Nyaris Mati Karena Ciuman

1025 Words
Mendengar deheman pria yang ada di dalam lift, mereka berdua pun langsung saling menjauh lalu bergiliran masuk ke dalam lift. Rayden melingkarkan lengannya di pinggang Emily, sementara wanita itu berusaha melepaskan tangan Rayden dari pinggangnya. Pria lain di dalam lift itu mengamati mereka berdua dengan agak bingung. "Apa kalian suami istri?" tanyanya penasaran. "Bukan," jawab Emily cepat. 'Lift ini begitu lama turun ke lobi, sampai kapan aku harus disandera oleh pria gila ini,' pikir Emily. Mereka bertiga turun hingga lantai lobi. Pria asing di lift yang sepertinya orang Turki itu berjalan ke pintu keluar lobi sembari memperhatikan Emily dan pria satunya dengan penasaran. Ini bukan waktu orang normal berkeliaran. Saat ini pukul 03.30, lewat malam dan belum cukup pagi untuk beraktivitas. Dan ... mereka bukan suami istri, selain itu tak ada tanda-tanda kesamaan genetik di antara kedua orang itu. "Emily, tunggu!" seru Rayden seraya mengejar langkah wanita itu dan meraih pergelangan tangannya yang ramping. Emily berusaha mengibaskan tangan pria itu. "Lepaskan! Berhenti membuntutiku, aku bisa memesan taksi sendiri ... terima kasih atas perhatianmu dan pelayananmu yang memuaskan malam ini, Tuan Tanpa Nama," ujar Emily memaksakan senyum palsu di wajahnya. Mendengar ucapan Emily yang bernada sarkastis itu, Rayden mendengkus tertawa pelan. "Kau sungguh wanita yang menarik, Nona Emily. Namun, aku tidak tega melepasmu pulang sendiri. Percayalah ... ini bukan jam normal orang beraktivitas," balasnya. Karena tidak ingin mengundang perhatian di sekitarnya, Emily pun menyerah dan membiarkan pria itu mengantarnya dengan mobil sport hitam bermerk Lamborghini itu. 'Rupanya dia orang kaya, ahh tentu saja dia memiliki penthouse selantai dengan Henry Crawford. Pastinya bukan orang sembarangan,' ucap Emily dalam hatinya. Rayden sesekali mencuri pandang ke arah Emily. Dia benar-benar terpesona pada seorang wanita kali ini, kabar buruknya dunia mereka bagaikan surga dan neraka. Dia penjahat kerah putih, mafia yang tentu saja berada di dunia kegelapan dekat dengan pintu gerbang neraka. Sementara Emily, seorang jaksa cantik yang berada di dunia terang laksana malaikat yang menghukum orang-orang sepertinya dari atas surga. 'Aku harus melupakan Emily bila masih ingin hidup bebas jauh dari penjara,' batin Rayden dengan murung. Akhirnya, mereka sampai di apartment Emily. Sekalipun Emily tidak mengizinkan Rayden untuk mengantarnya sampai ke depan unitnya, tetapi Rayden memaksa hingga Emily menyerah. Dia lelah dan ingin tidur dengan cara yang benar. Ini malam yang berat untuknya, dia tak mengira bahwa malam ini harus melayani napsu dua pria yang terobsesi pada tubuhnya. "Oke, Tuan Tanpa Nama. Kita sudah sampai di apartment-ku. Silakan Anda pulang dan terima kasih atas keramahan Anda. Namun, kuharap kita tidak perlu bertemu kembali ...," pamit Emily dengan sarkastis. Rayden selalu gemas setiap kali mendengar bibir mungil itu berbicara dengan kata-kata pedas kepadanya. Dia mendesak tubuh Emily ke pintu unit apartment-nya dengan tubuh kekarnya yang mendominasi, kedua lengannya mengunci kepala Emily. Mata Rayden menatap ke dalam mata wanita itu. "Aahh kurasa kau memiliki kegemaran memprovokasi seorang pria, Emily ... haruskah aku menghukummu lagi di dalam?" ancam Rayden dengan wajah berjarak beberapa inchi saja dari wanita itu. Emily merutuk dalam hatinya, dia lupa pria yang satu ini liar dan sangat dominan. Dia seperti teringat akan seekor harimau. "Selamat pagi, Tuan. Aku sebentar lagi harus berangkat bekerja. Tolong izinkan aku masuk ke dalam sendirian," ujar Emily dengan tegas. "Oohh baiklah. Tapi ada syaratnya, cium aku dulu sekarang. Maka aku akan segera pergi," jawab Rayden sambil bergeming menatap Emily. Bibir Emily segera meraih bibir Rayden, tetapi saat dia ingin menariknya. Rayden memperdalam pagutannya, menahan wajah Emily dengan kedua telapak tangannya. Tubuh Emily sontak lemas karena serbuan aura dominan pria itu dibarengi dengan menipisnya kadar oksigen dalam otaknya. Rasanya dia harus menyerah sekali lagi pada pria itu. Lengan Rayden menahan tubuh Emily yang melemas tak berdaya dalam dekapannya. Wanita itu kehilangan kesadarannya. "Emily ... Emily ...," panggil Rayden sembari menepuk-nepuk pipi wanita itu. Dia tidak membawa alat untuk meretas kode pass, dia mengingatkan dirinya lain kali harus membawa alat sialan itu kemanapun dia pergi. Untungnya wanita itu tersadar dan membuka matanya. Rayden menghela napas lega. Dia pun berkata, "Maafkan aku, Nona. Terkadang aku lepas kendali. Masuklah sekarang." Emily pun tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk segera kabur dari cengkraman pria itu. Dia memaksa tubuhnya untuk berdiri dan memasukkan kode pass pintu unit apartmentnya. Dalam satu kali lihat, Rayden mengingat kode sandi untuk membuka pintu sialan itu. 476785. Wow, cukup rumit! Tapi dia pasti akan mengingatnya. Kapan-kapan dia kan datang kembali untuk mendapatkan wanita itu lagi. Emily tidak menoleh ke belakang, tidak pula berpamitan. Dia segera menutup pintu secepat yang dia bisa dan merosot bersandar di balik pintu unit apartment-nya. 'Sungguh pria yang mengerikan!' batinnya. Dia nyaris mati kehabisan oksigen hanya karena berciuman. Tanpa mengganti bajunya Emily bergegas ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di sana. Dia langsung terlelap dalam beberapa detik saja. Alarm jam wekernya berbunyi kencang menyeretnya dalam kesadaran setelah terlelap beberapa jam. Dia harus bangun untuk bekerja untuk negara. Emily menyeret tubuhnya yang terasa remuk redam ke kamar mandi dan melepaskan baju pinjaman milik pria yang bersamanya tadi malam. Kemudian menyalakan keran shower air dingin untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Dia menyandarkan tangannya ke dinding, tubuhnya begitu lemas. Dia suka percintaan yang lembut untuk menghilangkan ketegangan di pengadilan. Tetapi, tadi malam dia mengalami sebuah pengalaman bercinta yang brutal, cenderung didominasi oleh partner ranjangnya. Siapa pria itu sebenarnya? Setelah merasa dirinya bersih dan segar, Emily pun mengeringkan dirinya lalu memakai baju kerjanya. Dia sedang tidak ingin tampil seksi nan menggoda. Dia memilih setelan kemeja sutera lengan pendek warna putih dengan blazer dan celana panjang warna biru tua. Emily mengikat rambut cokelat panjangnya model ekor kuda. Dia menatap cermin dan melihat bayangan dirinya yang begitu pucat. Baru sekali ini dia tampak begitu menyedihkan. Dia benci pada pria sialan tanpa nama yang semalam dia temui. Emily memulaskan foundation dan bedak lalu memakai blush on merah jambu untuk mengembalikan warna di wajahnya yang pucat. Terakhir lipstik warna merah darah di bibirnya. Sempurna! Emily yang kuat telah kembali. Setelah memesan sarapan melalui room service, Emily menikmati sarapannya lalu berangkat ke kantornya, kantor jaksa penuntut umum di balai kota. Ada banyak berkas kasus yang harus dia kurasi hari ini. Dia tidak ingin menggantung nasib para korban tindak kejahatan. Pelaku tindak kejahatan harus diadili dan diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatan jahatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD