Viola terus menebar senyum seraya menatap wajah Amanda yang masih terkulai lemah. Nilai uang yang besar, sudah menari-nari di otaknya. Sudah banyak rencana yang bersemayam di otak Viola. Sudah banyak lis barang yang ingin ia beli setelah ini. Ia juga ingin berlibur dan menikmati harinya yang indah bagai di surga. Sebuah seringaian terukir di bibir Viola. Wanita itu menatap jalanan kota Padang seraya terus berkhayal. “Kemana kita akan membawa wanita ini, Nona?” tanya sang pengemudi, menyentak lamun dan angan Viola. Viola menyebutkan sebuah alamat rumah, tempat sang pria paruh baya sudah menunggu wanita pesanannya. “Okay, baiklah, Nona.” Sang pria mempercepat laju kendaraanya. Sementara di belakang, seorang pria terus mengikuti mobil yang ada di depannya. Ia berhasil mencatat nomor po

