Bab 6

1080 Words
Mario masih mengantuk, tetapi matahari sudah memaksa dia untuk bekerja kembali. Kepulangannya dari Paris ke Jakarta tidak membuat dia bermalas-malasan, justru dia ke Jakarta harus mencari uang uang dengan jumlah lebih banyak. Mario sangat menyukai fotografi kini bahkan di setiap tempat yang dikunjungi dia selalu membawa kamera kesayangannya. Sekarang yang dia ikut Jonas ke kantornya karena dia merasa bosan hanya dirumah saja. Jonas baru saja datang dan dia melihat meja nya sudah rapi, itu berarti Amanda sudah membereskan mejanya. Sejak tadi pagi Amanda sudah membereskan mejanya yang berantakan. Debu-debu pun sudah menghilang. Tapi Jonas merasa masih ada yang kurang, belum ada kopi di atas mejanya. Dia lalu memanggil Amanda, tapi sayangnya gadis itu lama sekali tidak muncul-muncul. Jonas menjadi kesal dengan Amanda, dia akhirnya ke pantrt sendiri dan dia terkejut melihat Amanda yang tertidur di dapur. " Hei! Kamu sedang apa tidur di dapur? Apakah aku menggaji kamu untuk malas-malasan di sini? Kenapa kamu tidak bekerja?" Amanda menguap dan merenggangkan tubuhnya, tinggal dirumah baru yang usang membuat dia harus beres-beres lagi semalaman dan kini dia sangat mengantuk dan lelah rasanya tulangnya ingin lepas semua. Amanda menatap Jonas, wajahnya pucat keringat dingin membasahi dahinya. "Mohon maaf sekali Pak, Tapi saya memang berniat tidak bekerja hari ini, tidak tahu kenapa tubuh saya lemas." Jonas mengernyitkan dahinya, entah kenapa apa dia melihat ucapan Amanda hanyalah sebuah alasan karena Amanda malas-malasan. Jonas lalu berkacak pinggang dan menatap Amanda dengan tatapan tajam dan sengit. "Kalau kamu tidak berniat bekerja, jangan bekerja di sini! Saya hanya mencari pegawai yang tidak malas-malasan. Ayo bangun bekerja lagi! " Jonas lalu membuat kopinya dan dia pergi dari pantry tapi Amanda masih pusing, tiba-tiba rasanya seisi dunia berputar-putar tangan Amanda akhir yang memegang ujung meja dapur dan dia rasanya hampir mual, namun akhirnya dia benar-benar lemas dan terjatuh. Tidak ada yang menyadari jika Amanda pingsan karena di lantai paling atas ini hanya ada Jonas saja karena pegawai lainnya ada di lantai bawah jadi tidak banyak orang yang mengetahui jika Amanda pingsan di pantry. Saat pukul 9 pagi, Jones memanggil Amanda lagi, dia berniat menyuruh Amanda untuk membelikan makanan untuk sarapan tapi Amanda sama sekali tidak menjawab dan Jonas menggerutu kesal. Akhirnya dia berjalan kembali ke pantry dia terkejut melihat Amanda yang tidur di lantai, tidak ada sama sekali pikiran dari Jonas jika Amanda itu pingsan, dia malah berfikir jika Amanda itu sedang tidur di lantai. "Hei bangun! Kenapa kamu malah tidur di sini? Hey!" Jonas menggoyangkan tubuh Amanda dengan mengguncang bahunya, tapi Amanda sama sekali tidak merespon tiba-tiba tanpa sengaja punggung tangan Jones menyentuh pipi Amanda, dia terkejut saat pipi Amanda begitu panas. Jonas akhirnya tidak memiliki pilihan lain, dia menghela napasnya kasar dan menggendong Amanda masuk ke dalam ruangannya merupakan dia ke sofa kantornya dan Jonas langsung menelpon dokter. Tak lama kemudian seorang dokter pun datang, dia memeriksa Amanda dan mengatakan bahwa Amanda sedang kelelahan. Jonas menghela napas lega Dia kira Amanda sakit sesuatu. "Dokter Apa ada obat khusus yang harus dia minum? Tolong beri saya resepnya karena dia pegawai baru saya ya, jadi harus Saya rawat dengan baik." Dokter memberikan secarik kertas berisi resep kepada Jonas, meski Jonas adalah pribadi yang kejam, tetapi Jonas tidak pernah membiarkan orang lain terlantar apalagi dalam keadaan sakit. Amanda membuka matanya setelah pukul 1 siang, kepalanya masih terasa berat karena dia belum makan apapun demi menghemat uangnya. Jonas segera bangun dari duduknya ketika melihat Amanda sudah terbangun. " Kenapa kamu bisa sampai pingsan di dapur? " Jonas menatap Amanda dengan tatapan penuh tanya dia menaikkan alisnya. Amanda tidak sanggup untuk menjawab, Dia benar-benar pusing dan tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar. Kriuk kruyuk Rawk Tiba-tiba suara perut Amanda berbunyi, Gadis itu kelaparan tapi dia tidak membawa sepeser uang pun demi menghemat. Jonas heran dengan Amanda. "Kamu lapar? Kenapa kamu tidak makan sebelum bekerja? " Amanda tidak menjawab, tapi dia langsung berdiri dan permisi sayangnya baru saja beberapa langkah dia tiba-tiba pusing lagi, rasanya seisi dunia berputar. Jonas lalu menarik tangan Amanda dan menyuruh Gadis itu duduk di sofa. "Jangan bergerak dulu, Dokter bilang kamu kelelahan. Jadi istirahat saja dulu saya pesan makanan Kamu tunggu di sini. " Amanda terperangah dengan sikap Jonas, dia begitu baik kepadanya. "Terima kasih Pak sudah membantu saya, tapi apa boleh saya minta satu hal Pak karena ini sangat krusial dan saya benar-benar membutuhkan, " ucap Amanda dengan tatapan memelas, dia sungguh tidak memiliki harapan lain selain Jonas. "Apa? Kenapa wajah kamu seperti itu seperti orang yang putus asa? " Amanda mengangguk, dia memang sedang putus asa sekarang, uang Deposito yang ada di Bank nya hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah barunya selama 10 tahun. Tapi uang itu tidak pernah dia gunakan sama sekali karena itu adalah satu-satunya uang yang dia miliki Jika dia membuka depositonya maka bisa-bisa uang itu habis dengan cepat. "Pak kalau bisa saya minta digaji harian ya. " Jonas menghela napasnya kasar, dia heran dengan sikap Amanda baru bekerja 3 hari tapi kenapa Amanda sikapnya seperti ini. "Apa kamu tidak memiliki uang sebesar pun?" Amanda mengangguk mendengar ucapan Jonas, dia memang tidak memiliki uang sepeserpun saat ini. "Sebenarnya ada Pak tapi uang itu untuk saya menyewa kontrakan baru lagi, lagi pula Saya juga kehilangan rumah karena bapak jadi Bapak harusnya bertanggung jawab dengan saya! " Jonas tersenyum miring mendengar ucapan Amanda. "Bukan salah saya Jika kamu kehilangan rumah kamu, seharusnya sejak dulu kamu itu tahu bagaimana hukum sewa atas sebuah apartemen kalau kamu tahu hukumnya kamu tidak mungkin akan diusir dari sana. " Amanda menunduk lemah, kalau soal properti dan bangunan Dia hanya bisa menutup mulutnya dia tidak tahu apa-apa ko ma yang dia tahu apartemen itu sudah lama dia tempati dan itu milik Ayah dan Ibunya. Jonas selalu menatap Amanda, dia sebenarnya kasihan dengan Amanda tapi dia sendiri suka orang yang bersifat perhitungan. "Kalau kamu mau digaji harian itu berarti gaji kamu Rp100.000 setiap hari. Apa kamu yakin bisa menyimpan uang dari gaji harian kamu?" Amanda menggeleng, dengan gaji segitu memang dia tidak bisa menyimpan uangnya dengan banyak tapi setidaknya dia sanggup bertahan hidup jika setiap hari dia diberi uang. "Tidak Pak, uang itu saya gunakan untuk makan sehari-hari." Mendengar ucapan Amanda, akhirnya Jonas menyetujui kemauan Amanda, dia menelpon bagian keuangan dan menyuruh memberikan uang kepada Amanda. Mario yang baru saja sibuk di bawah dengan pihak marketing, dia naik ke atas lalu masuk ke dalam kantor kakaknya dan terkejut melihat gadis secantik Amanda, Mario terpukau saat pandangan 0ertama melihat Amanda walau gadis itu menggunakan seragam office girl, tapi baginya Amanda sangat menawan dan menarik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD