Kakek sudah sampai di rumah sakit bersama dengan asistennya yang selalu bersamanya yaitu Sanis.
"San, cepatlah sedikit! Aku tidak mau marel menunggu lama," kakek terlihat sangat khawatir dan setengah berlari menuju resepsonis.
"Baik Tuan, saya akan tanyakan kamarnya," Sanis berjalan lebih cepat dan sampai duluan di resepsionis rumah sakit.
Sampai di resepsionis.
"Maaf, dimana pasien bernama Marel Caprion di rawat?" tanya sanis sambil membawa kartu nama Marel.
"Apakah anda keluarganya?" tanya resepsionis itu.
"Iya, itu kakek dari pasien," Sanis menjelaskan sedikit.
"Sekarang pasien masih berada diruang operasi, lurus saja nanti belok kiri, ada ruang operasi khusus pasien VVIP," jelas resepsionis sambil menunjukkan letak ruang operasi.
"Baik Terimakasih," jawab Sanis.
Kakek dan Sanis menuju ruang operasi dan melihat Durna dan Aski sudah berada di depan ruang operasi.
"Dimana cucuku?" Kakek sedikit berlari mengagetkan mereka berdua.
"Disana tuan, tadi tuan muda sempat siuman sebentar. Tapi, tuan muda berteriak semua gelap, dokter sedang memeriksanya lagi, maafkan kami Tuan," Aski dan Durna menampakkan wajah sedih melihat keadaan Marel.
Kakek tiba-tiba menangis,
"Oh, Tuhan. Sembuhkanlah cucuku! Terimakasih engkau masih menyelamatkannya, tolong beri kesembuhan padanya," kakek berdoa dan merasakan sekujur tubuhnya terasa lemas.
"Tuan, ini minuman anda!" Sanis mengambil tempat minum dari dalam tasnya. Dia selalu siap untuk Tuannya.
Dua jam berlalu, Dokter akhirnya keluar dari ruangan.
"Maaf siapa keluarga pasien disini?" tanya Dokter.
"Saya kakeknya, dok. Bagaimana keadaan cucuku?" Kakek mendekat semakin penasaran.
"Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan, Mari ke kantor saya!" Dokter itu berjalan ke arah kantornya dan Kakek mengikuti dari belakang.
Sesampainta diruangan dokter,
"Maafkan saya Pak, cucu anda sepertinya mengalami cedera yang cukup parah di bagian depan kepalanya dan bagian kanan, untuk kondisi kepalanya, tidak terjadi gegar otak dan masih berfungsi dengan baik, Tapi ...," Dokter sedikit berat untuk mengatakan.
"Tapi apa dok?"
"Benturan dikanan dan didepan kepalanya itu, membuat tidak berfungsinya saraf mata, walaupun kerusakan saraf ini masih belum bisa di pastikan bisa sembuh atau tidak, untuk waktu yang tidak bisa di tentukan cucu anda akan kehilangan penglihatannya atau mengalami kebutaan, " jelas dokter itu pelan-pelan sambil menunjukkan hasil CT scan,"
Kakek terlihat syok berat, air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Apa tidak ada cara lain dok? Haruskah dibawa ke rumah sakit khusus mata, agar cucuku bisa melihat lagi?" Kakek bertanya untuk mencari solusi.
"Kami akan berkonsultasi dengan pihak Rumah sakit di Singapura dan Amerika, mungkin beberapa terapi bisa dilakukan, tapi itu akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh," jelas dokter itu.
Kakek berfikir dan mengusap air matanya,
"Lakukan segala cara dok, untuk membuat cucuku sembuh! Walaupun membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun,"
"Baiklah, pasien akan dibawa ke ruang rawat VVIP sesuai kartu kesehatan yang dia miliki, Anda bisa menemui cucu anda," jelas dokter itu, kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
Marel akhirnya dibawa ke Ruang VVIP, kedua matanya masih di tutup perban karena sempat mengeluarkan darah, tangan kanannya penuh luka tapi tidak terjadi patah tulang serius, kakinya juga baik-baik saja. Marel yang belum sadar itu, berpetualang di alam bawah sadarnya hingga bertemu orang tuanya yang sudah meninggal. Saat bertemu di alam bawah sadar Marel dalam kondisi bisa melihat, dia memanggil kedua orang tuanya,
"Ma, pah!" Marel mendekati mereka dan memeluk mereka berdua.
Mamanya berbisik pelan di telinga Marel.
"Marel adalah anak sulung mama yang hebat, apapun keadaan Marel sekarang, Marel harus menjadi pria yang kuat dan tegar! Marel harus berubah menjadi anak baik, berhenti mempermainkan perempuan dan mabuk-mabukan! Suatu hari Marel akan tahu mengapa hal ini harus terjadi, janji sama mama ya Nak! Marel harus nurut sama kakek, mama titip Gandi padamu, dia butuh kasih sayangmu, dia merasa tersisih, beri kepercayaan dia di perusahaan! Jangan sampai kalian saling bermusuhan, sudah waktunya kamu menjadi dewasa dan membangun keluarga yang bahagia,"
"Marel janji, Marel akan berubah. Tapi apa yang terjadi? Kenapa mama berkata seperti itu?"
Tiba-tiba sinar semakin cerah dan bayangan orang tua Marel perlahan menghilang.
"Mama, mama ..." teriakan Marel membangunkannya untuk sadar.
"Marel, akhirnya cucuku sadar juga, Apakah pusing? Apakah kamu lapar?" Kakek mencoba menawarkan sesuatu.
Marel meraba kedua matanya yang masih tertutup oleh perban,
"Kek, aku dimana?Kenapa mataku ditutup?" Marel bingung.
"Berbaringlah lagi Marel, kamu baru saja sadar, kamu kecelakaan dan sekarang berada di Rumah sakit," jelas kakek dengan suara perlahan dan menyembunyikan kesedihannya.
Marel menuruti perintah kakeknya untuk berbaring,
"Apakah mataku terluka? Aku lapar kek," Marel yang belum tahu kondisi matanya itu mencoba untuk tenang.
Kakek mencoba untuk tidak membahas mengenai mata Marel.
"Kamu lapar, kakek sudah membawakan. banyak makanan kesukaanmu, biar Sanis yang siapkan, kakek akan menyuapimu."
Sanis membawa beberapa rantang, yang isinya adalah masakan dari rumah untuk kesukaan Marel.
"Ada iga bakar, saus tiram, lidah sapi, apa yang kamu mau?" kakek bertanya.
"Aku ingin Iga sapi saja dengan saus tiram, sepertinya lezat." jawab Marek terlihat bersemangat.
Kakek dengan penuh kasih sayang menyuapi cucunya itu dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Kenapa kakek menangis?" Marek tiba-tiba bertanya.
"Tidak, kakek tidak menangis." Kakek mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Kek, jangan bohong!jika perban ini di buka dan aku melihat kakek menangis, aku akan sangat marah,"
Aski, Durna, Kakek dan Sanis mengusap air mata mereka yang tanpa sadar mengalir melihat Marel yang belum tahu mengenai kondisi matanya.
Setelah selesai makan, dokter dengan senyuman datang menyapa Marel,
"Selamat sore, sudah makan? Bagaimana masih terasa pusing?" tanya dokter seolah semuanya baik-baik saja.
"Sore, Sudah Baik dok, kapan perban di mataku akan di buka?Aku sudah tidak sabar untuk melihat lagi," Marel terlihat sangat bersemangat.
"Apakah belum ada yang memberitahu?" Dokter menatap kakek dan kakek memalingkan wajah kearah lain, masih tidak tega untuk memberi tahu cucunya itu,
"Tentang apa Dok?" Marel penasaran.
Semua menjadi senyap,
"Akan kubuka perbannya sekarang!" Dokter itu memberi kode kepada suster untuk membantunya membuka perban.
Perlahan perban itu dibuka, memutar dan terlepas, mata Marel mulai terlihat ketika kasa dari mata kiri di buka dan mata kanannya juga di buka.
"Bukalah mata anda!" Dokter itu memberi perintah.
Saat yang paling berat harus Marel terima hari ini, seperti yang mamanya ucapkan saat berada dialam bawah sadar Marel harus kuat menerima keadaan yang akan menemaninya sepanjang hari, perlahan mata Marel dibuka, betapa terkejutnya dia ketika hanya gelap yang ada di sekitarnya.
"Ap, apa yang terjadi dengan mataku? Apa yang terjadi?" Marel tampak kebingungan.
Semua diam, air mata kakek tidak bisa dibendung lagi.
"Kenapa semua diam? Apa yang terjadi dengan mataku? Cepat jelaskan!Dokter kenapa semuanya gelap?Kenapa?" Marel mulai berteriak-teriak.
Marel menyentuh semua yang ada disekitarnya, dari gelas, mangkok, rantang dan tas semua berjatuhan.
"Pyar!"
"Jawab pertanyaanku, Dok!" Marel dengan emosinya bertanya.
"Tolong tenang!Anda mengalami kebutaan, karena saraf mata yang rusak akibat kecelakaan," Dokter memberi penjelasan pelan-pelan.
Suster menyuntikkan obat penenang di Infusnya dengan instruksi dokter.
"Apa, Dok?Ini pasti bercanda, tidak, tidak. Ini tidak mungkin!" Perlahan obat itu bekerja dan Marel kembali tertidur.