Permata?

1097 Words

"Gimana? Udah?" Siswa berkacamata itu mengangguk. Sempat terkejut ketika mendapati kakak kelasnya menghadang jalannya di koridor bawah tangga. "Udah, Kak." Damar tersenyum lebar. "Oke, thanks ya!" Langkah kaki Damar terhenti ketika mendapati Radit di hadapannya usai siswa tadi pergi. Senyumnya menghilang melihat Radit terus menatapnya. "Kenapa nggak lo kasih sendiri aja?" Pertanyaan Radit membuat Damar terkejut. Damar menghela napas, tak menghiraukan ucapan sahabatnya. Dia memilih untuk kembali berjalan, tapi bahunya ditahan oleh Radit. "Mar, lo kenapa sih?" Damar menghela napas lagi. "Bukan urusan lo, Dit." "Gue emang kenal banyak cewek, mereka bilang gue playboy, bahkan ngecap gue berengsek. Gue akui itu, tapi kali ini gue harus akui kalau lo nggak lebih dari sekadar berengsek. Lo

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD