Hal. 2 Teresa Oriel (Prosthetic Foot)

2273 Words

Halaman 2 

.

.

.

Usianya menginjak satu tahun hari ini, tidak ada hadiah menarik untuknya. Tidak ada pesta malam itu, Teresa yang awalnya mengira bahwa ibu dan sang ayah mengajak jalan-jalan di hari ulang tahun pertamanya. Pergi ke tempat yang menarik mungkin-

Dia hanya menatap jendela, manik hazel keemasannya berbinar, lampu-lampu di jalan mulai hidup, bibirnya tak berhenti tersenyum. “Buyan! Buyan!” Bibirnya masih kesusahan berbicara dengan benar. Menunjuk ke atas saat melihat bulan nampak samar di langit.

Pandangannya menoleh, menatap ibu dan ayahnya lagi. Berharap kalau suaranya terdengar, dan mereka merespon. Tapi ternyata tidak, kedua orangtuanya nampak sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Teresa reflek menundukkan wajah, diam dan memilih bermain dengan jemari mungilnya. Kenapa sikap ayah dan sang ibu masih sama seperti dulu?

“Wah, bulannya indah sekali, Non!” Tidak menyangka bahwa Bibi Amari yang turut ikut duduk di sampingnya, menatap keluar dan mendekati Teresa. Memeluk tubuh mungil itu, dan mengusap kepalanya lembut.

Teresa yang tadinya murung berubah antusias kembali dalam sekejap, menatap keluar lagi, masih berada dalam pelukan sang Bibi, “Cuka! Buyan!” Maniknya berbinar, senyum gadis kecil itu manis mengembang.

Bibi Amari tersenyum, mengecup puncak kepala Teresa, “Bulan itu mirip seperti Non Teresa, sangat cantik. Walaupun dia tidak bisa mengeluarkan sinarnya sendiri,” Saat wajah manis Teresa berbalik, menatap sang Bibi dengan pandangan polos.

Wanita paruh baya itu mencubit salah satu pipi Teresa, “Tapi rupa-nya tidak jauh lebih cantik dari matahari. Dia melindungi kita saat malam dari panasnya sinar matahari, memberikan kita waktu untuk menikmati malam. Seperti apapun bentuknya mau bulat, setengah ataupun berbentuk sabit sekalipun, dia tetap indah.”

Maniknya mengerjap, Teresa masih tidak mengerti, tapi dia merasakan bagaimana suara lembut itu membuat hatinya hangat. Senyuman sang Bibi menaikkan semangatnya, “Um! Tele---cayang, Bibi!”  teriak Teresa dan memeluk wanita itu.

“Bulan, kau bilang?” Bibi Amari merasa tidak enak saat mendengar suara sang Tuan menyahut semua perkataanya tadi. Kedua tangannya bergerak pelan, dengan sembunyi-sembunyi menutupi telinga Teresa.

“Bibi?” Manik bulat Teresa menatap sang Bibi tak paham.

“Jangan bercanda, kau menyamakan dia dengan bulan? Pintar sekali kau merangkai kata, Bibi? Darimana kau mendapat kalimat itu, hm?” Sosok Tuannya mendengus dan tertawa mengejek. Bisa Ia lihat dari kaca kecil di depan mobil, kedua maniknya melirik takut-

“Bulan tetaplah Bulan, sampai kapanpun dia tidak akan bisa bersinar seterang matahari, atau bahkan menjadi matahari itu sendiri. Menjangkaunya pun tidak sanggup. Mereka berbeda!” Tertawa sarkas.

Bibi Amari masih mempertahankan senyumnya, menatap wajah polos Teresa, manik dengan berbentuk tajam bak mata kucing, sangat cantik. Mengerjap tak mengerti,

Kali ini disambut dengan tawa Sofia, “Jangan coba-coba menyamakan Rasi dengannya, Bibi. Mereka berbeda.” Wanita itu mendengus, memainkan handphonenya, dan melihat foto Rasi di dalam sana.

“Rasi membawa keberuntungan bagi kami, sedangkan dia?” Memutar kedua maniknya bosan, “Teresa hanya menjadi aib yang harus kami tutup rapat,” lanjut Sofia sarkas.

“Nyonya, tolong jangan berkata seperti itu! Di sini ada, Non Teresa!” ujar Bibi sekecil mungkin agar Teresa tidak melihat keanehan dalam raut wajahnya.

Saat sosok cantik itu perlahan bergerak dan membalikkan tubuhnya menatap mereka berdua, masih dengan senyuman tipisnya, “Kami memang tidak ingin dia menjadi aib lebih lama. Tenang saja, Bibi.”

Manik Bibi Amari membulat, mulai merasakan keanehan dalam kata-kata sang Nyonya. Pandangannya menoleh cepat ke luar mobil, melihat plat besar rumah sakit menunggu mereka. Mobil yang dikendarai oleh Tuannya masuk dengan cepat ke dalam area Rumah Sakit.

Keringat wanita paruh baya itu mengucur, merasa ketakutan, “Nyo-nyonya, kenapa kita ke sini?” Bertanya takut, reflek memeluk tubuh Teresa. Wajahnya pucat pasi.

Baik Sofia ataupun Mark tertawa kompak, saling memandang satu sama lain. “Aib itu harus dihilangkan, Bibi. Ada banyak sekali cara untuk menghilangkannya, yah meskipun tidak sepenuhnya sempurna. Kita harus mencoba kan?”

Tidak ada piknik, ataupun restaurant mewah, tidak mainan, atau taman yang indah. Teresa mengira bahwa satu hari saja kedua orangtuanya mau menghabiskan waktu bersamanya.

Apa yang menunggu Teresa selanjutnya justru sebuah bangunan dengan tulisan cukup besar. Rumah Sakit Mutiara. Menerima pemasangan kaki palsu untuk anak-anak.

.

.

.

Mereka memiliki kekayaan yang melimpah, uang, harta, perusahaan berkembang pesat. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka, uang bukan menjadi masalah. Demi menutupi satu aib keluarga yang cukup mengganjal selama ini.

Mereka sebagai orang tua rela menjual hati nurani bahkan kewarasan untuk menutup hal itu. Seperti saat ini, manik Teresa menatap polos gedung tinggi di depannya. Tidak bisa membaca kata-kata yang terpampang di sana. Tapi satu hal yang membuatnya senang.

“Buuu!” Senyuman Teresa mengembang saat salah satu tangannya digenggam lembut oleh sang ibu. Wanita itu berjalan di sampingnya, menatap dengan senyuman tipis. Sementara dia menengadah, memperhatikan juga sang ayah yang ikut berjalan di dekatnya. Hatinya senang luar biasa!

“Ayah!”

Tidak menjawab panggilannya, mereka berdua hanya tersenyum tipis. Membawanya masuk ke dalam gedung, Teresa reflek menoleh ke belakang, memastikan bahwa sang Bibi ikut bersamanya.

“Bibi, cini!” Wanita itu seolah berjalan dengan berat hati, manik hazel Teresa mengerjap tak paham. Saat melihat wajah Bibi Amari nampak kacau, tanpa senyuman, menahan sesuatu tapi tidak bisa dia katakan.

Bibi kenapa? Itu satu hal yang terbesit di pikirannya-

Apa yang Teresa harapkan sama sekali tidak terkabul. Mendapatkan obat bius untuk menenangkannya, Teresa terpaksa menghabiskan waktu ulang tahunnya di rumah sakit, dia sendiri tidak tahu ada apa? Tapi satu yang pasti-

Ayah dan sang ibu tidak menemaninya malam itu-

.

.  

.

“Huaa!! Huaa!!! Takit!! Takit!!” Meronta, dan meraung dalam tangisannya. Teresa benar-benar tidak mengerti, apa yang terjadi saat dirinya bangun dari tidur di pagi hari. Kakinya terasa sakit. Sangat sakit, air matanya merebak jatuh membasahi pipi, kedua manik itu membengkak perlahan.

“Huaaa!! Takittt!!! Kaki Tele Takit!!” teriak Teresa dengan suara cadelnya, bangun dalam kondisi sendiri di dalam ruangan, saat kedua maniknya terbuka. Teresa merasakan sesuatu yang aneh menusuk-nusuk bagian kaki kanannya. Meski tidak begitu sakit, tapi efeknya cukup mengagetkan gadis kecil itu.

Alhasil, Teresa mengeluarkan tantrum begitu saja. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, kedua manik Hazel itu membulat kaget, “Hiii!!” Menjerit takut saat melihat sesuatu yang aneh menempel di kakinya.

“Huaaa!!! Buuuu!!! Yahhh!!!” Berteriak tidak menentu, tangisan kecilnya mampu mengagetkan Bibi Amari yang tadi tengah membeli beberapa roti kecil untuk sarapan. Tangisan Teresa membuat Ia takut.

Berlari cepat, dan membuka pintu, “Non Teresa!” Shock melihat kondisi Nona-nya, selimut yang berantakan, tubuh mungil itu mencoba untuk bangkit, wajah Teresa nampak ketakutan, pucat pasi, tubuhnya gemetar.

“Bibi!! Huaaa!!! Takitt!! Kaki!! Takitt!!” teriak gadis itu lagi, tangan mungil Teresa bergerak memukul-mukul kakinya yang sakit, berusaha menyingkirkan benda aneh itu. Air matanya terus mengalir deras, kenapa sakit sekali?! Rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum!!

“Jangan!” Bibi Amari berlari, menjatuhkan barang belanjaannya begitu saja. Menghampiri Teresa, dan ikut menangis. “Maaf, Non. Maafin, Bibi.” Dengan suara terisak, memeluk tubuh mungil Teresa. Menghentikan gerakan tangan Nona kecilnya,

“Ayah!! Ibu!” Memangil kedua orangtuanya berulang kali, Teresa memberontak. Dia ingin ditenangkan oleh mereka berdua! Teresa ingin dipeluk ayah dan ibunya!

Bibi Amari masih menangis, bahkan semakin keras. Memeluk tubuh Teresa, mengusap puncak kepalanya lembut.  

“Bibi! Ayah---ibu, mana?!” tanya Teresa dengan terbata, sang Bibi sama sekali tidak memberikan jawaban. Tangisan Teresa makin merebak jatuh membasahi pakaian wanita itu.

Seolah merasakan sendiri besi-besi yang menancap di kaki mungil Teresa. Menyatu dengan kaki kanannya, kedua orang itu rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk memberikan pengobatan sempurna bagi putrinya. Meskipun harus melanggar aturan rumah sakit sekalipun!

Usia Teresa yang baru saja menginjak satu tahun, ada aturan yang melarang mereka untuk melakukan operasi penanaman kaki palsu bagi anak sekecil, Teresa. Akan banyak resikonya, Teresa bahkan belum siap merasakan sakit yang perlahan akan kembali saat efek obat bius hasil operasi itu menghilang.

Jika salah, rasa sakit itu mampu membuat Teresa merasakan depresi, shock bahkan bisa membuat mentalnya hancur. Sangat tidak disarankan-

Tapi kembali lagi pada uang dan harga diri-

Apapun bisa dibeli saat ini, bahkan kesehatan sendiri. Demi memenuhi keinginan dan keegoisan mereka berdua. Melepas tanggung jawab sebagai orangtua, menggunakan segala cara untuk menaikkan harga diri di mata masyarakat.

“Takit!! Kaki-ku, takit cekali!! Pelih!! Huaaa!!”

“Maafin Bibi, Non. Maaf, Nyonya dan Tuan tidak bisa datang hari ini,” Menangis terisak, dadanya sesak saat mengatakan kalimat itu. “Maaf,” Merasa sangat bersalah karena kemarin dia tidak bisa menghentikan keinginan kedua orang Teresa.

Baik Sofia ataupun Mark, bahkan tidak berniat menunggu lebih lama. Tepat saat Teresa mendapatkan ruangan kelas VIP. Tanpa menjawab pertanyaan gadis mungil itu, kenapa dia bisa ada di sana.

Membiarkan beberapa dokter menyuntik Teresa dengan obat bius, membuat gadis kecil itu tertidur dengan paksa. Menjalani operasi yang seharusnya tidak cocok untuk usianya yang masih belia.

Bibi Amari hanya bisa menangis, memohon agar mereka berdua mau menarik keinginan untuk operasi tersebut. Namun tentu saja ditolak dengan mentah-mentah.

Keduanya pergi sesaat setelah Teresa jatuh tertidur, tanpa memberikan ucapan selamat malam atau kecupan kecil. Meninggalkan tubuh mungil yang terbaring tak berdaya,

“Maafin, Bibi. Bibi tidak bisa mencegah mereka melukai, Non Teresa,” Menahan sesak di dadanya,

“Ibu!! Ayah!!” Meringsek dan menjauh dari pelukan Bibinya, hari pertamanya merasakan sakit yang luar biasa. Teresa ingin kedua orangtuanya ada di sini sekarang!

Dimana mereka!

Mungkin—jika mungkin dengan adanya kaki palsu ini hidupnya bisa berubah walaupun sedikit saja. Teresa sangat berharap-

“Selamat ulang tahun, Non Teresa.” Hanya ucapan itu saja yang terdengar dari bibir Bibi, sebelum akhirnya kesadaran Teresa perlahan mulai hilang lagi. Pingsan karena terlalu shock dan takut. Trauma pertamanya.

.

.

.

Tidak hanya satu hari berada di rumah sakit. Terasa menghabiskan hampir satu minggu di sana. Mengembalikan system sarafnya agar berfungsi sempurna, rasa sakit yang Ia rasakan perlahan menghilang.

Sesaat setelah Teresa mendapatkan kaki palsunya, dia hanya bisa beristirahat selama beberapa jam saja. Karena untuk selanjutnya dia harus menjalani berbagai macam perawatan agar bisa terbiasa dengan kaki barunya.

.

.

Di tempat lain-

“Kak Tele, mana?” Manik bulat Rasi tengah mencari keberadaan kakaknya. Menggunakan pakaian dress berwarna pink, lengkap dengan ikatan rambut bentuk jantung kesukaannya. Bangun tanpa kehadiran kakaknya selama beberapa hari, Rasi tentu saja penasaran-

Apalagi setelah kemarin ayah dan ibunya tidak bisa pergi bersama untuk merayakan ulang tahun. Mereka justru pergi bersama sang kakak, tanpa mengajaknya sama sekali. Setelah berulang kali mendapatkan rayuan dan kedua orangtuanya baru-lah kemarahan Rasi mereda.

“Ibu, Ayah!” Kakinya yang sudah bisa berjalan pelan kembali berbalik menuju kamar orangtuanya. Mendapati kedua orang itu tengah bersiap-siap untuk acara hari ini. Sang ibu yang masih sigap merapikan dasi ayahnya.

Penampilan mereka sangat berbeda, dibandingkan saat pergi dengan Teresa. Mereka cenderung menggunakan pakaian seadanya, Sofia tanpa make-up dan Mark hanya menggunakan kaos hitam.

Sekarang, wanita itu berdandan lengkap dengan aksesoris di telinga, leher dan pergelangan tangan. Menggunakan dress berwarna coklat muda, rambut yang tertata rapi, sedangkan Mark menggunakan setelan kaos berwarna biru dan jas hitam lengkap dengan dasi dan rambut yang sengaja ditata ke belakang.

“Tunggu sebentar sayang, Ibu masih sibuk merapikan dasi Ayahmu,” Terkekeh geli menatap suaminya. Rasi berjalan menghampiri kedua orangtuanya.

“Kak Tele—mana, Buu?” tanya Rasi sembari mengerjapkan maniknya polos.

Tubuh kedua orang itu menegang sesaat, mendengar nama Teresa dari bibir Rasi. Mark yang pertama kali berhasil menguasai ekspresi wajah. Memberikan kode pada istrinya, Sofia mengangguk paham. Menjauhkan diri dan berjalan menuju meja rias untuk memastikan make upnya kembali.

Membiarkan Mark mengurus rasa penasaran putri bungsu mereka. Laki-laki tegap itu bergerak menggendong tubuh mungil Rasi dengan cepat. Masih memasang senyuman-

“Kak Teresa, sedang jalan-jalan dengan Bibi Amari, sekarang giliran kita bertiga jalan-jalan juga,” Mencuil hidung kecil putrinya.

Rasi terkekeh geli, manik bulat kecoklatannya mengerjap beberapa kali. Mencerna setiap perkataan Ayahnya, “Pelgi? Dengan Bibi Amali?” Gadis kecil itu merengut tak suka. Bibirnya maju satu centi.

“Kenapa? Rasi, tidak suka pergi dengan Ibu dan Ayah?” Mark sengaja memasang wajah sedih, mengira bahwa Rasi tidak ingin pergi bersama mereka. Raut wajah Rasi berubah cepat, menggeleng kecil dan menepuk pipi ayahnya.

“Laci cuka pelgi baleng!” Tersenyum mentap laki-laki itu.

Di saat mereka bertiga pergi merayakan hari ulang tahun Rasi dan Teresa yang datang bersamaan. Hanya ada Rasi di sana, dengan balutan dress manis dan senyuman terpasang di wajahnya.

Mereka tertawa, menikmati acara makan bersama tanpa sekalipun menyebut nama Teresa. Beberapa hari yang menenangkan, mereka bahkan tidak perlu repot-repot menyembunyikan gadis itu.

Sosok yang membawa aib bagi keluarga mereka.

Sementara di tempat lain-

Suara tangisan Teresa menggema, berkali-kali jatuh saat mencoba untuk bangkit dan terbiasa dengan kaki palsunya. Gadis kecil itu meraung saat merasakan sakit, besi-besi itu seolah menusuk kakinya. Menghantarkan rasa perih yang membuat kepalanya pusing, bahkan mental Teresa terganggu.

Kesakitan dan rasa takut itu terus menerus datang, kehadiran sang Bibi di sampingnya tidak cukup membuat Teresa tenang. Berhari-hari menjalani pengobatan, tidak sekalipun Teresa melihat kedatangan ayah atau ibunya.

Melihat atau bahkan sekedar menanyakan keadaannya.

“Huaaa!! Tele, mau pelgi dari cini!” Suara cadel itu meraung, tepat saat tubuh kecilnya lagi-lagi jatuh. Dia tidak mau diam di sini lebih lama lagi.

Saat maniknya melihat suster penjaga tengah sibuk dengan catatan yang Ia pegang, melirik lagi kearah pintu masuk. Kali ini tidak ada yang melihat gerak-geriknya, Bibi Amari tengah duduk tak jauh dari posisinya.

Wanita itu terlihat kelelahan karena menjaga Teresa sepanjang malam, menenangkan gadis kecilnya agar tidak menangis.

Satu hal yang terbesit dalam pikiran Teresa sekarang, dia hanya ingin pergi dari sini! Pergi mencari ibu dan ayahnya! Menggunakan segenap kekuatan, mencoba bangkit kembali. Menahan rasa perih di kakinya.

“Ugh—tatit, ibu, ayah,” Menangis, dengan hati-hati kakinya berjalan menuju pintu keluar. Tepat saat tubuhnya hampir menggapai pintu tersebut. Rasa tidak sabarnya semakin datang, memacu gerakannya agar lebih cepat.

Teresa reflek berlari, kedua tangan mungilnya terulur pada pintu, antara sadar dan tidak dengan kaki palsu yang Ia gunakan sekarang-

Tepat saat tubuhnya hampir mencapai pintu, saraf dan otot kaki kanannya seolah tidak bisa menopang gerakannya yang tiba-tiba. Mendadak lemas, lutut Teresa tertekuk, tubuhnya jatuh tanpa bisa Ia kendalikan lagi.

Wajahnya membentur lantai dengan keras, suara debuman kecil dan dentingan besi kaki palsunya reflek menyadarkan semua orang di sana. Termasuk Bibi Amari yang tadinya tertidur.

“Astaga!! Non Teresa!!” Wanita itu kaget, tubuhnya berdiri cepat, berlari menghampiri tubuh Teresa. Begitu juga dengan suster tak jauh dari posisinya. Teresa jatuh cukup keras, saat wajah kecil itu berusaha menengadah, menatap sang Bibi yang perlahan membangunkan tubuhnya.

“Suster tolong ambilkan tisu! Cepat!” Wajah Bibi Amari pucat pasi, melihat tetesan darah perlahan keluar dari hidung Teresa, jidat sang gadis kecil memerah karena benturan tadi.

Perlahan merasakan perih yang lama-lama makin menyiksa. Barulah Teresa sadar. Bibirnya merengut, darah dari hidungnya tercium amis. Membuatnya pusing,

Detik berikutnya tangisan Teresa kembali menggema.


Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD