BAB – 22

1806 Words

Amanda benar-benar kecewa dan terluka. Sesampainya di luar ruang kemasiswaan, Amanda berlari menuju belakang gedung HIMA jurusannya. Gedung yang bisanya memang sering sepi. Amanda membuka tas ranselnya dan meletakkan tas itu tepat di sisi kanannya. Gadis itu terduduk di atas rumput seraya mengangkat ke dua lututnya. Amanda menopang keningnya di kedua lutut itu. Ia pun menangis terisak. Jonas ... Nama itu kembali terngiang di benaknya. Nama itu seakan menjadi momok yang sangat menyakitkan di hati Amanda. Pria yang baru ia kenal namun sudah membuatnya repot dan dirundung banyak masalah. Amanda ingin menghindar, namun sayangnya tidak bisa. “Amanda ....” Tiba-tiba ada sebuah suara. Amanda pun menoleh ke sumber suara. “he—eh, Bang Febri ....” Amanda segera menyeka air matanya setelah meli

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD