Walau kalimatnya tidak di mengerti oleh Ipul karna perbedaan bahasa, namun Bangkui mengerti apa yang ia katakan. Lalu Bangkui pun mulai menjelaskan permintaanya itu, dan Ipul pun hanya biasa menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Melihat ia sudah bisa bergerak dan berbicara Ipul segera mengeluarkan bekal makanannya untuk di berikan kepada pemuda yang terluka tadi. Dengan perlahan pemuda tersebut memakan potongan daging yang ada di tangannya itu, sampai tidak tersisa sedikit pun.
Setelah selesai makan pemuda itu pun tertidur sejenak untuk memulihkan tenaganya yang sudah hilang akibat kehilangan banyak darah. Sembari menunggu pemuda itu bangun dari tidurnya, Ipul berlatih bela diri bersama Bangkui.
Melihat pemuda tersebut telah bangun, Ipul pun segera berhenti berlatih dan langsung menghampiri untuk membantunya mencoba berusaha berdiri. Walau pun dia sudah mampu berdiri namun sepertinya dia masih belum sanggup untuk berjalan.
Melihat semangat serta kegigihannya untuk bisa secepatnya kembali ke desanya, Bangkui pun langsung simpati kepadanya. Setelah mendapat izin dari tuannya, Bangkui segera membantu dengan masuk ke tubuh pemuda itu agar ia dapat bergerak seperti biasanya.
Karena Bangkui sudah masuk ke dalam tubuh pemuda itu, ia pun merasa kekuatannya sudah kembali lagi. dan ia sama sekali tidak menyadari kalau di tubuhnya sekarang bersemayam roh Bangkui yang membantunya untuk bisa bergerak saat itu.
Bangkui pun membantu pemuda tersebut untuk bisa berbicara dengan tuannya di sepenjang perjalanan mereka itu, agar mereka bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Dan tak terasa mereka sudah keluar dari hutan terlarang yang diberi nama oleh warga setempat dengan nama Hutan Puruk Antas.
Namun perjalanan mereka masih sangat jauh, perlu setengah hari lagi untuk mereka sampai ke desa dengan berlari. Berarti mereka baru bisa sampai ke desa tersebut selepas tengah malam nanti, itu pun kalau mereka terus berlari di gelapnya malam Itu.
Karna melihat semangat teman barunya itu, Ipul pun tidak keberatan jika harus menerobos hutan di malam itu demi bisa cepat sampai ke desa.
Setelah hari mulai gelap mereka pun berhenti sejenak untuk mengisi perut mereka, dan langsung bergegas melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Bangkui pun keluar sebentar dari tubuh pemuda yang bernama Usang itu. Bangkui keluar hanya ingin mengeluarkan istrinya dari peti tersebut agar peti itu bisa di gunakan untuk kendaraan mereka menuju ke desa.
Bangkui baru bisa menggunakan peti ini hanya pada malam hari, karna peti ini bisa di pakai untuk terbang agar mereka cepat sampai ke desa.
Setelah mereka semua duduk di atas peti tersebut, Bangkui pun kembali masuk kedalam tubuh Usang lagi dan mereka pun segera berangkat.
Dengan kecepatan terbang yang tinggi, hanya perlu waktu satu jam saja mereka pun sudah sampai di desa tempat Usang hidup.
Setelah sampai mereka tidak langsung masuk ke desa, mereka memilih bersembunyi untuk menunggu keluarnya sosok gaib paling berbahaya penjaga Puruk Antas.
Sosok gaib itu bernama Nyaring, dan sekarang sedang menguasai tubuh adik perempuannya Usang. Saat ini adik perempuan Usang yang bernama Kambang yang sedang di rasuki oleh nyaring itulah sudah ada di desa tersebut. Dan ia lah yang mecoba untuk membunuh Usang dengan menusuk tubuh Usang sebuah pisau dan mendorongnya jatuh ke jurang.
Karna malam ini masih malam bulan purnama, di perkirakan tepat tengah malam nantilah Nyaring akan memulai aksinya. Nyaring akan memangsa semua warga yang ada di desa tersebut.
Sembari menunggu tengah malam mereka pun mulai membuat rencana untuk mengalahkan Nyaring, menunggu ia keluar dari tubuh Kambang lalu kemudian memusnahkannya.
Mendengar semua rencana mereka, Ishah istri dari Bangkui pun tersenyum, jika dengan rencana mereka tidak dapat memusnahkan Nyaring maka Ishah akan menggunakan rencana yang telah ia buat sendiri.
Malam pun semakin larut bersama cahaya bulan purnama yang semakin terang. Terdengar alunan suara nyanyian Nyaring nan syahdu, yang membuat satu persatu warga di desa itu keluar dari gubuk mereka dengan berjalan tidak sadarkan diri. Mereka semua seperti terhipnotis mendengarkan alunan lagu yang di nyanyikan oleh Nyaring.
Setelah semua warga berkumpul di luar, maka Nyaring akan dengan mudah memulai aksinya tersebut. Dengan memakan satu persatu warga desa yang di mulai dari ayah Usang dan Kambang, kemudian di lanjutkan ke yang lain.
Nyaring pun mulai mendekat ke arah ayahnya Usang. Setelah tepat berdiri di depan lelaki tersebut, Nyaring pun mulai membuka lebar mulutnya dan bersiap untuk melahap korbannya.
Begitu Nyaring mulai beraksi, dengan cepat Usang menarik tubuh ayahnya ke belakang agar terhindar dari terkaman Nyaring. Dan di saat itu juga dengan cepat Usang menghujamkan tombak ke tubuh Nyaring, namun tombak tersebut hanya melewati tubuh Nyaring.
“Sudah ku duga.” Gumam Usang dalam hatinya.