanya, keberadaannya itu ada di semak-semak, jauh dari layar tancep itu berada." Ucap Aryani. "Terus mba?" Ucapku. "Iya. Di warung itu tuh, biasanya ada laki-laki yang suka minum. Nanti, kita deketin. Kita tawarin jasa kita." Ucap Aryani. "Tapi mba. Saya kan belum pernah sama sekali. Saya belum pengalaman sama sekali mba." Ucapku. "Tenang saja say? Kamu tidak perlu pusing? Nanti juga, kalau orang itu mau di temani kamu, dia sendiri yang akan memulainya." Ucap Aryani. "Terus mba, cara aku mendekatinya, bagaimana?" Ucapku. "Kamu duduk di sampingnya. Terus kamu pijit halus pahanya. Nanti, kalau orang itu sudah merasa naik anunya, dia juga bakalan mau lanjut sama kamu. Kalau memang dia tidak suka sama kamu, biasanya mereka juga langsung pindah duduk atau berkata tidak mau lanjut dengan kamu. Tenang, ada juga koq laki-laki yang baik, yang tidak mau di apa-apain, tapi mau memberikan uang sekedar untuk jajan." Ucap Aryani. "Gimana ya mba? Koq aku jadi deg-degan ya? Takut di tolak mentah-mentah." Ucapku. "Tenang say? Penolakkan itu adalah sesuatu hal yang biasa. Ihihihihi.." Ucap temannya Aryani lalu tertawa ngikik seperti kuntilanak. "Bisa diem tidak sih, bencong!" Ucap Aryani dengan nada suara ngebas, kepada temannya itu. "Ups!" Temannya Aryani menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Kita lanjut ya su? Ya cantik? Obrolannya?" Ucap Aryani kepadaku masih memoles wajahku ini. "Iya mba." Ucapku. "Kalau anunya laki-laki itu sudah berdiri nih? Nanti juga telapak tangannya kamu juga, dapat merasakannya, kalau rudal hitam miliknya yang besar itu bergerak-gerak." Ucap Aryani. Jujur, mendengar Aryani yang berkata seperti itu, membuat perasaanku ini semakin penasaran ingin melakukannya. Hah, nasibku yang belum pernah di sentuh oleh seorang laki-laki. Jujur, aku langsung kepengen langsung terjun mendengar perkataannya ini. Aku benar-benar sangat ingin memegang rudal hitamnya laki-laki itu. "Lalu mba?" Ucapku. "Kamu tawarin deh, mau di kocokkin atau di kulum?" Ucap Aryani. "Kalau nanti mereka meminta kedua-duanya, gimana mba?" Ucapku. "Ya itu sih, gimana kamu saja? Terserah kamu, mau menyervisnya bagaimana." Ucap Aryani. "Kalau mba Aryani sendiri, biasanya gimana?" Ucapku. "Kalau kita-kita sih, nawarinnya bukan hanya sekedar itu saja say? Kita-kitamah lebih memuaskan dan Hot pastinya." Ucap temannya Aryani. "Bisa tidak sih diem? Dasar bencong!" Ucap Aryani kepada temannya itu. "Saya kan, hanya ingin membantu kamu menjawabnya saja Yan?" Ucap temannya Aryani kepada Aryani. "Diem!" Ucap Aryani kepada temannya itu. Temannya Aryani pun langsung diam. "Lanjutin lagi ya cantik? Obrolannya?" Ucap Aryani kepadaku. "Iya mba. Tolong di lanjutkan?" Ucapku. "Kalau aku nih say? Bukan hanya menawarkannya mengocok maupun menawarkan untuk mengulum batangan hitam penisnya saja. Tapi juga menawarkan yang lain." Ucap Aryani. "Yang lain itu, maksudnya gimana mba?" Ucapku. "Ya, kamu tahu sendirikan? Aku ini memiliki p******a yang kencang?" Ucap Aryani. "Iya mba. Lalu?" Ucapku. "Biasanya, orang itu juga meminta mengenyot payudaraku ini. Ya dengan senang hati, aku juga memberikannya. Kalau memang dia bisa memberika uang yang lebih." Ucap Aryani. "Tapi kalau pun tidak memberikan uang lebih juga. Kalau semisalnya aku beneran sangat suka sama orang itu, aku juga menyodorkan sama menyervisnya secara cuma-cuma juga." Sambung ucapan Aryani. "Terus mba, selain itu, ada yang lain juga tidak mba?" Ucapku. "Ada dong. Kalau laki-laki itu meminta di masukkin anunya. Aku juga suka mmeberikannya." Ucap Aryani. "Maksudnya, anunya di masukkin kemana mba?" Ucapku. "Aduuh, cindy-cindy? Kamu itu tuh beneran polos ya? Atau hanya berpura-pura polos saja sih? Bikin eke pusing saja deh." Ucap temannya Aryani. "Berisik bencong!" Ucap Aryani kepada temannya itu. "Ya maaf, kalau aku banyak bertanya seperti itu. Aku kan memang beneran polos mba." Ucapku kepada temannya Aryani. "Sudah su? Jangan hiraukan perkataan si bencong itu? Kamu dengarkan emak saja? Ok cantik?" Ucap Aryani kepadaku sangat lembut sambil tetap memoles wajahku ini. "Iya mba." Ucapku. "Kalau memang laki-laki itu minta di goyang, atau minta di masukin anunya itu, maksudnya di masukkin ke lubang kenikmatan milik kita ini cantik." Ucap Aryani. "Sakit nggak sih mba?" Ucapku. "Sangat enak koq. Apalagi kalau sudah keluar masuk, benar-benar sangat enak." Ucap Aryani. "Masa sih mba? Aku takut, nantinya sakit mba." Ucapku. "Kalau awal-awal seperti kamu yang masih virgin ini sih, awalnya memang sakit. Tapi hanya sementara koq sakitnya. Setelahnya, kamu juga akan menikmatinya." Ucap Aryani yang membuat diriku semakin sangat penasaran. "Oh gitu ya mba?" Ucapku. "Iya su." Ucap Aryani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD