Rasa penasaranku semakin membuncah. Hingga kuputuskan untuk diam dan tetap menguping.
Dibuat bingung akan kejadian ini. Benakku terus bertanya, ada apa antara mereka orang-orang terdekatku?
"Baik, nanti kita ketemu di rumah sakit." tak lama. Pak Slamet menutup sambungan teleponnya. Lalu memasukan ponsel itu ke dalam saku celana.
Rumah sakit?
Siapa yang sakit?
Pak Slamet bergegas menaiki motor lalu menyalakan mesinnya. Terlihat ia sedang memencet remote control pagar.
Gawat jika aku sampai ketahuan. Karena pintu pagar akan segera bergeser ke arahku. Cepat kulangkahkan kaki menjauh dan bersembunyi di dekat pohon bunga bougenville.
Motor Pak Slamet ke luar dari pagar dan terpacu cepat ke arah barat.
Tak habis akal. Lantas aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil. Rencanaku adalah, mengikuti ke mana pria tua yang kuanggap baik itu pergi.
Tanpa memerhatikan sekitar rumah. Kedua kaki jenjangku lantas berlari cepat menuju bufet yang berada di ruang tengah. Untuk mengambil kontak mobil yang biasa tergelak di sana.
Kusambar kontak mobil dan gegas membawanya ke garasi depan. Kalau tidak cepat, bisa-bisa aku akan kehilangan jejak Pak Slamet.
Mobil kukemudikan dengan kecepatan tinggi. Sesekali mataku celingukan memperhatikan jalan yang bercabang. Sosok Pak Slamet beserta motor matic yang ia bawa belum terlihat sama sekali.
Entah ke mana lelaki itu pergi. Sial, benar-benar sial! Jika aku kehilangan jejaknya. Maka aku juga akan kehilangan kesempatan untuk menguak semua kebenaran.
"Arrgh!" kupukul setir mobil sambil berteriak frustasi. Kuhela napas gusar, kecewa dengan keadaan yang tak berpihak. Karena sudah hampir setengah jam lebih aku mencari Pak Slamet. Namun tak kunjung ketemu.
Hampir saja aku menyerah dan nyaris kembali pulang. Kendatipun, terlihat seseorang yang mirip Pak Slamet beserta motornya. Lelaki itu memakai helm dan jaket yang persis dengan yang Pak Slamet pakai tadi.
Motor itu baru ke luar dari area pom bensin. Dan kini, aku tengah menguntiti motor itu. Untuk memastikan, apakah ia benar Pak Slamet atau bukan.
Sekitar sepuluh menit dari pom bensin. Tibalah aku di lampu merah, kini posisiku agak dekat dengan Pak slamet. Hanya terhalang satu kendaraan roda empat yang berposisi sejajar dengan kendaraanku.
Kuperhatikan lama.
Benar, lelaki itu benar Pak Slamet. Kebetulan ia membuka kaca helmnya.
Ah, syukurlah. Aku bernapas lega sekarang. Apa yang sedari tadi kucari sudah ketemu.
Dalam hitungan detik. Lampu lalu lintas yang semula berwarna merah berubah menjadi hijau. Pak Slamet melajukan motornya kembali. Begitupun denganku.
Aku terus mengekor di belakang Pak Slamet dengan jarak yang lumayan jauh.
Tak lama, motor Pak Slamet belok ke arah kanan.
Aku ingat, ini 'kan arah rumah sakit. Di mana dulu pernah aku di rawat di rumah sakit ini karena kecelakaan tunggal yang kualami dua tahun silam.
Pak Slamet terlihat memarkirkan motor maticnya. Sebelum ia masuk rumah sakit, lelaki berbadan tambun itu melepas helmnya terlebih dulu.
Drrtt! Drrtt!
Ponselku yang berada di dalam tas tiba-tiba bergetar diiringi nada dering nyaring memenuhi rongga mobil.
"Siapa sih, yang nelepon? Ngganggu aja!" sambil menggerutu, tanganku mengulur hendak merogoh tas yang tergelak di bangku samping. Tetap dengan mata fokus mengintai gerak-gerik Pak Slamet yang masih berada di depan sana.
Jemariku tak kunjung memegang benda pipih pintar yang sedari tadi kucari. Bukannya HP lekas itu kugenggam, tasku malah jatuh beserta isinya. Semua isi dalam tas itu berserakan di kolong bawah, termasuk gawaiku yang masih berbunyi. Gegas kuraih benda pipih yang tengah menyala. Namun saat aku kembali duduk tegak dan menghadap depan. Pak Slamet sudah tidak ada di tempatnya tadi. Ke mana dia?
Sial, gara-gara HP jatuh. Aku jadi kehilangan jejak untuk yang kedua kalinya. Kuedarkan pandangan mata ke seluruh penjuru sekitar. Sosok Pak Slamet sudah tak terlihat di sekitar sini.
Apa dia sudah masuk rumah sakit ya? Pikirku.
Kendaraan yang kutumpangi, kuparkirkan terlebih dulu. Setelahnya aku pun masuk ke gerbang depan rumah sakit. Di seberang dekat lorong, ada admin bagian resepsionis. Barangkali aku bisa menemukan Pak Slamet, kalau aku bertanya padanya.
Baru saja kaki ini mengayun beberapa langkah. Terlihat seorang wanita dengan busana syar'i yang tak asing lagi. Karena memang sebelumnya, kemarin aku pernah melihat wanita itu di mall bersama Mas Ari dan Mama mertuaku.
Bagus, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Itulah, seuntai kalimat yang tepat menggambarkan keadaan saat ini. Di mana aku tengah mencari Pak Slamet, namun kini malah Marisa juga yang kudapatkan.
Marisa tengah berbicara dengan wanita berbaju biru tosca. Wanita yang tak lain adalah resepsionis rumah sakit ini terlihat menjelaskan sesuatu yang penting.
Seperkian menit mereka berbincang. Marisa nampak mengangguk paham dan lantas melenggang pergi.
Yang menjadi pertanyaan. Pak Slamet pergi ke mana?
Lelaki itu tak kunjung kelihatan juga batang hidungnya.
"Di mana ruangannya?"
Terdengar suara yang tak asing di telinga. Lantas kuberbalik arah untuk memastikan.
Buru-buru aku menyingkir dari tempat semula. Karena seseorang yang berbicara tadi membuat mata ini nyaris tak berkedip.
Mas Ari, dia sedang berjalan ke arah sini bersama dengan Pak Slamet. Untung saja aku memakai masker, jadi mereka tidak mengenaliku.
Ternyata Pak Slamet menjemput Mas Ari di gerbang depan. Pantas saja aku tak mendapati lelaki itu di area lobi.
"Silakan lewat sini, Pak." pinta Pak Slamet menunjuk jalan yang tepat berada sekitar tiga meter dari tempatku berdiri.
Mas Ari terdiam dengan kaki melangkah tegap. Pria bergelar suami itu menampakan wajah datar nan rupawan. Meski Mas Ari jarang tersenyum, namun ketampanannya tak memungkiri bahwa setiap wanita yang melihatnya bisa saja jatuh cinta.
Kulangkahkan kaki pelan. Mengekori Pak Slamet dan Mas Ari. Entah ke mana tujuan mereka. Yang jelas, sudah sekitar sepuluh ruang inap yang dilintasi, mereka tak kunjung berhenti.
"Di sini, Pak. Ruangannya." kata Pak Slamet mengacungkan telapak tangannya ke arah pintu kamar bertuliskan ruang Melati nomor 13.
Tak ada jawaban apa-apa dari Mas Ari. Namun ia lantas masuk ke dalam ruangan seusai dibukakan pintu oleh Pak Slamet.
Dua pria beda usia itu menghilang dari balik pintu yang tertutup rapat. Situasi ini yang membuatku kian bingung. Pasalnya, tak ada cela tempat untuk aku mendengar atau melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Kuhela napas panjang. Berulang kali mengatur oksigen yang ke luar masuk rongga dadaku. Memikirkan, bagaimana cara agar aku dapat mengetahui apa yang sedang berlangsung di antara mereka. Aku yakin, jika Marisa juga tengah berada satu ruangan dengan Pak Slamet dan Mas Ari.
Kulangkahkan kaki ke arah jendela kaca yang tertutup gorden berwarna biru. Menelisik rinci setiap sudut kaca yang terkunci dari dalam.
Derap langkah terdengar mendekat. Kuurungkan aktivitasku sejenak. Karena seorang perawat tengah melaju ke arah sini, sembari membawa nampan berisi obat-obatan. Gegas kuubah posisiku menjadi duduk di bangku besi yang biasa tersedia untuk keluarga pasien.
Perawat itu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu cepat.
Kudekati pintu yang menjadi akses ke luar masuk ruangan, di mana dalam ruangan itu ada Mas Ari dan para antek-anteknya.
Ada sedikit celah di pintu itu. Untung saja, perawat tadi tidak menutupnya rapat. Hingga hembusan hawa dingin AC dapat kurasa menerpa wajahku lewat rongga pintu di depanku.
Dari sini aku jadi bisa menguping pembicaraan Mas Ari. Dan di sana ada pemandangan yang membuat bibirku mengatup rapat. Hatiku begitu tersayat melihat orang-orang di depan sana hendak mengadakan acara sakral yang Mas Ari dan aku pernah lakukan beberapa tahun silam.
Di sana, yang membuat mataku memanas, hingga bulir bening berlolosan dari pelupuk mata tanpa kupinta. Jelas aku terluka akan hal ini. Karena di ruangan itu ada penghulu yang sudah siap untuk menikahkan Mas Ari juga Marisa.
Namun, ada yang asing di mata. Seorang wanita ringkih dan tua, tengah berbaring di atas bangsal. Tepat di tengah-tengah orang-orang itu. Sedangkan Marisa, kulihat ia pun berulang kali menyeka air matanya. Siapa wanita kurus kering itu?
"Bu, minum obat dulu ya," kata Perawat tadi memberikan beberapa butir obat dalam plastik kecil.
Wanita yang terbaring itu lantas mengangguk. Dan Marisa membantunya mengangkat kepala wanita itu hingga mendongak.
Seusai meminum obat. Perawat memeriksa cairan infus dan selang oksigen yang terpasang di hidung wanita renta yang mungkin kuprediksi berusia lima puluh tahun lebih.
"Nak, Ari ... Ibu mohon, menikahlah dengan Marisa sekarang. Sebelum waktu Ibu habis." lirih wanita yang menyebut dirinya 'Ibu' ya aku tahu, mungkin itu ibunya Marisa.
Mas Ari terdiam. Naik turun dadanya terlihat mengatur napas. Matanya juga sesekali mengerjap rapat. Jika Mas Ari mengiyakan permintaan ibunya Marisa. Benar-benar lelaki tak tahu diuntung dia. Teganya menghianati istrinya sendiri. Wanita yang mau menerima kekurangannya juga keluarganya.
"Iya, Bu. Saya akan menikah dengan Marisa detik ini juga," kalimat yang tercetus dari mulut Mas Ari, sukses menghancurkan hatiku. Meski aku sudah berusaha tegar semenjak kutemukan cincin itu. Kendatipun hal itu tak mampu kubendung lagi. Hati ini, serasa remuk redam menyaksikan penghianatan ini.
"Baiklah, Pak. Mari kita mulai, tapi ingat, tugas saya hanya sebagai penghulu, karena pernikahan kalian tidak sah secara hukum. Bila ada insiden yang tidak diinginkan karena Pak Ari tidak izin istri pertama Anda, itu bukan urusan saya," tukas penghulu menjelaskan. Jadi, Mas Ari hanya menikah siri. Pantaslah ia dan Marisa tidak mengenakan pakaian yang kemarin mereka beli di mall. Pernikahan mereka juga terlihat dadakan, atas pemintaan ibunya Marisa.
"Iya, Pak. Saya mengerti." jawab Mas Ari tanpa ekspresi.
Perawat pun ikut berdiri di samping Pak Slamet. Ikut menyaksikan detik-detik Mas Ari hendak menjabat tangan penghulu, meski sudah lumayan lama tangan lelaki berpeci itu mengambang di udara. Dan juga, perawat itu mungkin masih kerabatnya Marisa. tebakku yakin. Karena jika perawat itu hanya pekerja di sini, tidak mungkin ia berlama-lama di ruangan ini.
Kuping dan netraku terasa panas menyaksikan apa yang sedang dilakukan orang-orang itu. Inginnya aku masuk dan mengobrak-abrik semua. Menggagalkan pernikahan Mas Ari. Tanganku juga sudah mengepal keras sedari tadi, sudah siap menghantam wajah para penghianat yang bahagia di atas lukaku.
Baiklah, aku akan hancurkan semuanya. Toh, semua harta juga sudah menjadi milikku seutuhnya.
Kutarik napas panjang. Bersiaplah mati kutu kalian!
"Bismillah, saya nikahkan, Aria--"
"Sini, ikut saya! Dasar penyusup!" tarikan keras di lengan kananku membuatku terhenyak kaget.