Shofia melepas apronya, lalu menyampirkan di kursi dapur, lalu ia berjalan melangkah menuju ketiga orang tuanya.
"Ayah, Ibu." panggil Shofia, ia menyalami kedua orang tuanya yang tak muda lagi tentunya.
Mengajaknya untuk duduk di ruang tamu, Lalu Gerry turun dari kamar, ia ikut gabung dengan orang tuanya juga tentu ada Shofia.
Gerry duduk, tanpa berbincang apa pun, ia memainkan angin di dalam mulutnya. "Kenapa gak sapa mertuamu?" protes ayahnya,
Gerry menoleh, sedikit cuek. "Hmm, hai ayah, ibu. Bagaimana kabar kalian?" tanyanya, tanpa ekspresi,
"Alhamdulillah kabar baik." jawab ayah mertuanya, Gerry tersenyum tipis, tipis sih jadi gak keliatan kalo dirinya tersenyum.
Lalu tangannya iseng, menautkan jemarinya ke sela jari sang istri, membuat sang istri menoleh. Namun Gerry-nya mah cuek-cuek aja. Gak peduli dengan tatapan Shofia yang merasa keberatan.
Gherry mendekatkan bibirnya ke telinga Shofia yang tertutup jilbab, "Aku udah laper," bisiknya. Shofia menoleh ke suaminya yang udah pasang wajah memelas, melihat wajah ganteng sang suami membuat dirinya tak tega.
"Hmm, Pi, Yah, Ibu. Mari kita makan malam dulu, Shofi udah masak." ajaknya, ia masih merasa canggung memanggil ayah mertuanya. Itu membuat Gerry merasa gemas, jika tidak ingat ada mereka, rasanya ia udah mau mengunyel-unyel di ceruk leher istrinya.
Shofia merengganggan jari yang di genggam sang suami, berharap Gerry melepas tautannya. Namun si suami malah sengaja mengetatkan kembali tautannya, lalu Gerry menarik Shofia, mereka berdua melangkah ke dapur. "Ayok, biar aku siapkan," katanya.
Ayahnya hanya mengulum senyumnya, lalu menatap ke besannya.
"Baru kali ini aku liat Gerry bersikap manis sama perempuan," ucap ayah Gerry, tentu dengan suara agak berbisik. Takut di dengar putranya.
Ayah Shofia dan ibunya pun mengangguk. Merasa bahagia, melihat putrinya di perlakukan dengan baik oleh suaminya.
Beberapa menit berlalu, ayah Shofia dan ibunya, ayah mertua serta suami dan dirinya sudah duduk mengitari meja makan. Makan malam dengan menu sederhana, sebab memang tidak ada acara spesial. Dan lebih lagi orang tuanya tidak mengabari jika ingin datang, oleh sebab itu makanan juga biasa saja.
Shofia melayani suaminya dengan baik, mengambilkan nasi goreng dan menuangnya di atas piring. "Terimakasih," ucap Gerry, terdengar manis di telinga Shofia, membuat pipi putih Shofia nampak kemerahan sebab merasa malu. Membuat ayah mertuanya gemas, melihat menantunya yang nampak malu-malu tersebut.
Keluarga yang melihatnya merasa ikut bahagia juga, Gerry tanpa malu mengusap bibir Shofia saat ada nasi yang menempel di bibirnya.
"Ekhem-ekhem..!! Kalian bikin Papi iri aja," gumam sang ayah, Shofia reflek menabok paha suaminya, sebab dengan sengaja malah memainkan jarinya di bibir Shofia. Gerry sendiri nyengir, kek gak ada malu sedikit pun, malah dengan sengaja ia menampakkan kemesraannya di depan mertua dan ayahnya.
Makan malam berlalu, kedua orang tua Shofia sudah kembali ke rumahnya, dan ayah mertuanya sudah istirahat di dalam kamarnya setelah minum obatnya.
Di dalam kamar Gerry, Shofia duduk di sofa, sedangkan sang suami masih menikmati batang nikotin di balkon kamarnya. Setelah makan malam ia kembali ke kamar terlebih dahulu, dan menikmati rokoknya di balkon kamarnya.
Gerry masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu kamar yang menghubungkan antara kamar dan balkon. Menatap Shofia yang sedang serius menghadap layar laptop. Gerry pun memilih duduk di sebelah sang istri. Ikut mengamati layar yang di tatap istrinya. "Masih banyak kerjaannya?" tanya suaminya. Shofia menoleh lalu ia menggeleng. "Tidak, mas. Hmm.. ini. Anu.. A-ku di tawari ngajar di kampus, sebagai dosen mata kuliah agama," ucapnya, Gerry menoleh, membuat matanya saling tatap.
"Dimana?" tanya Gerry,
"Di kampus kamu, mas." jawabnya. Membuat Gerry penasaran, lalu ia pun tersenyum lebar setelahnya.
"Ambil saja, biar kita bisa bareng terus," suruh suaminya. Membuat bibir ranum itu mengerucut, "kenapa? kok malah manyun?" tanya suaminya.
Shofia bingung untuk menjawab, masa' mo bilang takut di godaian maha siswa di sana, yang bener saja, di kira keGRan. Sebenarnya karna Shofia memang jarang berinteraksi dengan orang luar. "Hmm, mahasiswa di sana bagaimana, mas?" tanya Shofia, takut-takut. Membuat kening Gerry mengkerut, "maaf, mas. Aku cuma takut saja," lanjutnya. Gerry pahamlah apa maksudnya, Gerry segera merangkul pundak istrinya,
"Hmm, jangan takut, ada aku." ucapnya. "kapan mulai ngajar di sana?" tanya Gerry kemudian.
"Masih awal semester sih, Mas." jawabnya. Gerry mengulum senyumnya. Lalu mengangguk, "terima aja, ya? ini kesempatan bagus lhoo," pinta Gerry, Shofia mengangguk. Sebenarnya dekan yang menyuruh Shofia ngajar di sana adalah temannya waktu di Aliyah sampai mereka berdua kuliah, hanya beda jurusan, sebab Shofia yang mengambil jurusan tarbiyyah. "Udah selesai belum? tanya Gerry?" kemudian. Shofia hanya mengangguk, lalu Gerry menuntunnya menuju ke tempat peraduan. Keduanya duduk di bibir ranjang, lalu Gerry menatap lembut wajah sang istri. Yang memang sudah lama ia kagumi, sejak SD saat Shofia membantunya membuat origami. Simple hanya karena itu, membuat Gerry merasa Shofia adalah pahlawannya. Mereka pun mulai beribadah bersama.
***
Hembusan angin pagi hari, terdengar merdu di telinga Shofia, ia membuka matanya lebar, lalu merasakan tubuhnya yang di peluk suaminya, pelukan yang begitu erat, tangan kekar itu melingkar di tubuh mungil istrinya.
Pelan Shofia menyingkirkan tangan suaminya, ia harus segera bangun dan mandi, sebab semalam keduanya habis bertempur. Menatap jam yang menempel di dinding, masih pukul tiga pagi, ada kesempatan untuk shalat tahajut. Suaminya masih nyenyak dengan berbalut celana kolor saja, ia masih telanjang d**a, d**a yang nampak indah, Iya sih indah 'kan model pakaian dalam, yang biasanya potho hanya memakai celana dalam saja. Sepertinya Gerry akan mengakhiri pemotretan dengan model kek gituan. Nggak enak sama istrinya, masa' tubuh suaminya dinikmati juga oleh orang umum. Kemarin saja Shofia sempat shock melihat poster dirinya yang hanya memakai celana dalam saja.
Shofia duduk di tepian kasur, ia memakai baju asal, asal ambil yang paling dekat, sebab suaminya yang melempar pakaiannya ke sembarang arah. Sejenak menatap suaminya yang tidur miring mengarah ke dirinya, kulitnya memang putih, bahkan tanpa noda apapun. Hanya sayang saja, kulit putih itu tergambar tato di d**a dan lengan kirinya.
"Kenapa liatin aku segitunya? Baru sadar ya, suamimu ganteng," goda Gerry, yang ternyata sudah bangun dan memergoki istrinya yang sedang mengamati dirinya.
Membuat Shofia salah tingkah kepergok suaminya sendiri. "Ish, anda PD sekali," cibirnya, Shofia lekas berdiri ia ingin segera membersihkan dirinya, namun Gerry menarik tangannya, membuat Shofia hampir terjelengkang jika tidak sigap, "ish mas, aku mau mandi," protesnya.
Gerry tersenyum, senyum Gerry mampu memporak porandakan hati Shofia, nampak manis dan terlihat tampan sekali jika tersenyum seperti ini, "mandi bareng," ucapnya, Gerry langsung membopong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar mandi, tentu Shofia tak bisa menolak, gerakan tiba-tiba itu membuat Shofia terdiam.
Gerry menurunkan istrinya tepat di bawah shower, ia lalu membingkai wajah Shofia yang kini sudah basah sebab guyuran dari air hangat, Gerry tersenyum, lalu menarik kepala istrinya, ia memberi kecupan singkat, lalu kembali menatap dalam istrinya, yang kini terpejam menunggu apa yang akan di lakukan suaminya.
Setelah satu jam lebih, tepat saat adzan subuh yang pertama berkumandang, Shofia baru keluar dari kamar mandi, niatnya mau tahajut gagal, sebab suaminya yang mengganggunya. Ia duduk di depan cermin, mengeringkan rambut basahnya dengar hair dryer. Bibirnya sedikit mengerucut, tak habis pikir ia kalah dengan godaan suaminya, pesona Gerry memang mampu membuat hati Shofia tak berdaya.
Setelah di rasa cukup kering, ia lalu segera memakai pakaiannya, lalu mengambil mukena dan bersiap shalat subuh.
Hingga ia selesai shalat subuh, ia tak melihat suaminya keluar dari kamar mandi, tak memperdulikan itu, Gerry segera turun dari kamarnya, menuju dapurnya untuk menyiapkan sarapan pagi.
Ayah mertuanya baru saja keluar dari kamarnya, menyapa menantu kesayangannya. Yang kini sedang berbincang dengan ART-nya. Menanyakan menu yang akan di masak pagi ini. "Selamat pagi, Shofia. Bagaimana tidurnya semalam?" tanya ayah mertua, yang kini berjalan tanpa menggunakan bantuan kursi roda, ya memang kakinya baik-baik saja, beliau sakit jantung. Kemarin buat jalan masih lemas dan gemetar, pagi ini nampak lebih segar dan sehat.
"Nyenyak, Pi." jawab Shofia singkat, pipinya merona. Bagaimana Gerry tidak gemas, jika istrinya yang pemalu ini selalu menampakan pipi kemerahan jika di goda sedikit saja. "Hmm, Papi baik-baik saja? kenapa tidak memakai kursi roda?" tanya Shofia, khawatir.
Ayah mertuanya mengangguk, menandakan beliau baik-baik saja, "Melihat bahagia di wajah Gerry, membuat Papi rasanya ingin hidup lebih lama lagi, terima kasih, Sayang. Kamu sudah bisa mengembalikan senyum seorang Gerry, sejak kematian Maminya, Gerry menjadi lelaki pendiam dan mudah marah, terima kasih menantuku," ucap ayah mertua dengan tulus.
Shofia mengangguk, ia belum tahu betul bagaimana kehidupan Gerry pasca di tinggal wanita yang telah melahirkannya.
"Papi, pagi ini mau di buatkan sarapan apa?" tanya Shofia lembut, ayahnya menggeleng, bagi ayah mertuanya, apa pun itu beliau pasti akan di makan.
"Terserah kamu Sayang, kamu mau masak apa, Papi ngikut aja," jawab Ayah mertuanya.
Sementara Gerry sedang menikmati batang nikotin di balkon kamarnya, ia sudah keluar sejak Shofia masih shalat, namun Shofia tak melihatnya, ia masih mengenakan bathrobe. Hari ini ia free tak ada jadwal kuliah, kemarin merupakan kuliah terakhir, sebelum ujian akhir semester.
Hari mulai cerah, terdengar panggilan sang istri dari dalam kamarnya. Gerry segera mematikan rokoknya yang kini tinggal sedikit, ia sudah menghabiskan hampir tiga batang nikotin sejak ia keluar dari kamar mandi tadi. Gerry memang perokok hebat, namun bibirnya tak hitam, bahkan bibir Gerry warna merah alami. Bener manis sekali, pantas saja jika ia pernah di kira gay, sebab dirinya yabg hanya berteman dengan Raffa saja, dan memang dia memiliki kulit yang putih mulus tanpa noda sama sekali.
Ketiganya kini sudah duduk di kursi, mengitari meja makan. Sarapan dengan menu sehat, sub sayur bayam dengan jagung manis dan juga ayam goreng serta sambel menjadi menu pagi ini.
Gerry menikmati sarapannya tanpa suara, bahkan dirinya belum ganti pakaian, masih memakai bathrobe. Gerry mah cuek aja. Mana peduli ia dengan ayahnya yang penasaran dengan putranya, sebab tak mengganti pakaian terlebih dahulu.