Bab 13 : PPERGI ATAU TIDAK YA?

1043 Words
Venya berdiri di depan kosan yang dikatakan oleh Gemma. Dia memang belum memutuskan untuk pindah atau tidak. Hanya saja, Venya penasaran dengan kosan yang dikatakan oleh Gemma, dia benar - benar ingin merasakan bagaimana vibes tempat itu dan bagaimana rasanya jika ia tinggal di sana. Bukan untuk waktu yang sebentar tentu saja. Mungkin akan lama dan mungkin tidak akan kembali lagi ke panti asuhan. Venya belum berdikir sejauh itu. Dia hanya berfikir untuk sekarang dirinya perlu privasi dan perlu menjaga perasaan bunda Kori. Makannya, dia berfikir keras dan berfikir lebih lanjut untuk hal ini. "Masuk, Ven." Kata Gemma ketika dia sudah membuka tempat tinggal sementara yang di sebutnya kosan itu. Yang diajak mengangguk kecil kemudian ikut melangkah masuk ke kamar. Iya. Langsung masuk ke kamar. Ada sebuah ranjang di sudut kiri pintu, kemudian kamar mandi sejajar dengan pintu kosan dan dapur kecil yang cukup untuk memasak masakan sederhana ala anak kos. Kemudian ada beberapa hiasan dinding yang digunakan untuk menyimpan beberapa alat dan beberapa keperluan yang di perlukan anak kosan seperti biasa. "Gimana menurut lo?" Tamya Gemma ketika Venya duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Satu - satunya kursi di sana.. Venya mengangguk lagi, "lumayan. Kalo jadi, guebtinggal beli meja buat meja kerja gue kali ya." Kata Venya melihat ada space kosong yang bahkan tidak digunakan sebagai apa - apa oleh Gemma pada awalnya. Gemma kini yang mengeluarkan gesture menganguk. "Kalo gue sih dulu belajar atau ngerjain tugas langsungbdi kasur sambil rebahan." Kata Gemma di selingi kekehan, ""kalo lo mungkin ga bisa begitu ya?" Tanya Gemma kemudian. "Iya," sahut Venya pelan, "gue kalo nulis di kasur yang ada jadi rebahan mulu. Idenya kagak ngalir. Kalo duduk kan enak tuh fipaksa mikir dan di paksa buat selalu bangun." Ucap Venya lagu. "Iya, yang ada bukannya nulis malah molor." Kata Gemma lagi bercanda. Venya terkekeh, "gue bukan elu." Katanya. Gemma tertawa kecil kemudian duduk di sisi ranjang di samping tempat duduk yang sedang Venya gunakan. Gemma membenarkan dalam hati bahwa dirinya memang begitu. Memangbtertidur jika mengerjakan tugas ata sekedar rebahan sebentar di atas kasur. Intinya, Gemma jika bertemu kasur tidak mungkin untuk tidak tidur. Mana tidur Gemma adalah tidur yang panjang. Dia mungkin tidak akan bangun jika tidak dibangunkan. Kebanyakan waktu Gemma memang tidur. Tapi, dia sekaang sudah mengurangi hal itu. Dia menghindari kasur di siang hari dan pada malam hari juga dia ada di kasur sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam agar langsung tertidur. Begitulah yang Venya tangkap dari sikap Gemma yang bahkan Venya ketahui hanya darii chatting atau telpon. Sebatas itu. Venya tidak pernah melihat secara langsung kegiatan - kegiatan yang Gemma lakukan selain bersamanya. Namun, jika bersamanya, tentu saja Gemma sangat baik dan tidak pernah melakukan hal yang buruk. Selain sedikit mengomel jika Venya terlalu lama meninggalkannya di mobil atau sekedar berkeliling di book store di sebuah mall. Tentu saja, menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan jika perlu diketahui lebih lanjut. Lima menit seakan seabad. Bahkan jika harus menunggu lebih lama, kemungkinan Gemma yang tadi berniat menunggu di mobil smapai Venya selesai akan turun dari mobil dan mencari Venya yang sudah sampai di mobil Gemma pada sata yang bersaman. Gemma mungkin melewatkan Venya ketika berajalan masuk ke book store. "Jadi, lo udah mutusin?" Tanya Gemma ketika Venya hanya diam setelah tertawa tadi. Venya diam, kemudian dia menggeleng lemas, "belum" katanya, "gue masih dilema. Kalau gue keluar dari panti, apa gue bakal bisa menghadali dunia luar yang katanya jahatt dan tidak akan ada baiknya untuk remaja seperti gue?" "Emang lo kenapa?" Tanya Gemma. "Kenapa, apa?" Venya ternyata tidak menyadari bahwa dia bergumam ketika menyebutkan bahwa dunianininjahat dan tidak ada baik buat dirinya sendiri. Lantas Venya tersenyum kecil karena malu ketahuan bahwa dirinya sedikit takit untuk keluar dari panti, "gapapa." Kata Venya lagi setelah kalimat tanyanya tidak diperdulikan lagi oleh Gemma. "Pikirin dulu aja lagi yang bener, Ven." Ucap Gemma, "gue bakal bantu dan dukung keputusan apapun yang lo ambil." Lanjut Gemma. Venya tersenyum ke arah Gemma. Dapatkah dikatakan sekarang bawah Venya snagat beruntung menjadi kekasih Gemma? Dia benwr - benae beruntung. gemma selalu mendukung apaoun keinginan Venya. Dia hanya menolak ketika keputusan Venya tidak beralasan atau naantinya akan membahayakan dirinya sendiri. Gemma mungkin akan menjadi seperti itu untuk sekarang, namun ke depannya tidak ada yang tahu. Namun, Venya berharap dia akan tetao menjadi seperi itu. Sesederhana itu dan selalu mendukung apaoun yang Venya coba untuk lakukan. Selain Gemma yang mengikuti apaoun keinginan Venya, Gemma juga adalah ornag yang oenuh dengan empati, simpati dan juga sangat perduli terhadap sekitarnya. Penilaian itu diberikan langsung oleh seorang Venya untuk kekasihnya sendiri dengan merekam dan mencoba merekam ekgiatannya sehari - hari. Tanpa harus di beritahu lagi keinginan Venya ketika dia sedang haid misalnya, Gemma tahu apa yang harus di beli untuk meredakan kesakitan itu. Mungkin karena Venya memangg baik jadi dia akan mendapatkan perlakuan yang baik pula. Tapi Gemma berbeda, dia memang selalu baik setiap saat. Sekarang Venya mengangguk kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, beralih duduk di samping Gemma dan memeluknya. "Thank you, Gem." Kata Venya di d**a Gemma. Gemma tersenyum kemudian membalas pelukan Venya, "sama - sama." Kata Gemma lalu mengusap - ngusap punggung Venya lembut. "Makasih lo udah selalubada di setiap luka yang gue rasa, makasih juga udah ada di setiap titik kehidupan gue." Kata venya pelan, "yang paling gue syukuri adalah makasih udah nerima gue. Makasih udah mau nemenin gue walaupun setiap orang bilang kalo gue ga punya masa depan. Makasih banyak, gem." Kata Venya oanjang lebar. Gemma mencium puncak kepala Venya. Venya memeluk Gemma semakin erat. Dia terisak di sana dan membuat Gemma bingung sendiri. "Kenapa lo nangis, Ven?" Tanya Gemma lalu dia ingin melihat Venya jadi dia memundurkan badannya sedikit. Tapi Venya menolak. Dia mengeratkan pelukannya. Semakin lengket di badan Gemma. "Ga papa, gue ngerasa cewek paling beruntung aja bisa sama lo. Bisa punya lo dan bisa peluk lo kayak gini." Kata Venya sambil terisak. "Bukan sedih, gue cuman bahagia aja dan terharu." Kata Venya lagi. Gemma terkekeh. Venya sekarnag yang bingung. "Kok lo ketawa sih?" Gemma makin tertawa. "Ya abis lo baru kayak gini ke gue sih." Kata Gemma, "bucin banget lo ke gue ya." Venya emndorong tubuh Gemma yang baru saja ia lepaskan pelukannya, "nyebelin." Kata Venya, "ngerusak moment banget." Dan Gemma semakin tertawa di buatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD