"Baiklah, ayah memiliki penawaran," kata Ayah Felove.
"Apa ayah?" Felove dengan penasaran bertanya.
"Ayah akan membelikan otlet itu untukmu, dengan satu syarat, kamu harus pindah kuliah kekedokteran, Bagaimana?" ayahnya memberikan sebuah tawaran yang sangat menggiurkan.
"Kenapa ayah selalu mengaitkan dengan masalah itu?" Felove mengeluh.
"Jika kamu tidak mau, ya sudah, ayah akan menarik kembali ucapan ayah!" Ayah mulai untuk bernegoisasi.
Felove berfikir sejenak, ibunya yang melihat suasana menjadi tegang akhirnya datang ke tempat mereka duduk di ruang keluarga dengan membawakan teh hangat dan juga kue manis.
"MInum dan makanlah dulu! kalian ini ayah dan anak, seperti pengacara dan jaksa saja yang sedang bersih tegang?" komentar Ibu Felove yang baru saja selesai menurunkan minuman dan makanan dari baki yang dibawanya.
"Habis ayah selalu saja membuatku sebal, lagi-lagi membahas tentang kedokteran, sudah tahu Felove membenci bidang itu!" Felove terlihat sedikit kesal.
"Baiklah kalau begitu, ayah cabut penawarannya!" Ayahnya itu mulai menggoda putrinya.
"Jangan Ayah!" Felove kembali berfikir.
Jika aku tidak menerima tawaran ayah, aku pasti kehilangan otlet itu besok pagi. Tapi mungkin saatnya aku berfikir dewasa, menjadi seorang pengusaha itu tidak mudah. paling tidak aku juga harus berkarir di bidang lain jika akhirnya aku menyerah, oh Tuhan. Tunjukkan jalanmu! kata Felove bergumam dalam hatinya.
Setelah memikirkan dengan matang, akhirnya Felove berani mengambil keputusan dengan syarat dan pertimbangannya sendiri.
"Baiklah ayah, aku akan menuruti Ayah untuk kuliah di kedokteran. tapi ayah harus mendukungku jika aku lebih memilih menjadi pengusaha setelah lulus kuliah, ayah tidak boleh protes lagi ketika Felove berjualan banana Coffee!" jelas Felove yang akhirnya mengutarakan isi hati dan pendapatnya.
"Tidak sulit, Deal!" Ayah Felove mengulurkan tanganya.
Felove akhirnya menjabat tangan ayahnya, "Baiklah Ayah, Deal!"
Ibu Felove tersenyum melihat tingkah ayah dan putrinya itu.
Keesokan Harinya adalah hari yang di tunggu, ayah Felove menepati janjinya untuk membeli otlet tersebut. pagi itu juga menemui pemilik otlet untuk proses pembelian otlet. Wajah Felove terlihat sangat bersemangat sekaligus kembali menghela nafas.
Inilah bagian dari Perjuangan!Semangat Felove! seperti biasa Felove menyemangati dirinya sendiri.
Hari itu juga Felove terpaksa melepaskan kuliah bisnisnya dan beralih ke universitas kedokteran. Perlahan dia memasuki universitas yang tidak jauh dari kampus yang dulu, mendapatkan brosur dikedokteran. Tiba-tiba kepikiran, harus memilih jurusan apa disini, karena tidak ada yang membuat Felove tertarik.
"Apakah aku harus merubah minuman itu menjadi darah dulu, tidak masuk di logikaku, jika mahasiswa bisnis sekarang masuk di kedokteran. Ya, ampun ayah! Apa enaknya sih jadi dokter?" Felove yang masih bingung memilih jurusan akhirnya memasukkann brosur ke dalam tasnya untuk di bawa pulang.
Setelah selesai urusanmu di universitas, Felove pergi ke outletnya yang sudah waktunya untuk buka.
Felove tersenyum ceria hari ini, melihat kesegala sudut outlet yang sudah menemaninya selama tiga tahun ini, akhirnya resmi menjadi milik Felove. Baru membuka pintu outlet, tiba-tiba sudah banyak pelanggan mengantri untuk membeli bahan Coffee, padahal Carla saudaranya belum datang, dengan cekatan Felove melayani pembeli yang datang.
"Kak, Banar Coffeenya toping cockies tiga di bungkus, ya!"
"Baiklah, tunggu sebentar!" jawab Felove yang sedang memanaskan air.
"Kak, aku satu Banana Coffee original!"
"Siap, segera, tunggu sebentar!" jawab Felove penuh semangat.
Outlet itu langsung kebanjiran pembeli, lebih dari hari biasanya padahal outlet itu hanya tersedia dua meja dengan Empat kursi dimasing-masing meja, Carla yang baru saja datang terkejut melihat antrian pembeli yang begitu panjang. Carla berlalu mengambil celemeknya dan membantu Felove untuk melayani pembeli.
"Maaf kak Felove, apa aku terlambat?" Carla mengambil alih untuk melayani pesanan.
"Tidak, entah mengapa hari ini, baru saja aku buka, outlet langsung ramai." jawab Felove yang juga menyiapkan es batu dan blender untuk meracik banana coffee.
"Puji Tuhan, baiklah kak kita selesaikan hari ini!" Carla melayani dengan penuh semangat.
Banana Coffee buatan Felove, memiliki cita rasa yang unik, bentuknya sama terdiri dari s**u, pisang dan kopi yang di blender dan diberi toping cockies coklat, keju ataupun kismis sesuai selera pembeli. Namun yang berbeda disini adalah kopinya karena tanpa harus di campur dengan pisang pun, kopi itu sudah memiliki cita rasa pisang, hal ini di temukan Felove sekitar Dua tahun yang lalu ketika harga pisang melonjak tinggi dan dia terpaksa harus menanam pisang dibelakang rumahnya, secara kebetulan dibelakang rumahnya, ternyata ditanam juga beberapa pohon kopi milik ayahnya dan bersebelahan dengan pohon pisang. Hal ini ternyata mempengaruhi cita rasa dari kopi itu sendiri, bahkan ayah Felove belum menyadarinya karena yang selalu panen kopi justru Felove dan ayahnya sama sekali bukan pecinta kopi, ayah Felove menanam pohon kopi hanya untuk iseng, selebihnya justru Felove yang rajin merawat pohon kopi tersebut.
Hari semakin gelap dan sekitar pukul tujuh tepat Bahan Coffee milik Felove ludes terjual. Di pojok otlet Felove dan Carla duduk berdampingan, mengibaskan baju yang basah karena keringat dan meminum segelas air mineral dingin untuk meluruhkan lelah dan haus yang ternyata sejak tadi.
"Segarnya, air putih ini, kenapa rasanya dari tadi sulit sekali aku bernafas ya? Pembeli tidak ada jeda untuk menunggu dan datang?" keluh Carla yang meminum lagi air putih di dalam gelasnya.
Felove masih serius dengan uang ditangannya dan tersenyum ceria.
"Jangan banyak mengeluh, Lihatlah! Keuntungan kita berkali lipat hari ini, biasanya hanya 1,5juta saja, sekarang bisa 3,5 juta. Ini adalah laba bersih lo, kamu tidak mau bonus?" Jelas Felove memberikan semangat kepada Carla yang terlihat masih engos-engosan.
"Kalau masalah itu, aku sama sekali tidak bisa menolak. Rejeki nggak boleh di tolak pamali, kata orang tua begitu," komentar Carla yang terlihat sumringah mendengar kata bonus.
"Yee, kalau denger bonus atau nominal uang aja semangat. Makanya kalau lagi rame begini di syukuri, jangan malah mengeluh, harus bisa tiap hari rame seperti tadi, lumayan kan, kalau terkumpul banyak bonusnya?" tambah Felove dengan ceramahnya seperti biasa.
"Iya, iya kak Felove. Kamu ini selalu menceramahiku setiap hari, kaka nggak capek?" jawab Carla yang masih mengibaskan bajunya dan meminum air putihnya.
"Sama sekali nggak, soal aku juga pingin kamu tangguh, suatu hari kalau kamu bisa buka otlet sendiri kan yang untung kamu juga," Felove memberi pengertian.
"Iya deh iya, kak Felove itu the best banget jadi sepupuku,"
"Ya udah, yuk pulang!" kata Felove perlahan menutup otletnya.
"Ayok kak,"
Mereka akhirnya pulang kerumah mereka masing-masing.
Sesampainya di rumah, Felove mandi dan langsung membuka brosur kedokteran yang dibawanya tadi.
"Kira-kira jurusan apa yang tetap bisa membantuku untuk bisnis ini ya? Apa ada di dunia kedokteran juga?" Felove sedikit berfikir keras sambil membolak-mbalik brosur kedokteran itu.
Felove mencoba mencari keterangan dari setiap jurusan yang disediakan di universitas kedokteran.
"Dokter umum, coret! Dokter syaraf, Coret! Dokter spesialis, coret! Terus apa ya?" Felove masih bingung.
"Dokter gigi, Coret! Dokter untuk Teknologi Laboraturium Medik? Jurusan apa ya ini?" Felove mencoba mencari tahu tentang artinya dari jurusan itu di Internet.
Sebuah program studi yang mempelajari tentang bagaimana cara menjadi seorang tenaga kesehatan dan ilmuwan berketerampilan tinggi yang akan berkecimpung didunia kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan, pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk menentukan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat.
" Disini ada juga analisis makanan dan minuman? Berarti, ini di perlukan saat mengajukan ijin pemasaran untuk makanan dan minuman. Jurusan kedokteran ini masih masuk untuk tujuanku sebagai pengusaha. Sepertinya aku ambil jurusan ini saja!" Felove akhirnya memutuskan.
Setelah menemukan, Felove yang sudah kelelahan akhirnya membaringkan dirinya ke ranjang kemudian tertidur.
***
Marel memulai kegiatannya beberapa hari ini dengan mempelajari segala hal seperti orang buta pada umumnya. Yang berbeda dari Mr Park saat melatih orang buta adalah caranya tidak seperti melatih seseorang yang buta, dia benar-benar seorang pelatih yang berpengalaman untuk melatih pemimpin walaupun orang yang diajarkan adalah orang buta. Mr Park sudah terkenal menjadi pelatih penyandang tuna Netra untuk mereka yang menduduki jabatan penting, sehingga sekarang mereka tetap bisa dihargai oleh banyak orang, karena mereka buta tapi tidak terlihat seperti orang buta. Kepekaan dalam mereka bertindak bahkan mendengar sangat terasah dengan baik, bahkan mereka juga dilatih ilmu bela diri untuk melindungi dirinya sendiri dan menolong orang lain. Tidak jarang dari mereka lebih awas ketika menyebrang dan tahu detail kapan mobil datang untuk menabrak mereka saat berjalan atau ketika benda di sekelilingnya jatuh, mereka bisa menangkap sebelum hal itu terjadi. Orang buta yang dilatih oleh Mr Park kebanyakan menjadi seorang pemimpin yang sangat jeli dalam pendengaran, bahkan intuisinya pun terasah dengan baik. Dalam beberapa hari Marel mengalami perubahan yang cukup pesat, dia tidak lagi berbicara ceplas-ceplos dan sikap santunnya lebih baik dari sebelumnya. Dia lebih menghargai setiap orang di lingkungannya bahkan tidak semena-mena lagi dengan pelayan di rumahnya. Mr Park mengajarkan banyak hal dengan penuh kedisiplinan, Marel yang memiliki pribadi yang sangat buruk, suka main perempuan dan suka mabuk-mabukan itu akhirnya mampu ditahklukan oleh Mr Park, dia merupakan psikiater dan guru kepribadian yang sangat cerdas juga. Dalam hitungan hari, Mr Park mampu untuk mengerti sifat dan sikap buruk Marel selama ini. Marel merasa kesepian dan sangat kurang kasih sayang, walaupun dia selalu mendapatkan fasilitas mewah dari kakeknya, dan kasih sayang yang sempurna dari kakeknya, Marel masih sangat kesepian. Dia tidak tahu cara menjadi pria yang baik, dia selalu mencari banyak wanita karena dia ingin di cintai lebih dan lebih. Mr Park mampu mengajarkan Marel untuk kuat bertahan dengan dirinya sendiri, mampu berdiri di kakinya sendiri dan menjadi pria baik. Dia diajarkan cara terbaik untuk memperlakukan wanita dimulai dari pelayannya di rumah.
Lusi merupakan pelayan kepercayaan keluarga itu sejak Marel dan Gedi masih kecil dan Lusi merupakan pelayan tertua yang sudah mengabdi kepada keluarga itu selama lebih dari tiga puluh lima tahun. Dari kecil Marel dan Gedi tidak pernah diajarkan untuk berbicara santun untuk memanggil orang yang lebih tua walaupun itu adalah pelayannya sendiri, sehingga mereka terbiasa menyebut nama dan memanggil mereka dengan cara berteriak. Mr Park mengajarkan hal kecil yang Marel pun tidak mengerti sebelumnya.
"Bagaimana kamu harus memanggil Lusi?" tanya Mr Park.
"Cukup panggil dia Lusi, memang harus bagimana aku memanggilnya?" Marel sedikit berfikir.
"Panggil dia Bu Lusi, mulai detik ini!" jawab Mr Park singkat.
"Bu Lusi? Terasa aneh di telingaku," komentar Marel masih berdiri dengan tongkatnya.
"Lusi lebih tua darimu itu sudah jelas, dengan cara kamu memanggilnya bu, itu sudah sangat menghormatinya," Jelas Mr Park singkat.
"Aku harus menghormatinya, dia hanyalah seorang pelayan Mr Park," Jawab Marel dengan spontan.
Mata Mr Park menggeliat.
"Apakah kamu ingin di hormati orang lain?" tanya Mr Park sambil melihat kearah lain.
"Ya, itu tentu saja," Marel berpindah posisi.
"Jika begitu, hormatilah orang lain! maka kamu akan dihormati," Mr Park melihat ke arah Marel.
Marel berfikir sedikit bengong,
Sebenarnya apa yang dipikirkan Mr Park? Yang benar saja, aku harus menghormati orang lain untuk dihormati? Pikir Marel.
"Jika kamu tidak percaya, maka buktikan perkataanku! Hormatilah orang yang lebih tua darimu, hormati juga privasi mereka, kamu akan di hormati dan disegani banyak orang," Mr Park mencoba memberi pengertian.
"Sebenarnya, apakah ini ada hubungannya dengan pelatihan untuk orang buta?" Marel terlihat sedikit sebal.
"Karena kamu seorang Ceo, jika kamu seorang pengemis, aku tidak akan mengajarimu tata krama ini, Orang buta akan cenderung di rendahkan banyak orang, ditertawakan banyak orang bahkan dianggap sebelah mata, jika perilaku dan pribadimu masih buruk maka tidak akan ada orang yang akan menganggapmu ada di dunia ini, belum tentu di perusahaanmu sendiri kamu akan di hormati jika kamu adalah orang buta, yang akan mereka lakukan adalah menyepelekan segala yang kamu lakukan, lalu perlahan membuangmu dengan mudah," penjelasan panjang akhirnya terlontar dari mulut seorang Mr Park.
Aku mulai paham sekarang, aku sadar selama ini aku berbuat semena-mena terhadap mereka semua, pelayan, orang di perusahaan, sampai sekarang mereka segan dan tidak berani marah karena aku bisa melakukan sesuatu yang kejam karena aku masih bisa melihat, ketika aku tidak melihat. Mereka akan berbalik, ternyata pelatih yang dikirim kakek bukan orang yang sembarangan. Walaupun aku tidak tahu apalagi yang akan dia lakukan, tapi hal ini pasti berguna untukku nanti, sepertinya aku harus menurut dengan semua yang Mr Park ini ajarkan, aku punya feeling dia bisa menjadikanku pemimpin yang lebih hebat dari sebelumnya. Walaupun aku benci dengan gelap yang aku rasakan ini! Tapi aku harus bisa melewati semuanya. Setelah aku menguasai yang Mr Park ajarkan, aku akan mencari obat untuk bisa melihat lagi. Ucap Marel dalam hati.