Mason menaikkan salah satu kakinya ke atas paha, sedangkan iris biru safirnya menatap tajam dua orang yang kini duduk di depannya. Apa dua orang di depannya sedang bergurau atau dia sedang berada dalam mimpi? Yang jelas, kakinya melemas. Seandainya ia tidak duduk, mungkin tubuhnya sudah meleleh bagai es yang dibakar. Pun dengan hatinya yang begitu sesak. Siapa saja, tolong katakan siapa yang baru saja menyiram air garam dan lemon di atas luka dihatinya yang menganga? Kenapa rasa pedih sekali? Mason berdeham pelan. Dengan menampakkan wajah datar, seolah tegar, ia akhirnya membuka mulut. "Jadi, kau Nathan yang sudah membuat kesayanganku terluka,” ucapnya setelah Nathan memperkenalkan diri sebagai sosok penting dalam hidup gadis pujaannya. Sejujurnya, Mason masih belum percaya bahwa ternyata

