Matahari hari keempat di kediaman Wicaksono tenggelam dengan cepat, digantikan oleh langit malam yang pekat tanpa bintang. Bagi Rania, waktu di dalam rumah ini tidak diukur dari perputaran jarum jam, melainkan dari seberapa sering ia harus menelan rasa canggung dan tersisih di setiap detiknya.
Sesuai perkataan Raka kemarin, siang tadi Baskara benar-benar datang. Asisten pribadi suaminya itu menyerahkan tumpukan dokumen hitam di atas putih yang menyatakan peralihan aset perusahaan Ayah Surya secara legal. Rania menandatanganinya tanpa banyak bertanya, menyadari sepenuhnya bahwa coretan penanya adalah bukti sah atas kepemilikan dirinya yang kini telah dibeli secara mutlak oleh sang konglomerat.
Pukul tujuh malam, aroma masakan gurih menyeruak dari arah dapur mewah. Rania turun dengan pakaian rumah yang rapi, berniat membantu Bi Sumi di dapur. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat Hanny sudah berdiri di sana, mengenakan celemek rajut sewarna gandum, sedang mengaduk sup iga yang mengepul wangi.
"Ah, Mbak Rania!" Hanny menoleh, menyambut Rania dengan senyum manis khasnya yang tampak begitu polos. "Baru mau Hanny panggil lewat Bi Sumi. Mas Raka sebentar lagi pulang, dan Hanny sengaja masak makanan kesukaannya. Mas Raka itu kalau pulang kerja paling suka makan sup iga buatan rumah."
Bi Sumi yang berdiri di dekat wastafel hanya bisa menunduk sungkan, tidak berani menatap Rania.
Rania mendekat, mencoba menyentuh mangkuk salad yang belum selesai ditata. "Ada yang bisa kubantu, Hanny? Biar aku yang menata mejanya."
Sebelum jemari Rania menyentuh mangkuk, Hanny dengan gerakan anggun yang terkesan natural langsung menggeser wadah tersebut menjauh. "Eh, tidak usah, Mbak. Biar Hanny saja. Mas Raka itu punya aturan tata letak meja makan yang sangat spesifik, piringnya harus berjarak persis dan urutan sendoknya tidak boleh tertukar. Sejak almarhumah Mbak Marsha tiada, Hanny yang selalu menghafal kebiasaan Mas Raka. Hanny takut kalau Mbak Rania belum terbiasa, nanti Mas Raka malah kurang nyaman."
Kata belum terbiasa dan kebiasaan Mas Raka yang diucapkan Hanny dengan nada selembut sutra itu kembali menjadi pembatas tak kasatmata. Di dapur ini, di meja makan ini, Rania lagi-lagi diingatkan bahwa ia hanyalah penonton di dalam rumah tangganya sendiri.
"Baiklah kalau begitu," jawab Rania pelan. Ia menarik kembali tangannya, memilih duduk di salah satu kursi makan yang kosong, menunggu suaminya pulang dalam keheningan yang canggung.
Suara deru mobil mewah Raka terdengar memecah kesunyian halaman depan, disusul dengan langkah kaki tegap yang berat beberapa saat kemudian. Raka melangkah masuk ke ruang makan, penampilannya masih sangat berwibawa meski guratan lelah terlihat jelas di wajah tegasnya yang tampan. Kemeja putihnya yang mahal tampak sedikit kusut di bagian lengan yang digulung hingga sebatas siku.
"Mas Raka sudah pulang! Kebetulan sup iganya baru saja matang," sambut Hanny dengan nada riang, langsung bergerak cekatan mengambil alih tas kerja Raka dan menyerahkannya pada Bi Sumi.
Raka hanya mengangguk singkat. Sorot mata elangnya yang dingin sempat melirik ke arah Rania yang duduk diam di meja makan, namun tidak ada kata sapaan atau kecupan di kening yang selayaknya diberikan seorang suami. Pria setinggi seratus sembilan puluh lima sentimeter itu langsung mengambil posisi duduk di kursi utama di ujung meja.
Makan malam pun dimulai dalam atmosfer yang sepi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Rania mengambil porsinya sendiri secukupnya, sementara Hanny dengan sangat telaten menyendokkan kuah sup dan potongan daging iga terbaik ke dalam mangkuk Raka.
"Bagaimana dokumen yang dibawa Baskara tadi siang? Sudah kau selesaikan?" tanya Raka tiba-tiba, suaranya yang berat memecah keheningan, langsung diarahkan pada Rania.
Rania menghentikan gerakan sendoknya sejenak. "Sudah, Mas. Semua berkas yang diminta sudah kutandatangani dan kubawa kembali oleh Baskara."
"Bagus," jawab Raka datar, lalu kembali melanjutkan makannya. Pertanyaan itu murni bernada interogasi bisnis, tanpa ada secuil pun pertanyaan tentang bagaimana kabarnya hari ini atau bagaimana kondisi ayahnya di rumah sakit.
Hanny yang duduk di sebelah Raka tersenyum tipis, lalu menatap Rania dengan rahasia kemenangan yang terselubung di balik matanya. "Mbak Rania jangan terlalu dipikirkan ya urusan kantor Mas Raka. Yang penting utang-utang Ayah Surya sekarang sudah aman di tangan Mas Raka. Mas Raka ini kalau sudah menolong orang memang totalitas sekali."
Kalimat Hanny sengaja ditekankan untuk mengingatkan Raka kembali bahwa pernikahan ini hanyalah bentuk aksi penyelamatan finansial, bukan karena cinta. Raka tidak menyahut ucapan Hanny, namun diamnya pria itu menjadi konfirmasi paling menyakitkan bagi Rania bahwa apa yang dikatakan Hanny adalah kebenaran mutlak.
Selesai makan malam, Raka langsung bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang kerja pribadinya di lantai satu. Rania yang merasa tidak memiliki tempat lagi di ruang makan memilih untuk naik ke lantai dua, kembali ke kamarnya yang sunyi.
Ketika Rania sedang berjalan di koridor lantai dua yang temaram, ia berpapasan dengan Hanny yang baru saja keluar dari kamar Nina setelah menidurkan bocah itu. Koridor itu begitu sepi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang berat.
Hanny menghentikan langkahnya tepat di depan Rania. Senyum ramah yang tadi ia tunjukkan di depan Raka kini lenyap, berganti dengan tatapan mata yang dingin dan penuh selidik.
"Mbak Rania," panggil Hanny dengan suara yang sangat rendah, nyaris berbisik namun terdengar begitu tajam. "Mbak pasti merasa tidak nyaman ya makan malam bersama kami tadi? Maaf ya, Hanny tidak bermaksud membuat Mbak merasa tersisih. Tapi ... Mbak harus tahu, posisi Hanny dan Nina di rumah ini tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, bahkan oleh istri baru Mas Raka sekalipun."
Rania menatap Hanny lurus-lurus. Daada wanita itu berdenyut nyeri, namun ia mencoba mempertahankan ketenangannya. "Aku tidak pernah berniat menggantikan posisimu atau siapa pun di rumah ini, Hanny. Aku tahu batasanku."
Hanny tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat sinis di koridor yang sunyi itu. "Baguslah kalau Mbak sadar diri. Karena bagi Mas Raka, pernikahan ini tidak lebih dari sebuah tanggung jawab dan transaksi. Jangan pernah berharap pintu penghubung di kamar atas itu akan pernah terbuka untukmu, Mbak."
Setelah melemparkan duri yang begitu menghujam, Hanny membalikkan tubuhnya dan melangkah turun dengan kepala tegak, meninggalkan Rania sendirian di kegelapan koridor.
Rania menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar dari pelupuk matanya. Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kayu jati itu rapat-rapat. Di dalam kesunyian malam di hari keempat pernikahannya, Rania menyadari satu hal, dinding penolakan di rumah ini jauh lebih kokoh dan lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan.