Cap Pengkhianat

1097 Words
uan mulai mendengarkan dengan serius pembicaraan dua orang di dekatnya. Ia menggenggam gelas minuman yang baru saja disajikan oleh bartender. Kedua orang tersebut terus melanjutkan perbincangan mereka tanpa tahu ancaman berada di dekat mereka. Pemimpin dari kelompok yang mereka bicarakan tengah berada di antara mereka. “Kelompok yang berkhianat? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Memangnya siapa yang berkhianat? Bukankah mereka semua bermusuhan satu sama lain dan saling berusaha memperebutkan banyak hal,” tanya salah seorang dari mereka. “Kau benar! Tapi ada hal yang kau tak tahu. Aku tahu hal ini dari kakaku yang merupakan salah satu anggota dari The Son of Lucifer. Ia mengatakan akan berperang beberapa hari yang lalu. Aku bertanya banyak hal padanya tentang apa yang terjadi hingga membuat peperangan pecah dan dengan kelompok siapa mereka akan berperang.” “Bukannya kelompok yang dipimpin oleh El-Chapo itu yang paling disegani di sini? Kelompok mafia mana yang berani mengusik dan berurusan dengannya? Aku rasa tidak ada,” sanggah temannya. Juan meminum minumannya sambil serius mendengarkan. Ia masih bisa menahan telinganya mendengarkan. Emosinya sudah mulai timbul, tapi masih mampu diredam olehnya. Ia harus tahu semua informasi sebelum mengambil tindakan. Siapa tahu, dari mendengarkan obrolan mereka berdua ia bisa tahu letak kelemahan dari kelompok The Son of Lucifer. “Sebelum berangkat perang, aku sempat banyak bertanya pad kakaku. Ia menjelaskan kalau sebelum kejadian ini terjadi, seluruh mafia berkumpul menjadi satu dalam satu tempat yang sama. Perkumpulan ini dimaksudkan agar adanya perjanjian damai antar kelompok mafia. Semua kelompok tidak boleh saling usik dan serang satu sama lain setelah perjanjian damai disepakati. Semua mafia pada saat itu datang dari berbagai tempat atas undangan El-Chapo. Ketika dijelaskan tentang keinginan El-Chapo, mereka semua menyetujuinya tanpa terkecuali.” “Lalu?” “Lalu, ada satu kelompok yang berkhianat di antara mereka. Kelompok itu menodai islah perjanjian yang sudah disepekati. Alhasil, seluruh aliansi mafia dari berbagai tempat menyatakan perang dan keikutsertaan mereka dalam barisan The Son of Lucifer.” “Mereka pikir Zervanos berkhianat. Sial! Kabar yang beredar sudah secepat ini. Bahkan, mereka yang tidak tahu apa-apa bisa berasumsi demikian,” gumam Juan sambil memegang gelasnya. Obrolan kedua orang tersebut sempat tertunda. Mereka menjeda perbincangannya untuk sekedar membakar cerutu dan menghisapnya. Mengotori udara dengan asap yang mereka keluarkan dari mulut. Setelah itu barulah mereka melanjutkan kembali obrolan yang sempat tertunda. “Kau tahu nama kelompok itu? Dan siapa ya kira-kira yang akan memenangkan perang?” “Aku tidak tahu. Tapi menurutku, siapa pun kelompok itu, mereka pasti bukan kelompok sembarangan. Yang berani merusak perjanjian damai dan menantang El-Chapo pasti orang yang bernyali besar. Peperangan ini pasti terjadi sangat sengit, aku belum tahu siapa yang akan menang, tapi kakakku harusnya menemuiku saat ini. Kalau dia kembali dan menemui kita di sini, itu tandanya El-Chapo yang menang. Kita tunggu saja.” Juan tampak semakin gusar. Ia mulai berniat ingin segera menghabisi mereka berdua dan menunjukkan pada mereka siapa sebenarnya Zervanos. Kelompok yang mereka cap sebagai penghianat. Namun, mereka beruntung. Karena ucapan yang terakhir, Juan mengurungkan niatnya. Salah satu anggota The Son of Lucifer akan segera datang. Kalau mengacau sekarang, itu tidak akan bagus untuknya. Ia harus berpikir matang-matang. Tak berselang lama, anggota yang mereka tunggu pun tiba. Kakak dari pria yang berbicara di dekat Juan. Ia datang bersama dua orang temannya. Dengan penuh keangkuhan mereka berjalan memasuki tempat tersebut. Lengkap dengan atribut kebesaran mereka, jaket kulit dengan tulisan The Son of Lucifer. “Nah, itu kakakku! Sudah kuduga dia akan datang dan memenangkan pertarungan,” ujar salah satu pria di dekat Juan sambil menunjuk. Kakak dari pria itu pun berjalan mendekatinya. Pria itu dengan senang segera menyambutnya. Sementara dua orang temannya pamit untuk berjalan ke belakang, menuju kamar mandi. “Sudah kuduga kau akan memenangkan perang ini, Kak! Aku sangat bangga padamu,” kata pria itu menyambut kedatangan sang kakak. “Perang?! Sudah kukatakan kau untuk merahasiakannya. Kau malah bicarakan hal itu. Kau pasti sudah menceritakannya juga pada temanmu, kan?! Kau sungguh tak bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia!” tegur sang kakak kesal. Juan menatap sinis ke arah mereka. Ia mulai bimbang, melakukan penyerangan sekarang atau tidak. Rasa kesal yang sejak tadi ia rasakan ingin segera dilampiaskan. Tapi, sisi kemanusiaannya menahan. Melihat kehangatan antara adik dan kakak, membuatnya teringat pada Marco. Ia tak bisa merusak kebahagiaan mereka. Kesal karena tak bisa melakukan pembalasan pada mereka. Juan tiba-tiba teringat pada dua rekan pria tersebut yang pergi ke belakang. Juan lantas segera menyusul mereka. Satu-satunya cara untuk memberikan balas dendam pada mereka. Walau tak sebanding, tapi cukup untuk melampiaskan kekesalan Juan yang sudah memuncak. Segera Juan bangkit menuju ke arah kamar mandi. Ia meninggalkan gelas minumannya di atas meja. Akan tetapi, baru beberapa langkah berjalan ia dipanggil oleh bartender. “Hei! Kau mau ke mana? Kau belum membayar minumanmu!” ujar bartender tersebut. “Aku hanya ingin ke toilet, selepas dari sana aku akan bayar!” jawab Juan. Juan melanjutkan rencananya yang sempat tertunda. Ia kemudian masuk ke dalam toilet. Di dalam sana ia menemukan kedua orang tersebut tengah membakar sesuatu. Dari aroma yang tercium, mereka membakar daun hijau. Aroma tercium memenuhi ruangan kamar mandi. Juan tak langsung memberikan pelajaran pada mereka berdua. Ia bersikap tenang terlebih dahulu. Berpura-pura untuk mencuci tangannya di wastafel. Sambil matanya melirik tajam ke arah mereka berdua. Tampaknya, apa yang mereka bakar telah menguasai diri mereka. Hingga mereka berdua berniat melakukan sesuatu pada Juan. Salah seorang dari mereka berjalan mendekati Juan. Juan tetap tenang, berpura-pura tidak melihat kedatangan pria tersebut. Sambil terus menghisap barang di tangannya, pria itu tepat berhenti di samping Juan. “Hei, Bung! Aku baru melihatmu di sini. Kau orang baru, ya?” tanya pria itu. Juan tak bergeming. Ia tetap melanjutkan mencuci tangan. “Apa kau tuli? Tidak menjawab pertanyaanku? Apakah kau tidak mengenal siapa aku? Kau mau cari gara-gara denganku?!” kata pria itu dengan kesal. “Tidak, aku tidak tahu siapa kau. Jangan ganggu aku!” jawab Juan. “Aku anggota The Son of Lucifer! Jangan main-main denganku! Atau kuberikan kau pelajaran!” pria itu langsung melayangkan tangannya ke arah Juan. Juan dengan sigap menahannya dan memelintir tangan dari pria itu hingga membuatnya meringis kesakitan. Barang yang ada di tangan pria itu seketika terjatuh. Ia merasakan sakit tapi tak mampu berteriak. Rasa mabuk sudah membuatnya sulit untuk berbicara. Teman pria itu terkejut melihat temannya tiba-tiba terdiam. Keadaan setengah sadar membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Penglihatannya samar-samar begitu juga pendengarannya. Ia hanya melihat temannya tengah berdiri beberapa meter di depannya. Padahal yang sebenarnya terjadi, temannya sedang dalam masalah. “Kalau begitu, kau harus tahu siapa aku!” ujar Juan sambil membuka penutup wajah dan kepalanya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD