Tiga hari telah berlalu sejak perjamuan makan malam di kediaman utama Wicaksono. Rumah besar itu seolah berubah menjadi kotak kaca raksasa yang kedap suara—megah, berkilau, namun menyesakkan bagi siapa pun yang terjebak di dalamnya. Ritme kehidupan di sini bukan ditentukan oleh kasih sayang, melainkan oleh rutinitas yang dingin dan kaku. Rania Ayu Putri telah belajar untuk tidak lagi mencari hangat di tempat yang hanya menyediakan api untuk membakar.
Pagi itu, udara di ruang makan terasa jauh lebih tipis dari biasanya. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, menyinari perabotan mahal yang tertata sempurna, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di meja makan. Raka Aditya Wicaksono duduk di kepala meja dengan wibawa yang menekan, jemarinya yang panjang dan kokoh memegang tablet perusahaan.
Rania turun ke lantai bawah. Ia mengenakan blouse putih bersih dan celana kain hitam sederhana. Di dalam tas kecilnya, terdapat buku catatan berisi rincian biaya pengobatan ayahnya yang ia salin dengan tangan—sebuah pengingat konstan bahwa ia adalah orang yang sedang terlilit utang besar.
Setiap pagi, sebelum melangkah ke ruang makan, ia selalu menghitung berapa sisa hutang yang harus ia bayar. Baginya, setiap rupiah yang dikeluarkan Raka adalah rantai yang melilit lehernya, dan ia sadar betul bahwa ia tidak memiliki hak untuk bersikap angkuh di atas penderitaan orang lain. Ia tahu posisinya, ia menumpang hidup. Namun, tahu diri bukan berarti membiarkan harga dirinya diinjak-injak sebagai budakk.
Tepat saat ia hendak melewati ambang pintu menuju pintu keluar untuk mencari cara melunasi cicilan hutang lewat pekerjaan sampingan yang sedang ia rintis diam-diam, suara bariton Raka yang berat dan dingin memecah keheningan.
"Rania."
Langkah Rania terhenti. Ia memutar tubuhnya dengan tenang, menatap suaminya dengan wajah yang sedatar permukaan danau di musim dingin. "Ya, Mas Raka?"
Raka tidak mendongak. Ia masih terpaku pada laporan di tabletnya. "Hari ini, sopir tidak akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan berencana keluar."
Rania menghela napas pelan. Ia sadar ia menumpang di rumah ini, namun hak asasinya sebagai manusia tidak bisa ia gadaikan begitu saja. "Saya harus menjenguk Ayah. Hari ini jadwal terapi. Saya tidak butuh sopir, Mas Raka. Saya bisa menggunakan taksi online agar tidak merepotkan Anda. Saya sadar saya berhutang banyak pada Anda, dan saya sedang berusaha mencari cara untuk mencicilnya kembali. Tapi menjenguk Ayah adalah tanggung jawab saya yang tidak bisa saya negosiasikan."
Raka akhirnya mendongak. Sorot mata elangnya tajam, menusuk, dan menyimpan bara kemarahan yang dipadamkan dengan paksa. Ia meletakkan tabletnya ke meja dengan dentuman pelan.
"Dan membiarkanmu bertemu lagi dengan teman lamamu'itu?" Raka menatap Rania dengan intensitas yang membuat napas di ruangan itu terasa berat. "Selama aku belum memberikan izin, kau tidak diperbolehkan keluar sendirian. Aku tidak akan membiarkan properti yang aku biayai berkeliaran bebas dan mencoreng nama baik keluarga hanya karena kau ingin bernostalgia dengan pria lain di luar sana."
Hanny yang sedari tadi menyimak, langsung meletakkan garpu buahnya. Ia menatap Rania dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. "Mbak Rania ... bukankah Mas Raka melakukan ini demi kebaikan Mbak juga? Lagipula, bukankah seharusnya Mbak bersyukur Mas Raka masih mau menanggung semua biaya rumah sakit Ayah? Jangan buat Mas Raka semakin pening dengan sikap keras kepala Mbak."
Hanny sedang memancing. Ia ingin melihat Rania marah, ingin melihat Rania kehilangan ketenangannya dan terlihat seperti wanita yang tidak tahu berterima kasih.
Rania tidak terpancing. Ia bahkan tidak menatap Hanny. Ia tetap menatap Raka dengan tatapan yang tenang, matanya jernih tanpa guncangan emosi.
"Saya sangat tahu diri, Hanny. Saya tahu setiap sen yang dikeluarkan Mas Raka untuk pengobatan ayah saya, dan saya tidak akan pernah melupakan hutang budi itu," jawab Rania dengan suara yang jernih dan datar, tanpa nada tinggi sedikit pun. Ia beralih menatap Raka. "Mas Raka, saya tahu posisi saya di rumah ini. Saya adalah orang yang sedang terlilit utang pada Anda. Tapi, hutang finansial tidak mengubah posisi saya sebagai manusia. Jika Anda melarang saya keluar karena takut saya akan bertemu orang lain karena kecemburuan anda, itu adalah ketakutan Anda, bukan kesalahan saya. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab hutang saya pada Anda."
Brak!
Raka melempar pulpen mahalnya ke atas meja makan. Ia berdiri, tinggi tubuhnya yang dominan membuat ruangan itu seketika terasa sempit. Ia berjalan mendekati Rania, langkahnya berat dan penuh ancaman.
"Kecemburuan?" Raka tertawa sinis, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya yang gelap. "Kau terlalu percaya diri, Rania. Aku tidak cemburu. Aku hanya benci melihat apa yang menjadi tanggung jawabku dikelola dengan ceroboh. Kau istriku secara hukum. Selama status itu melekat, setiap langkahmu adalah cerminan dari reputasiku. Jangan pernah berpikir kau bisa seenaknya lagi."
Raka meraih pergelangan tangan Rania—bukan untuk menyakiti, namun untuk mengunci. Ia memegang tangan itu begitu erat. "Hari ini, kau tetap di rumah. Jika kau ingin menjenguk ayahmu, aku akan menyuruh Baskara yang mengurus pemindahannya ke rumah sakit yang lebih dekat dan terawasi. Kau tidak perlu keluar dari pagar ini sampai aku mengizinkannya."
Rania menatap tangan Raka yang mencengkeramnya. Ia merasakan panas dari kulit pria itu menjalar ke pergelangan tangannya, namun ia tidak menariknya dengan kasar. Ia tetap tenang.
"Anda benar-benar takut?" bisik Rania pelan, suaranya sangat lirih, hanya cukup didengar oleh Raka yang berdiri sangat dekat.
Raka membeku. "Takut apa?"
"Takut kalau saya menemukan alasan untuk berdiri tanpa Anda," jawab Rania. Ia melepaskan cengkeraman Raka dengan satu sentakan kecil yang tegas namun beradab. "Anda takut kalau dinding beku yang Anda bangun di sekeliling saya tidak bisa mengurung jiwa saya selamanya. Anda takut kalau suatu hari nanti, saya akan sadar bahwa saya tidak butuh Anda sama sekali—bahwa saya bisa melunasi hutang saya dan pergi dari hidup Anda dengan kepala tegak. Anda mengurung saya bukan karena Anda peduli pada reputasi, tapi karena Anda benci melihat saya bisa berdiri di atas kaki saya sendiri."
Rania tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah pergi, kembali ke atas.
Di ruang makan, Hanny menatap Raka yang masih berdiri mematung. Ia bisa melihat ada retakan kecil pada kendali pria itu. Hanny merasa terancam. Ia tidak suka melihat Raka terpengaruh oleh wanita lemah itu, apalagi saat Rania menunjukkan ketenangan yang jauh lebih berkelas daripada kemarahan yang meledak-ledak.
"Mas Raka ... jangan diambil hati," ucap Hanny lembut, mencoba mendekat. "Mbak Rania memang sedang sensitif. Mungkin dia hanya lelah dengan situasi di rumah ini."
Namun, Raka menepis tangan Hanny dengan gerakan yang tidak disengaja, namun cukup kasar untuk membuat Hanny tertegun. "Jangan ikut campur, Hanny. Urus saja Nina."
Raka melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Hanny yang terdiam dengan senyuman yang perlahan memudar. Raka tidak menyadari bahwa penolakannya terhadap sentuhan Hanny tadi bukanlah tindakan sengaja, melainkan bentuk pengakuan bawah sadarnya, bahwa saat ini, hanya Rania—seberapapun wanita itu melawannya—dialah yang mampu membuat emosinya tidak stabil.
Di dalam kamarnya yang terkunci, Rania berdiri di depan cermin. Ia menyentuh pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram Raka. Ia tidak menangis. Ia justru membuka buku catatan kecilnya, mencoret satu baris angka yang baru saja ia tabung dari hasil penjualan perhiasan peninggalan ibunya yang ia jual diam-diam beberapa hari lalu.
Sedikit lagi, batin Rania dalam diam. Sedikit lagi, Raka. Biarkan egomu yang menghancurkan dirimu sendiri. Aku akan melunasi hutangku, sen demi sen, sampai tidak ada lagi alasan bagimu untuk memilikiku. Dan saat hari itu tiba, pintu ini akan terbuka, bukan untukmu, tapi untuk kebebasanku.
Rania berjalan menuju jendela kamar, menatap mobil Range Rover Raka yang terparkir di halaman depan. Ia tahu, Raka sedang mengamatinya dari ruang kerja di lantai bawah.
Permainan ini baru saja mencapai titik didih, dan Rania telah siap untuk meledakkannya. Setiap detik yang ia lalui di rumah ini adalah sebuah taruhan, dan Rania telah memutuskan, ia tidak akan kalah. Ia tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan oleh pria yang menganggapnya sebagai barang. Ia akan membuat pria itu bertekuk lutut, bukan karena uang atau kontrak, melainkan karena rasa kehilangan yang tak tertahankan.