Tertarik Cahaya

889 Words
Di ruangan labnya, App0 masih terlihat sibuk di depan monitornya. Ia masih berusaha mencoba mencari cara untuk mengembalikan temannya ke rumah. Walau pun di penuhi kepanikan, App0 berusaha tetap fokus mencari jalan keluar dan berfikir keras untuk segera memperbaiki kesalahan mesin percobaan mereka itu. Satu jam pun telah berlalu, namun App0 tidak kunjung dapat jawaban penyebab kegagalan saat proses pengembalian objek ketempat semula. Tidak terlihat ada indikasi eror apapun pada sistem atau pun mesin karena semuanya terlihat baik-baik saja. Masih sama seperti pada percobaan sebelumnya, namun anehnya kali ini objek tidak terdeteksi sedikit pun juga tak kembali. Di dalam ruang yang gelap itu, terlihat Ipul tertidur dan tubuhnya masih mengambang tak bergerak sedikit pun. Dan disaat ia tertidur, di dalam mimpinya iya melihat setitik cahaya terang di hadapannya berkata. [Kemarin lah aku akan menuntun mu.] Terdengar jelas kalimat itu. Lalu tubuhnya pun serasa di tarik perlahan mendekati sumber cahaya itu. Sesampainya ia di sumber cahaya itu, ia lalu terbangun dari tidurnya. Setelah membuka matanya, ia melihat di sekeling tempatnya itu juga masih tetap gelap, namun udara di sana terasa dingin dan lembap. Tidak seperti di tempat saat ia tertidur tadi, kini ia sudah bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Di tempat ini ia merasa sedang berpijak di tanah, seperti sedang berdiri. Lalu Ia pun mencoba menggerakkan tangannya untuk mencoba menyentuh sesuatu yang ada di sekitarnya, namun tidak ada apapun yang dapat ia sentuh. Dengan memberanikan diri ia pun mencoba melangkahkan kakinya perlahan ke depan sembari mencoba mencari sesuatu yang dapat ia sentuh. Belum begitu jauh ia melangkah dari tempatnya tadi seperti orang buta karna begitu gelapnya tempat tersebut, iya sudah dapat merasakan sesuatu dengan tangannya. Iya merasa sedang menyentuh suatu benda yang berbentuk tidak rata, keras, dan ber lembab seperti berair. Lalu sedikit demi sedikit iya meraba dan merasakan mengguna indra perabanya untuk memastikan benda apa yang disentuhnya itu. Terasa olehnya seperti sedang menyentuh permukaan batu yang di perkirakan cukup besar. Karna selama ia meraba benda itu sembari melangkah ke depan, yang di rasakan oleh tangannya masih sama seperti pertama saat ia menyentuh permukaan benda itu. Setelah memastikan kalau ia sudah berada di suatu tempat, ia pun ingin mencoba apa yang bisa dilakukan oleh Gelang Universal yang pakainya itu. Lalu ia pun mencoba membayangkan sebuah benda yang bisa mengeluarkan cahaya seperti lampu, senter, atau semacamnya. Dan mencoba menyebutkan satu persatu namanya, namun gelang tersebut tak merespon sedikit pun. Melihat tidak terjadi apa-apa pada gelang tersebut, ia pun mengira gelang itu telah rusak atau tidak dapat berfungsi lagi karena terlalu lama terperangkap di ruang gelap tadi. Dengan rasa putus asa ia mencoba mengingat kembali penjelas App0 waktu itu, jika gelang ini hanya dapat membuat sebuah benda yang sesuai dengan kondisi tempatnya berada saat itu. Lalu ia pun mencoba memikirkan sesuatu, dan tiba-tiba gelang yang pakai bersinar membentuk sebuah obor yang gagang terbuat dari kayu. Dan seketika itu juga ruangan gelap itu menjadi sedikit terang, dan ia pun sudah dapat melihat area di sekelilingnya. Ternyata ia sedang berada di sebuah ruangan yang di kelilingi dinding bebatuan berbentuk seperti goa atau bangsal yang cukup luas. Disitu juga terlihat sebuah lorong kecil yang kelihatannya sangat panjang dan tak tau menuju kemana. Setelah memastikan seluruh area itu aman, ia memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Sembari mempersiapkan perbekalan dan alat-alat yang sekiranya diperlukan untuk keluar dari goa tersebut. Karna yang dapat di buat oleh Gelang Universal itu hanya sebuah obor tradisional, ia pun menyimpulkan bahwa saat ini ia sedang berada di zaman dimana belum ada alat elektronik. Jadi perlengkapan yang bisa di buat hanyalah alat-alat serta senjata tradisional yang biasa di gunakan orang-orang jaman dahulu. Tanpa pikir panjang ia pun membuat semua perlengkapan yang akan di bawanya nanti untuk keluar dari gua tersebut, serta tidak lupa iya membuat makanan untuk mengisi perutnya. Karna dulu ia sering ikut kemping dan sering melakukan pendakian gunung berhari-hari, jadi ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Setelah selesai mengisi perutnya, ia pun berusaha mencoba kembali untuk menghubungi App0 melalui gelangnya itu. Namun tetap tidak ada jawaban apa pun dari App0. Merasa semua usaha untuk menghubungi temannya percuma, ia pun memutuskan untuk langsung tidur agar tenaganya kembali pulih. Karna besok akan dimulai petualangan barunya, ia pun mulai memejamkan kedua matanya. Setelah merasa tertidur cukup lama, ia pun terbangun karna kondisi goa tidak lagi sedingin tadi dan api unggun yang di buat untuk menghangatkan tubuhnya itu pun telah padam. Jadi menurutnya sudah di pastikan kalau kondisi di luar gua sudah siang hari. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas mengambil semua perlengkapan yang sudah dibuatnya kemarin, serta tidak lupa mematikan semua obor yang dipasangnya di dinding batu. Dan ia hanya menyisakan satu obor untuk ia bawa keluar menelusuri lorong goa yang saat itu masih gelap gulita. Dengan terus berjalan perlahan tanpa mengendorkan kewaspadaan nya di lorong yang gelap itu. Dan sembari selalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya saat melangkah, ia pun sampai disebuah patahan lorong yang di laluinya itu. Lalu ia pun melihat biasan cahaya seperti cahaya matahari dari luar yang masuk di celah-celah lubang kecil yang ada di tempat itu. Karena melihat sumber cahaya yang terlihat dari kejauhan itu, ia pun segera bergegas berjalan mendatangi sumber cahaya tersebut. Ia merasa cahaya yang ditujunya itu pun terasa semakin mendekat dan tak lama berjalan ia pun sudah sampai di sebuah cela seperti pintu keluar yang tidak begitu besar, namun bisa di gunakan untuk keluar masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD