[7] Nindy Udah Punya Cowok?

1091 Words
"Ke mana aja sih lo?" protes Nindy ketika keluar dari kelas dan mendapati Galang tengah duduk santai di bangku koridor kelasnya. "Elo yang ke mana?" kini Galang yang balik bertanya. "Gue ke kantin kok nggak liat lo sih? Lo nggak makan ya? Emang lo nggak lapar apa?" Apa? Nindy setia menunggu dengan perut keroncongan, sementara si abang malah enak-enakan makan? Waaaah.. parah nih emang si Galang. Parah banget! Ingin sekali rasanya Nindy marah pada cowok yang kini berada di depannya ini. Menumpahkan semua emosi yang tersimpan dalam dirinya akan kelakuan sang kakak semata wayangnya itu. Namun ia sadar, di sini bukanlah tempat yang pas untuk melakukan itu. Kalau sampai dia marah-marah, terus teriak-teriak kayak yang biasa dia lakukan, apalagi pas jam pulang sekolah gini, mau jadi apa dia? Kalau lagi di rumah, masih mending karena cuma mereka berdua yang dengar. Nah kalau sekarang? Di sekokah? Itu sih bakalan jadi tontonan gratis, dan Nindy jelas tak menginginkan itu. "Kenapa lo? Kok diem gitu?" tanya Galang agak heran, karena tidak biasanya Nindy menjadi cewek pendiam seperti saat ini. Nindy masih tetap berusaha bersabar dan menahan seluruh emosinya. Ia berusaha sebisa mungkin agar terlihat biasa saja. "Hey... lo sakit?" tanya Galang lagi. Sebelah tangannya menyentuh kening Nindy untuk memastikan keadaan adik perempuannya itu.. "Apaan sih lo?" ujar Nindy kesal sambil menyingkirkan tangan Galang dari wajahnya. "Udah ah! Pulang yuk..." Nindy menarik paksa tangan abangnya, sehingga cowok itu bangkit berdiri dan ikut berjalan di belakangnya. Galang memang telah menuruti keinginan Nindy, tapi cowok itu tetap merasa ada yang tidak beres dengan adiknya. "Ndy, Ndy lo kenapa sih, Ndy?" Dia bertanya khawatir. Akhirnya Nindy tak bisa lagi menahan emosinya. Dan ketika posisi mereka sampai pada suatu lorong barat sekolah dengan keadaan yang cukup sepi, Nindy akhirnya meledak. "Lo mau tau gue kenapa? Gue marah sama lo! Gue kesel sama lo, tau nggak?" Itulah kalimat awal yang diucapkan Nindy. Kalimat yang tidak terlalu keras, tapi sarat akan emosi yang membara. "Lho? Marah ke gue? Emang gue salah apaan?" Galang bertanya b**o, sama sekali tak mengerti dengan kemarahan Nindy. "HEH?!! Pas jam istirahat tadi, gue tuh nungguin lo tau nggak?! Ini malah lo enak-enakan makan di kantin. Nggak ngajak gue, nggak jemput gue! Elo bener-bener nggak mikirin gue lo ya? Lupa ya, sama adek sendiri?" cecar Nindy tanpa henti. Omelannya kini semakin menjadi. Mendengar semua omelan berupa tumpahan kekesalan Nindy itu, akhirnya perlahan Galang mulai mengerti. "Oooh.. jadi tadi lo nungguin gue?" Nindy mengangguk walau dengan ogah-ogahan. Sementara bibirnya yang telah berhenti berbicara itu kini berganti menjadi cemberut habis-habisan. "Elo nungguin gue, biar kita bisa makan bareng gitu?" Nindy mengangguk lagi. "Woooow... so sweet banget ide lo! Kakak adek, makan di kantin berdua... sama-sama..." Galang mulai membayangkan dengan antusias. "KAYAK ANAK TK!" lanjutnya dengan meremehkan ide Nindy, sangat kontras dengan keantusiasannya barusan. Setelah berpura-pura antusias, kini ia mengungkapkan yang sesungguhnya ia rasakan. Cowok itu lalu tertawa, dan berlari menuju ke parkiran. Meninggalkan Nindy sendirian di belakang. Karena ia tahu, kalau dia tak segera lari, si Nindy pasti akan melakukan apa saja untuk membalas perbuatannya barusan. Mulai dari ngomel-ngomel bahkan kadang sampai pake acara nyubitin segala. Minta ampun deh pokoknya kalau punya adik model kayak Nindy gini. "Iiiiih.. Abang! Lo kok gitu sih?" rengek Nindy sambil ikut berlari mengejar sang kakak. "Eits! Tunggu, tunggu!" pinta Galang begitu Nindy telah berhasil menangkapnya dan bersiap untuk mencubitinya. "Lihat deh! Itu cowok ngeliatin lo mulu tuh!" lanjut Galang, mencoba mengalihkan perhatian adiknya agar lupa akan p**********n yang ia rencanakan. "Yang mana?" tanya Nindy celingukan, mencoba menemukan sosok yang dimaksud Galang. "Ituuu tiga cowok yang lagi duduk di atas motor!" jawab Galang sambil menunjukkan dengan arah sorotan matanya. "Yang mana sih?" tanya Nindy lagi, karena ia belum menemukan orang yang dimaksud Galang. "Yang di tengah, tuuuh.. tuh. Yang lagi lihat ke sini." Nindy mengikuti ke mana arah pandangan Galang. Dan akhirnya ia menemukan tiga cowok yang dimaksud kakaknya. Sekitar lima meter dari tempatnya berdiri, mereka bertiga sama-sama duduk di atas motornya masing-masing, kelihatan lagi ngobrol serius gitu, namun hanya satu yang tengah memandangi dirinya. Dan Nindy tahu siapa cowok itu. Cowok itu teman sekelasnya, yang sempet menawarkan kedondong waktu dia memperkenalkan diri tadi pagi. Ravel, kalau tidak salah namanya Ravel. "Oooh.. Ravel?" tanya Nindy memastikan. "Marvel," ralat Galang. "Namanya Marvel." "Ih, lo kenal?" Nindy bertanya kaget. "Nggak penting gue kenal apa nggak! Yang penting sekarang, kenapa tuh cowok ngeliatin lo mulu?" tanya Galang memasang tampang curiga di wajahnya. "Mana gue tau! Naksir kali sama gue?!" jawab Nindy ngasal. "Apa? Nggak.. nggak! Gue nggak bakalan biarin, kalo dia naksir lo," tutur Galang dengan sangat tegas. "Ya udah si, pulang yuk! Gue laper nih..." ujar Nindy. Dan ketika mengingat kembali kata lapar itu, barulah ia sadar akan satu hal. Galang telah berhasil mengalihkan perhatiannya! "Iiiiih GALANG! s****n lo! Lo nyoba ngalihin perhatian gue lo ya? Pinter banget lo!" Nindy akhirnya kembali marah lagi. Tangan kanannya kini mulai menampar-nampar lengan abangnya. "Oke, oke, sorry... sorry..." Galang mengangkat kedua tangannya, dengan gaya seakan Nindy adalah seorang polisi yang sedang menodongkan pistol ke arahnya. "Nggak! Nggak ada, nggak ada! Nggak ada maaf-maafan! Rasain nih...!!" Nindy lalu mengganti tamparannya menjadi cubitan keras yang menghujani pinggang Galang. "Gue traktir makan deh! Gimana?" usul Galang, mencoba mencari cara agar Nindy berhenti menganiaya dirinya. Nindy perlahan menghentikan cubitannya. Sepertinya cewek itu mulai tertarik tentang sesuatu yang Galang tawarkan barusan. "Sekarang?" tanya Nindy. Galang mengangguk mengiyakan. "McD?" tanya Nindy lagi dengan menyebutkan nama salah satu tempat makan favoritnya. Galang kembali mengangguk. "Boleh pesen apa aja?" "Iyaaaaaa" jawab Galang, tak lagi dengan anggukan. "Serius lo?" tanya Nindy semakin antusias. Kini rasa kesalnya perlahan mulai menghilang. "Banyak nanya lo!" tukas Galang. "Buruan deh! Mau apa nggak?" desaknya. "Mau bangeeeeet!" teriak Nindy sedikit histeris. "Huuuu, kalo gratisan aja cepeeet!" desis Galang, lalu melangkah menuju ke tempat di mana motornya diparkir. Dan untuk kesekian kalinya, ia meninggalkan Nindy di belakang. Nindy yang ketinggalan, langsung berlari mengejar sambil ketawa-tawa atas komentar abangnya. Galang yang melihat sebersit tawa di wajah adiknya, hanya tersenyum penuh pesona. Lalu dengan cepat ia memutar motor Kawasaki Ninja warna hitam miliknya, dan mereka pun pulang bersama. Sementara itu, sepasang mata milik Marvel yang dari tadi diam-diam mengawasi mereka berdua, perlahan memancarkan sinar kekecewaan. Setelah melihat adegan demi adegan yang baru saja mereka lakukan, mulai dari kejar-kejaran, pertengkaran, cubit-cubitan, sampai tertawa sama-sama, satu kesimpulan ia dapatkan. Nindy sudah punya cowok! Cewek incarannya ternyata sudah punya pacar. Ditambah lagi pacar Nindy adalah si Galang, cowok berandal dari kelas XII yang memang sudah punya nama di sekolah ini. Duh! Berat banget sih, saingan Marvel kali ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD