Malam ini, Amanda bisa kembali menikmati makan malam sederhana di atas tikar berukuran dua kali dua setengah meter. Rendang telur buatan ibunya, cukup mampu menggugah selera gadis itu. Tidak hanya rendang telur yang tersedia, di tengah-tengah mereka juga ada tumis kangkung terasi balado dan jengkol muda kesukaan Iman—ayah Amanda. Amanda dan ke dua adiknya begitu menikmati kebersamaan makan malam yang memang selalu dibiasakan oleh Iman setiap malamnya. “Ayah sudah sembuh?” tanya Amanda ketika Iman keluar dari kamar dan duduk bersila bersama ke tiga anak-anaknya. “Alhamdulillah ... sudah jauh lebih baik.” Amanda begitu bahagia tatkala melihat senyum itu dari balik bibir ayahnya. “Besok ayah akan mulai jualan,” ucap Iman seraya menuang nadi ke piringnya. “Jangan dulu, Ayah ... pulihkan

