BAGIAN 1 - KILAS BALIK

965 Words
Selamat Membaca semuanya ..... ------------------------------------------------------------- Tatapan tajam yang di layangkan oleh seorang perempuan kepada remaja laki-laki yang memakai seragam putih abu-abu, membuat laki-laki tersebut menatap perempuan di depannya dengan cengiran khas di wajah tampannya. "Jangan natap kaya gitu dong, mi. Ngeri tau. Malah kaya lagi di liatin valak jadinya." Celetukan dari remaja laki-laki di depannya membuat perempuan itu semakin menatap tajam bak silet. "Biarin. Biar sekalian kamu di hantuin sama valak." "Mami ku yang cantik, yang sexy, yang mirip Song Hye Kyo artis India---" "Korea" potong perempuan tersebut dengan penuh penekanan dan tangan yang bersedekap di d**a. "Iya, maksudnya Korea. Jangan marah-marah lagi dong, mi. Masa di sekolah kena marah, di rumah juga kena sih. Gak like deh." Mendengar nada penuh rengekan dari remaja lelaki di depannya, membuat perempuan yang tak lain adalah Fany itu harus banyak-banyak mengelus dadanya dan kemudian tersenyum paksa menatap remaja laki-laki yang merupakan anaknya tersebut. "El, anak mami tersayang dan satu-satunya. Gimana mami gak marah-marah sama kamu. Dalam satu bulan ini mami udah enam kali di panggil ke sekolah. Menurut kamu, mami di panggil karena apa? Hm?" "Coba ya mi aku ingat-ingat lagi" pikir Elois atau El. "Ah, aku ingat. Di minggu pertama bulan ini aku ngelakuin dua kesalahan. Yang pertama, ketahuan bolos. Yang kedua, adu jotos sama si laki jamet kelas sebelah. Di minggu kedua, aku juga ngelakuin dua kesalahan. Kalau gak salah aku gak sengaja ngelempar bola basket dan kena kaca ruangan guru. Terus ketiduran di kelas. Di minggu ketiga juga sama, aku ngelakuin dua kesalahan. Kayanya kesalahan yang di minggu ketiga ini sama kaya di minggu pertama. Benar gak, mi?" Ucapan yang kelewat santai dari sang anak membuat Fany seketika naik pitam. BRAK! "ASTAGFIRULLAH! ISTIGHFAR, MI! ISTIGHFAR!" kaget El dengan mata yang melotot. Sehabis menggebrak meja tadi, Fany langsung mengelus-ngelus tangannya yang memerah. "Ish. Gara-gara kamu tangan Mami jadi sakit." "Lagian salah Mami sendiri. Ngapain gebrak-gebrak meja segala. Pakai nyalahin aku lagi" sahut El tak terima. "Kamu nyalahin, mami? Mami gebrak-gebrak meja juga gara-gara kamu, Elios Givano" lotot Fany marah. "Kok ak----" melihat jika Maminya ingin melemparkan sendal ke arahnya, membuat El langsung tersenyum manis. "Eh, iya-iya ini salah aku. Mana berani aku nyalahin Mami." "Pokoknya Mami gak mau tau ya, El. Kalau sampai bulan depan Mami di panggil ke sekolah kamu lagi, Mami gantung kepala kamu di pohon cabe." Setelah mengatakan itu, Fany langsung berjalan meninggalkan El yang melongo karena ucapannya barusan. "Bukannya pohon cabe itu cetek ya? Ini gue yang oon atau emang si Mami yang agak lain?" ***** Fany yang sudah berada di kamarnya langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya seketika melayang pada kejadian belasan tahun silam, di mana asal muasal hadirnya El di dalam kehidupannya. Flashback On. Suara musik yang begitu menggelegar begitu kencang, di tambah suara orang-orang yang bersorak di kanan kirinya, membuat Fany yang pada saat itu berada di sebuah club langsung melangkahkan kakinya ke arah segerombolan orang tersebut dan kemudian menggerakkan tubuhnya mengikuti iringan musik yang terputar di sana. Tanpa Fany sadari, ada seorang laki-laki yang sejak tadi selalu memperhatikan gerak-geriknya. Fany yang sudah hanyut dalam pengaruh alkohol itu pun tidak menyadari tatapan lelaki tersebut. Dia terus menari mengikuti irama musik yang ada di sana. Sampai pada akhirnya, perut telanjang Fany yang tak tertutupi kain itu pun di selimuti oleh sebuah tangan kekar yang melingkari perutnya dari belakang. Fany yang merasakan itu bukannya menghindar justru semakin merapatkan tubuhnya dengan lelaki tersebut. Tidak sampai di situ, Fany pun memberanikan dirinya untuk menatap wajah dari pemilik tangan kekar yang melingkari perutnya itu. "Tampan ..." Tangan Fany pun tak tinggal diam. Tangannya terangkat untuk mengelus wajah dari lelaki yang kini memeluk mesra pinggangnya tersebut. Fany bisa merasakan bulu-bulu halus yang tumbuh di area wajah lelaki itu. Fany pun menerbitkan senyumnya dan kemudian dengan cepat mendaratkan bibirnya di atas bibir lelaki tersebut. Fany tersenyum ketika merasakan jika lelaki itu terkejut karena perbuatannya. Namun, setelah beberapa saat, Fany bisa merasakan jika bibir lelaki tersebut bergerak membalas ciumannya. Ciuman tersebut pun berlangsung sangat lama. Sampai pada akhirnya, mereka melakukan perbuatan yang akhirnya menghadirkan sebuah kehidupan di dalam perut Fany. Flashback Off. Mengingat kejadian itu, ada setitik rasa bersalah di dalam hati Fany. Rasa bersalah karena membuat El harus hidup tanpa merasakan peran dari seorang ayah di dalam pertumbuhannya. Karena kenakalannya dulu, anaknya harus tumbuh tanpa ada peran seorang ayah di dalam hidupnya. "Maafin Mami, El." Mengingat El, Fany jadi mengingat wajah dari lelaki yang merupakan ayah kandung El tersebut. Wajah tampan El dan lelaki itu memang benar-benar sangat mirip. Bahkan, jika wajah keduanya di sandingkan, wajah El tersebut merupakan turunan dari ayahnya. Berbicara mengenai ayah kandung El, sebenarnya dalam hati kecil Fany ada keinginan untuk mencari lelaki itu. Tapi, mengingat dia dulu hanya seorang yatim piatu yang hanya mengandalkan sosok kakak laki-lakinya untuk menunjang semua kehidupannya, membuat Fany mengurungkan niatnya tersebut. Mendengar dirinya hamil saja sudah membuat sang kakak begitu tertekan, apalagi jika dia harus membantu dirinya untuk mencari ayah dari anaknya ini, bisa-bisa kakaknya itu akan menggantungkan dirinya sendiri di pohon beringin. Terlepas dari tidak adanya peran ayah di dalam tumbuh kembang El, Fany merasa begitu bersyukur atas kehadiran El di dalam hidupnya. Tanpa adanya El, dia tidak akan tau bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Tanpa adanya El, dia tidak akan pernah merasakan bagaimana bangun di tengah malam saat sang anak menangis karena lapar. Tanpa adanya El, mungkin saat ini dirinya terus akan hidup berdua bersama sang kakak. Tanpa adanya El, dia tidak akan tau rasanya bagaimana mendapat panggilan dari sekolah karena kenakalan sang anak. Dan tanpa adanya El, mungkin sampai saat ini dia akan terus menjadi anak yang manja dan juga nakal. Berkat adanya El, kehidupan Fany yang dulunya abu-abu seketika berubah menjadi begitu berwarna. Meskipun setiap kali dirinya harus mendapatkan panggilan dari pihak sekolah, tak masalah. Asalkan El tetap bersama dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD