ERLAN & RANIA [9]

987 Words
"Mau pergi kemana, Sayang?" tegur Desi, ketika melihat Rania menuruni anak-anak tangga. Terlihat penampilan Rania begitu rapih dan berdandan cantik. Biasanya Rania hanya berdandan biasa, polesan make up tipis-tipis saja. Malam ini, sepertinya ada hal spesial. "Itu, Tan ... Aku mau pergi sama teman," jawab Rania beralasan. "Kok masih panggil Tante si? Panggil Mommy dong. Sekarang kan, kamu udah jadi anak Mommy." Desi memprotes sikap Rania yang menurutnya masih saja formal dan kaku. "Heum ... I-ya, Mommy, maaf." Rania mengangguk dan canggung, merasa kikuk karena sebenarnya dia belum terbiasa menggigil Desi dengan sebutan 'Mommy," sebagaimana seharusnya. "Iya, Sayang. Enggak apa-apa. Jangan diulangi ya. Kamu harus sudah terbiasa, dengan panggilan itu. Sekarang kan kita sudah berkeluarga. Anggap saja, Mommy adalah Ibu kandung kamu." Desi meraih kedua tangan Rania, menggenggamnya erat dan tersenyum hangat. "Iya, Mommy." Lagi-lagi Rania hanya bisa tersenyum canggung. Sungguh keadaan yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Hati serta pikirannya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Padahal sudah satu bulan dirinya tinggal di rumah ini. Tak berselang lama, Erlan pun keluar dari kamar. Penampilannya juga rapih, seolah ia siap untuk pergi ke suatu tempat. Desi menelisik lebih jauh, kedua remaja belia yang kini telah berstatus suami istri itu. "Kamu mau pergi bareng Erlan ya?" selidik Desi sedikit menggoda. "Eh, enggak, Mom. Aku mau pergi sama teman. Kalau Erlan, aku enggak tahu dia mau pergi kemana." Rania menggeleng cepat dan mengelak anggapan tersebut. Kenyataannya memang demikian. Desi mengerutkan keningnya. Tatapannya penuh selidik, kepada Rania dan Erlan. "Kalian udah nikah, kok jalannya pisah-pisah gini?" Desi tidak menyembunyikan keterkejutannya. Baru tahu, ada pasangan yang hidup satu atap, tapi mengambil jalan masing-masing. "Kalian baik-baik aja kan?" tanyanya lagi. Erlan menuruni anak-anak tangga, sesampainya di ujung, dia tidak menoleh sama sekali seolah-olah Rania dan Desi tidak berada di sana. "Mau pergi kemana kamu?" Desi lantas menegurnya. Erlan menghentikan ayunan kakinya, kemudian berbalik badan. Dipandanginya dua wanita yang berasal dari dua generasi berbeda itu. "Mommy negur aku tadi?" Alih-alih menjawab, Erlan malah balik bertanya. Dia tidak melirik Rania sama sekali. Fokusnya tetap pada Desi, yang berdiri di samping Rania. "Iya. Mommy tanya kamu. Mau pergi kemana kamu, rapih kayak gitu?" Desi mengulangi pertanyaannya. "Aku ada sedikit urusan bareng teman. Mommy perlu sesuatu?" Desi melirik Rania sekilas, "Rania juga mau pergi. Mommy kira kalian mau pergi bareng?" Dia kembali menatap Erlan di sana. "Erlan enggak tahu, dia mau pergi kemana. Aku udah ada janji sama teman." Erlan melihat arloji yang melingkar di lengan kirinya. "Aku pergi dulu ya, Mom. Sampai nanti." Erlan melambaikan tangan dan melenggang pergi kemudian. Desi ingin berteriak. Namun, suaranya tidak sampai keluar lantaran Erlan sudah lebih dulu pergi. "Apa-apaan anak itu. Orang tua belum selesai bicara, sudah main pergi saja." Desi menggerutu, mengomel dan sangat kesal. "Sabar, Tan ... Ah, maksudku, Mommy." Rania meralat kalimatnya. Sungguh tidak bisa diajak kompromi lidahnya. "Iya, Sayang. Mommy enggak apa-apa kok. Cuma sedikit kesal aja. Heran sama Erlan. Kapan kelakuannya berubah?" Sebagai seorang wanita yang telah melahirkan Erlan, Desi merasa gagal dalam mendidik anaknya. Dia merasa sangat kurang memberikan perhatian kepada Erlan. Selama ini, dirinya dan sang suami terlalu sibuk bekerja, sehingga kurang memperhatikan Erlan selayaknya orang tua di luaran sana, yang begitu mengutamakan anak. Desi menghela napas panjang. Rania melihat ekspresi murung ibu mertuanya. "Mom." Rania meraih kedua tangan Desi. Digenggam dan dielusnya dengan lembut. "Mommy enggak apa-apa kok, Sayang." Buru-buru Desi menyeka air matanya. Kemudian memasang senyuman terbaiknya. "Tadi katanya kamu mau pergi. Gih, sana berangkat. Kasian teman kamu udah nungguin. Jangan bikin dia menunggu kedatangan kamu, Sayang." Rania mendadak ragu untuk pergi, sebab kepergiannya ini bukan sekedar bertemu teman, melainkan untuk nonton di bioskop, bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. "Sayang ..." Panggilan lembut itu, menyadarkan Rania dari lamunannya. "Iya Mom, kenapa?" "Kok tanya kenapa? Tadi, katanya mau pergi bareng teman? Gih, berangkat sekarang, sebelum teman kamu marah karena lama menunggu." "Iya, Mom. Aku pergi sekarang." Desi mengangguk disertai senyuman lembut. "Assalamualaikum." Rania mengucap salam seraya mencium punggung tangan Desi. "Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Sayang," pesan Desi dan Rania mengangguk paham. Gadis belia itu, melenggang pergi setelahnya. Ada perasaan berat mengusik pikirannya. Namun, Rania tetap pergi karena sudah berjanji kepada Dokter Ravi untuk bertemu malam ini. *** Satu jam setelahnya. Rania pun turun dari angkutan umum. Tepat di sebrang jalan ini, gedung bioskop berada. Rania melihat kiri dan kanannya, mencari sosok laki-laki yang mengajaknya untuk nonton bareng. "Rania!" panggil seseorang dari arah kanan. Rania baru mau mengeluarkan ponselnya di dari dalam tas, seseorang sudah lebih dulu memanggil. "Pak Ravi!" Rania melambaikan tangan. Ravi, pria berstatus dokter itu, mempercepat langkahnya. "Maafin aku, Pak. Aku datang telat. Pak Ravi pasti sudah lama menunggu," kata Rania membuka percakapan lebih dulu. "Enggak kok, saya juga baru sampai," aku Ravi cukup tenang. Mulut Rania membentuk huruf O kecil dan mengangguk paham "Ya udah, yuk. Kita masuk. Filmnya sebentar lagi mau mulai," ajaknya disertai senyuman simpul yang memiliki makna. "Iya." Rania mengangguk canggung. Keduanya melenggang bersama. Ravi mencoba untuk meraih tangan Rania. Namun, diurungkan niatnya itu karena takut akan membuat Rania tidak nyaman. Rania berusaha bersikap biasa saja, tapi entah kenapa pikirannya terus memikirkan Desi, ibu mertuanya itu? Sesampainya di dalam lobby bioskop. Ravi segera membeli tiket film yang akan ditonton. Rania menunggu tidak jauh dari loket. "Terima kasih." Ravi menggenggam tiket itu, kemudian melenggang pergi. Dia tersenyum sumringah. "Ayo!" ajaknya dan Rania mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan. Lagi-lagi Ravi ingin meraih tangan Rania, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Masuk ke ruangan bioskop. Keduanya segera mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. Ravi mempersilahkan Rania untuk duduk lebih dulu, baru setelah itu Ravi. Setengah jam setelah film diputar, tangan Ravi tidak sengaja meraba ke sisi kanannya. Dia langsung menoleh ketika mendapati tidak ada sosok gadis mungil di kursi itu. "Rania?" Ravi celingak-celinguk, mencari keberadaan Rania, yang seharusnya ada di kursi sebelah kanan. Entah kapan Rania meninggalkan tempatnya? Ravi tidak menyadari kepergian gadis mungil itu. "Rania. Kemana dia?" Ravi lantas meninggalkan tempatnya, menyudahi film tersebut lebih awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD