BAB – 10
Amanda keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki terbata-bata. Lingerie hitam itu sangat amat membuatnya tidak nyaman.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Amanda berjalan mendekati ranjang dan duduk di atas ranjang seraya menyandarkan punggungnya ke dinding ranjang. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia malu tatkala memandangi tubuhnya dengan pakaian mini itu lewat pantulan cermin besar yang ada disisi kiri ranjang.
“Sudah siap?” tanya Jonas tanpa menoleh ke arah Amanda. Pria itu masih saja duduk di sofa bundar seraya menatap langit kota Jakarta.
Amanda tidak mejawab. Netranya mulai berkaca-kaca. ia tidak mampu membayangkan kehormatannya akan pergi saat ini juga. Keperawanan itu akan terjual begitu saja.
“Mengapa tidak menjawab?”
Bibir Amanda benar-benar kelu. Ia tertunduk dan netra itu pun tidak mampu lagi menahan air mata lebih lama.
“Sudah siap atau tidak?!” bentak Jonas setengah berteriak.
“I—iya, Pak.” Amanda terbata.
Jonas pun bangkit. Ia berjalan mendekati Amanda dengan ke dua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia menatap Amanda yang begitu menggodɑ. Pɑkaian mini dan transparan yang dikenakan Amanda, membuat gadis itu sangat menggairahkɑn. Jonas semakin memanas.
Perlahan, Jonas mulai melepas kemejanya dan membuang kemeja itu sembarangan. Ia mulai naik ke atas ranjang dan mendekati Amanda. Amanda semakin takut dan air mata itu keluar semakin deras dari sepasang netra cokelat terang itu.
“Cantik ....” gumam Jonas seraya membelai rambut lurus nan halus milik Amanda.
Amanda masih terus tertunduk. Dadanya naik turun akibat debaran jantung yang kian memacu. Air matanya semakin deras dan mulai diiringi oleh isakan-isakan ringan.
Jonas mengangkat dagu Amanda hingga wajah itu terangkat. Tapi Amanda masih belum berani menatap Jonas.
“Mengapa kamu menangis?”
“Tidak ada apa-apa, Pak. Sa—saya hanya rindu dengan ibu dan ayah,” bohong Amanda. Ia tidak ingin membuat Jonas marah dan ia akan dilempar ke lantai dasar.
“Buat apa kamu saya bawa ke sini?” tanya Jonas yang berusaha mengendalikan debaran jantungnya.
“U—untuk menyenangkan anda, Pak.”
“Terus?”
“Untuk mem—memberikan keperawanɑn saya kepada anda.”
“Kalau begitu ayo kita mulai.”
Amanda mengangguk, pasrah, “Lakukan saja apa yang ingin anda lakukan terhadap saya.”
Dahi Jonas kembali basah oleh keringat. Ia terus memegangi dagu Amanda dan menatap wajah cantik itu dengan pandangan nanar. Jonas bingung harus memulai semuanya dari mana.
Joasn pun melepaskan jarinya dari dagu Amanda. Ia menyugar kasar rambutnya seraya menyeka keringan di dahinya.
“Ba—bagaimana cara memulainya?” lirih Jonas.
“Mana saya tahu, memangnya saya pernah?” Amanda kembali tertunduk.
Jonas melirik miliknya yang mulai bangun semenjak melihat Amanda duduk menyandar di dinding ranjang dengan pakaian mininya. Celana yang ia kenakan tiba-tiba saja semakin sempit.
Jonas kembali mendekati Amanda. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah cantik nan mulus itu. Telunjuk kanannya kembali menekan dagu Amanda hingga bibir gadis itu nyaris menyentuh bibirnya.
Dengan degupan jantung yang bergetar hebat, Jonas seketika menyatukan bibirnya dengan bibir Amanda. Bibir itu pun bertemu untuk pertama kalinya. Itu merupakan ciuman pertama bagi Jonas dan juga Amanda.
Jonas merasa aneh, ketika bibirnya untuk pertama kali bertemu dengan bibir Amanda. Ada sebuah rasa yang tidak biasa yang bersemayam di dalam hatinya. Ada sebuah getaran yang tidak dimengerti oleh pria itu. Ia candu dan enggan melepaskan penyatuan daging lembut itu.
Cukup lama Jonas menikmati manisnya bibir gadis pesanɑnnya. Walau kaku dan menempel begitu saja, tetap saja rasanya manis dan membuat Jonas enggan untuk melepaskan.
Tiba-tiba, Amanda menyentak wajah Jonas hingga penyatuan bibir itu terlepas. Gadis itu terbatuk secara tiba-tiba.
“Ada apa?” Jonas panik. Ia mengurut leher Amanda dengan lembut.
“Mi—minum ...,” lirih Amanda.
“Sebentar, akan saya ambilkan.” Jonas segera turun dari ranjang dan mengambil sebotol air mineral yang memang sudah tersedia di kamar itu.
Jonas membukanya dengan cepat dan memberikannya kepada Amanda. Amanda segera meminum air mineral itu hingga tersisa setengahnya.
“Terima kasih, Pak.” Amanda kembali memberikan botol itu kepada Jonas. Jonas menerima dan meletakkannya di atas nakas.
“Apa yang terjadi?”
Amanda menggeleng, “Tidak ada apa-apa. Kerongkongan saya tiba-tiba gatal.” Amanda berusaha tersenyum.
Kenapa bibir wanita ini terasa sangat manis. Apakah semua bibir wanita sama saja, atau bibir perɑwan rasanya memang seperti ini? Jonas kembali merenung seraya memerhatikan bibir Amanda.
Baru saja Jonas hendak mendekat, tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering. Ada panggilan suara dari ibunya.
Jonas mendengus kesal. Akan tetapi, ia tetap harus mengangkat panggilan suara itu.
“Halo, Mi.”
“Kamu lagi di mana, Jo? Katanya kamu di Jakarta ya?”
“Ya, memangnya ada apa?”
“Mengapa kamu tidak mengabari mami.”
“Buat apa?”
“Kata Luna, kamu tiba-tiba saja meninggalkan Luna ketika kalian bertemu malam itu. Ada apa, Jo?”
“Tidak ada apa-apa, Mi. Jonas tiba-tiba ada kerjaan di kota Padang. Sekalian mau cek perkembangan bisnis hotel kita di sana. Mami lagi di Jakarta?”
“Tidak, mami lagi di Bali. Jo, mami hanya ingin mengingatkan kamu kalau hari pernikahan kamu dan Luna semakin dekat. Kamu harus memberi perhatian lebih banyak kepada calon istrimu itu. Masalah bisnis, bukankah banyak karyawan kita yang mengurus. Mereka semua berkompeten di bidangnya masing-masing.”
“Ya, Jo tahu, Mi. Tapi sebagai pimpinan, Jo nggak mungkin terima begitu saja semua laporan dari mereka. Jo juga harus terjun langsung ke lapangan untuk memeriksa semuanya.”
“Iya, mama tahu. Akan tetapi ini kondisinya berbeda. Luna butuh perhatian kamu. Kamu harus sering-sering temani Luna untuk mengurus pernikahan kalian.”
“Hhmm ....” Jonas hanya bergumam, pelan.
“Jo, mama akan suruh Luna untuk menemui kamu.”
“Jangan, Mi!”
“Lho, kok jangan?”
“Jo sedang ada kerjaan. Sebentar lagi mau meeting. Besok pagi rencananya Jo akan terbang ke Bali, ada urusan pekerjaan juga.”
“Meeting apa tengah malam begini? Jangan bohongi mami, Jo.”
“Mi, sejak kapan tidak boleh meeting darurat tengah malam? Bahkan dulu papi sering meeting mendadak jam tiga dini hari.”
“Mami sudah bilang, tinggalkan semua itu sejenak. Prioritaskan dulu Luna, Jo.”
“Terserah mami saja!”
Jonas berang. Pria itu seketika mematikan ponselnya. Telepon dari ibunya membuat Jonas tidak lagi berselera untuk mencicipi keperawɑnan Amanda.
Jonas menghempaskan bokongnya dengan kasar ke tepi ranjang. Pria yang masih bertelanjɑng d**a itu, menumpu ke dua sikunya di atas lututnya.
Tidak lama, ponselnya pun berdering. Ada panggilan dari Luna—tunangan Jonas.
Jonas tidak mengangkat panggilan itu. Ia hanya mematikan suaranya saja dan membiarkan ponsel itu bergetar sendiri. Jonas pun meletakkan ponselnya di atas nakas, sementara ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Amanda yang masih duduk dengan kaku, melirik Jonas pelan-pelan. Ingin bibirnya bertanya, namun ia terlalu takut. Toh, dirinya bukan siapa-siapanya Jonas. Ia hanyalah gadis pesanɑn yang sudah dibayar mahal oleh Jonas.
“Sebaiknya kamu tidur saja. Saya sedang tidak ingin melakukan apa pun. Nanti akan kita coba lagi,” ucap Jonas tanpa menoleh ke arah Amanda.
Amanda menarik napas panjang. Ia begitu lega mendengar pernyataan Jonas. Setidaknya, Tuhan masih melindunginya untuk saat ini.
“Bo—boleh saya pakai selimut? Sebab AC-nya terlalu dingin.” Amanda sedikit takut.
“Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan.” Jonas memutar tubuhnya hingga membelakangi Amanda.
Amanda tersenyum. Ia menarik selimut dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal berwarna putih bersih. Perlahan Amanda mulai memejamkan mata.
Jonas sendiri masih bingung. Ia tidak tahu, mengapa ia bisa tiba-tiba kaku di depan Amanda. Bukankah ia sudah membayar mahal?
Di saat dirinya tengah merenung, ponselnya pun kembali berdering. Luna kembali menghubungi.
Jonas mengangkat, “Ada apa?”
“Sayang, kata mami kamu lagi di Jakarta? Kok nggak ngabarin aku. Tadi kenapa kamu nggak angkat telepon aku?”
“Tadi aku sedang mandi. Memangnya ada apa?”
“Kamu nginep di mana sih? Barusan aku dari rumah, kata pembɑntu kamu, kamu nggak ada. Bahkan belum datang lagi ke rumah.”
“Aku sedang ada urusan pekerjaan.”
“Bisa kita bertemu?” Luna bertanya manja.
“Maaf, Luna. Aku sedang sibuk.”
“Jo, aku ini calon istrimu lho. Harusnya kamu itu lebih memprioritaskan aku dulu. Lagi pula kalau kita sudah menikah, bisnis kita akan semakin besar karena dua perusahaan besar akan menyatukan aset mereka.”
“Hhmm ... Tapi bukankah kita belum menikah?”
“Jo, ada apa sih dengan kamu? Kamu mau menolak perjodohan kita? Ingat, Jo. Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini batal, sebab aku sudah terlanjur mencintai kamu.” Terdengar nada penuh penekanan dari balik panggilan suara.
“Aku tidak pernah bilang akan membatalkan pernikahan ini. Aku hanya mengatakan kalau saat ini aku belum bisa bertemu karena aku sedang sibuk.”
“Aku tidak mau tahu, Jo. Aku ingin bertemu malam ini. Aku bosan di apartemen. Temani aku ke diskotik. Kamu harus mempersiapkan diri.”
“Tapi, Luna.”
“Tidak ada tapi-tapian. Kalau kamu menolak, aku akan laporkan pada mami kamu!”
“Okay, setengah jam lagi aku akan menjemputmu.”
“Sampai jumpa, Sayang ... mmuacchh ....”
“Sampai jumpa.”
Jonas memutuskan panggilan itu terlebih dahulu dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Jonas lalu membalik tubuhnya dan kembali menatap wajah Amanda yang tiba-tiba saja sudah terlelap. Gadis itu tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga bagian leher.
Cantik ... gumam Jonas lagi seraya mendekati wajah itu tanpa menyentuhnya.