Paginya. Setelah kejadian kemarin malam, April masih merasa malu bukan main. Hanya sekadar bertemu dengan Sean saja sampai tidak berani. Rasanya dia ingin menenggelamkan kepalanya sendiri ke dalam kloset, atau kalau tidak, ya, menggali kubangan tanah dan mengubur dirinya sendiri ke dalamnya. Mana bisa dia bersikap biasa saja setelah kejadian kemarin malam itu? “Pagi, Bebeb Sayang. Mau berangkat kerja, ya? Gimana kalau Mas Sean ganteng aja yang anterin?” sapa Sean ketika April baru menginjakkan kakinya di depan kamar. Tuh, kan. Dibegitukan saja jantungnya sudah dag-dig-dug. Memang wanita mana yang tidak bersemu ketika digoda seperti itu. Apalagi tadi Sean berkata 'Mas'. Seperti mereka sudah menjadi pasangan suami istri saja. “Bab Beb Bab Beb, Ndasmu,” gerutu April sambil memanyunkan bi

