"Mar, lo bilang persahabatan kita lebih penting dari apapun 'kan?" Damar berhenti mengunyah, menaikkan tatapannya kepada Radit yang kini masih asyik mengotak-atik stik PS miliknya. Damar mengangguk, mengambil stik PS yang satunya ketika Radit sudah mulai menekan tombol start untuk bermain. "Dan, lo tahu 'kan kalau gue suka Permata?" Damar menoleh sebentar, lalu mengangguk lagi. "Hanya karena kita sama-sama suka Permata, kita sempet berantem." Tangan Damar sibuk memainkan stik PS dengan tatapan yang terfokus pada layar. Sesekali menoleh ketika mendengar perkataan Radit. Sedari tadi lelaki itu banyak membahas dan menyinggung perihal Permata dan persahabatannya. Damar hanya bergumam merespons perkataan Radit. Matanya fokus memainkan games di PS bersama Radit. Namun, Radit terus saja menga

