Chapter 1

1026 Words

"Bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum pertumpahan darah di mulai, Bluemoon Pack menempati salah satu kawasan Arizona. Tidak ada perkelahian antar pack, semuanya hidup sejahtera. Namun sejak para manusia mulai menginvasi hutan untuk dijadikan kawasan industri, populasi mereka terancam, bahkan tak sedikit dari mereka tewas oleh peluru perak karena dianggap membahayakan.


"Sebagai seorang Alpha, Russell memimpin packnya untuk bermigrasi mencari wilayah pack baru. Bermil-mil mereka tempuh hingga sampai di pedalaman hutan Kanada. Di sanalah, Russell menemukan mate-nya. Perempuan berambut coklat, dengan mata biru secerah lautan yang ternyata anak seorang Beta dari Silvermoon Pack. Mereka menikah tak lama setelahnya, dan hidup berbahagia. Russell mulai membangun kembali packnya, menaklukan pack-pack kecil dan menjadikannya wilayahnya. Namun ternyata ada satu pack yang tidak senang akan hal itu. Redmoon pack tidak ingin didominasi oleh pack pendatang, karena itu mereka berusaha menaklukannya

 

"Namun, ternyata Bluemoon Pack begitu kuat hingga mereka tak bisa dengan mudah mengalahkannya. Pertempuran itu tak pernah berakhir, mungkin sampai sekarang."

 

Ela menganggukkan kepalanya berulang-ulang, mendengarkan lagi kisah yang sudah ribuan kali di ceritakan oleh Bibinya. Entah apa maksud dan tujuannya? Tiap kali Ela bertanya, Bibinya pasti akan selalu menjawab belum saatnya ia tahu. Ia memang hanya tinggal bersama Paman dan bibinya sejak lahir. Bibi Lisa berkata bahwa ibunya telah meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayahnya? Ela tidak tahu. Bibi Lisa hanya menatapnya sendu tiap kali Ela mulai bertanya.

 

"Baiklah, Bibi, Ela harus berangkat. Paman Geoffrey bisa memarahiku nanti."

 

Bibi Lisa mengangguk, "Hati-hati!"

 

"Iya."

 

Ela mengambil tasnya dan bergegas pergi, hari ini ia harus membantu Paman Geoffrey untuk mengecek persediaan obat apa saja yang harus ditambah. Kalau tidak salah, kemarin Paman Geoffrey juga memintanya untuk membantu mencari Kirinyuh di hutan. Karena akhir-akhir ini banyak Rogue yang sering berkeliaran di sekitar wilayah pack, membuat beberapa warga yang tak hati-hati terluka karenanya.

 

"Ela!" Suara panggilan itu membuat Ela menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik menatap seorang laki-laki yang tengah berlari ke arahnya.

 

"Kau mau ke Rumah Sakit Pack, kan?" Tanyanya dengan senyuman manis seperti biasa, membuat Ela langsung menganggukkan kepalanya tanpa sadar.

 

"Baiklah, ayo pergi! Kebetulan aku juga akan ke sana. Ada yang harus kutanyakan pada Paman Geo," jelasnya tanpa diminta. Lelaki itu lalu menggenggam tangan Ela dan mulai berjalan berdampingan.

 

"Bagaimana dengan latihanmu kemarin, Nicho?" tanya Ela sambil memperhatikan raut wajah Nicho yang berubah antusias.

 

"Sungguh melelahkan, Ela. Aku bahkan masih bisa merasakan nyeri di tulangku. Damien benar-benar ingin membunuhku kemarin. Menyebalkan."

 

Ela tertawa, menatap bagaimana raut kesal tercetak di wajah Nicho. 

Nicho pikir, ia bisa melakukan apapun untuk bisa membuat perempuan itu tertawa seperti ini. Senyumnya mengembang, senyum yang selama ini selalu bisa membuat para shewolf yang belum menemukan mate-nya tertarik kagum kepadanya. Dulu sekali, Nicho pernah berharap Ela adalah mate-nya, namun ternyata Moon Goddes tidak menakdirkan seperti itu. Nicho mengacak pelan rambut coklat panjang Ela. "Kau menertawakanku!" serunya.

 

"Ish, Nicho sudah kubilang berapa kali untuk jangan mengacak-acak rambutku." Perempuan itu mencebikkan bibirnya tak terima.

 

Nicho hanya mengedikkan bahunya sambil melangkah mendahului Ela. "Cepatlah! Kau lambat sekali." Ela menggeram tertahan tak terima, lalu berlari menyusul lelaki itu. 

 

Rumah Sakit Pack sudah terlihat di depan mata, Nicho langsung melangkahkan kakinya ke ruangan pribadi Paman Geoffrey. Di belakangnya Ela masih mengekori dalam diam.

 

 

Tok tok tok....

 

"Masuk,"

 

Pria berkaca mata itu mendongak dari buku yang dibacanya. Kemudian tersenyum lega. "Akhirnya, sarapanku tiba."

 

Ela meringis sambil menyerahkan bekal makanan dari dalam tasnya. Sebenarnya, ini sudah lewat jam sarapan. Memang siapa yang mau sarapan di jam sepuluh?

 

"Paman Geo, kau tidak mau menyapaku?"

 

Pria berbingkai hitam itu menoleh sambil menelan makanannya. "Oh halo, Nicho. Apa kabar? Bagaimana latihanmu kemarin?"

 

Nicho mendengus kesal, "Kenapa semua orang menanyakan latihanku?"

 

Geoffrey menggelengkan kepalanya heran pada calon Beta yang satu ini. Kepalanya kemudian berpindah pada Ela yang tengah menyusuri buku-buku di raknya dengan serius. 

"Ela, kemarin kau berkata ingin membantuku mencari Kirinyuh kan?" tanyanya.

 

"Iya, Paman."

 

"Nicho, temani Ela mencari Kirinyuh! Akhir-akhir ini banyak Rogue yang berkeliaran."

 

Nicho mengangguk, "Baiklah, tapi nanti aku akan kemari lagi. Ada hal yang benar-benar ingin kubicaran denganmu," ujarnya serius.

 

"Ya ya terserah."

 

***

 

Nicho menatap Ela yang memetik Kirinyuh dengan telaten. Senyumnya mengembang, "Ini untuk apa?"

 

Ela menoleh, "Luka."

 

Dahi Nicho mengernyit. Untuk apa werewolf membutuhkan ini? Mereka bahkan bisa beregenerasi dengan cepat tanpa dibantu semak belukar ini. Tanpa bicara lagi, Nicho mulai ikut membantu Ela memetik tanaman itu.

 

Keduanya memetik dalam diam, hingga Ela mencium aroma lain di sekitarnya. Aroma itu terasa tipis dan semakin lama semakin jelas di hidungnya. Dadanya bergemuruh kencang, aroma Woody dan Citrus itu memenuhi seluruh penciumannya, membuat kepalanya tanpa sadar celingukan mencari darimana asal aroma itu.

 

"Kau kenapa, Ela?" Tanya Nicho melihat Ela yang kebingungan.

 

"A aku––"

 

Gggrrrr

 

Nicho memicingkan matanya. Dengan refleks tangannya menarik Ela untuk bersembunyi di balik punggungnya. Mata abu-abunya semakin berkilat tajam ketika suara derap kaki yang mendekat itu makin terdengar jelas.

 

Ela menyentuh lengan lelaki itu dengan lembut, berusaha menenangkannya. "Nicho, aku––"

 

Gggrrrr

 

Dan seekor serigala abu-abu tiba-tiba meloncat dari balik semak-semak, berdiri di depan mereka. Serigala itu menggeram marah.

 

'Mate,'

 

Dengan cepat, Nicho merubah dirinya menjadi serigala. Menantang serigala yang jauh lebih besar darinya itu. Serigala abu-abu bermata emas itu melompat menerkam Will—serigala milik Nicho—, membuat Will mengarahkan cakar runcingnya ke punggung serigala besar itu.

 

Ela menatap semuanya dengan khawatir, bagaimana menghentikan mereka? Dirinya bahkan belum bisa berganti shift dengan Lillie, wolfnya.

 

Mata biru Ela membesar ketika serigala besar itu hendak mengarahkan kuku tajamnya ke arah d**a Will.

 

"BERHENTI, DIA TEMANKU!!" Ela langsung berlari melindungi Will sebelum kuku-kuku tajam itu menyentuh dadanya.

 

Serigala besar itu menggeram marah, Ela berbalik menatapnya. "Maaf," ujarnya, tapi serigala itu masih tetap menggeram tak senang.

 

Will bangkit, menggeram pada serigala di depannya.

 

"Tenanglah, Will, dia mateku."

 

Ela mendekat, mengusap bulu halus serigala di depannya itu yang ternyata tidak ditolak. Serigala itu mendekat, menjulurkan lidahnya ke arah pipi Ela, menjilatinya berulang kali.

 

Tak lama kemudian, sekumpulan werewolf lain datang, yang Ela duga berasal dari Pack milik mate-nya.

 

Serigala itu lalu melangkah ke balik pohon besar untuk berganti pakaian berbeda dengan Nicho yang masih dalam wujud serigalanya.

 

Tak lama, Ela bisa melihat wajah adonis itu mendekat ke arahnya, kemudian merengkuhnya dengan erat, membuat aroma Woody dan Citrus itu kembali menguasai penciumannya.

 

"Mine."

 

TBC

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd