Ara memijat pelipisnya. Akhir-akhir ini ia mudah lelah dan tidak nafsu makan. "Lo pucet banget, Ra," kata Santy cemas. Saat ini ia sedang berkunjung ke rumah Ara, istri sahabat suaminya. Mereka mulai bersahabat sejak di mana ia dilamar suaminya itu. Ara tersenyum tipis. "Oh yah, Ardo udah tau?" Santy mengangguk dengan semangat. "Udah, dia keliatan senang banget." "Gue turut senang dengarnya." "Thanks, Ra, semoga lo cepat nyusul yah." "Amiin," kata Ara lirih. Apakah ia boleh iri saat ini? Telah tiga bulan ia menikah, tapi hasilnya belum juga positif. Bahkan Santy telah berisi, padahal yang menikah lebih dahulu adalah dirinya. Santy menikah dua minggu setelah pernikahannya. Ara menggeleng, mengusir rasa itu. Ia yakin Tuhan pasti punya rencana lain. "Oh, iya, gue lupa belum sediain lo m

