Malam pun menjelang. Luna meminta Jonas menemaninya ke diskotik. Gadis itu memang tidak bisa lepas dari dunia malam. Baginya, dunia malam adalah setengah dari hidupnya.
“Kamu juga masih sering ke sini’kan Jo?” tanya Luna sesaat sebelum mobil Jonas sampai di tujuan.
“Hhmm ....”
“Jo, aku ini calon istri kamu. Jangan bersikap seperti itu.” Luna yang mengenakan pakai super mini, membuang muka seraya menyilangkan tangan ke dɑdɑ.
“Ini tidak ada hubungannya dengan rencana pernikahan kita.”
“Ada hubungannya dong. Kalau kamu masih sering ke sini, itu artinya kita sama. Aku tidak ingin nanti kamu membuat aturan yang aneh-aneh setelah kita menikah nanti.”
“Aku tidak akan mengatur apa pun atau membatasi sedikit pun ruang gerak kamu. Nikmati hidupmu dan aku juga akan menikmati hidupku,” jawab Jonas, datar.
“Great ... Aku suka pola pikir seperti itu.” Luna tersenyum.
Jonas hanya diam dan mulai membelok laju mobilnya hingga memasuki area diskotik terbaik di Seminyak—Bali.
Jonas dan Luna pun turun dan memasuki area klub malam secara bersamaan. Luna begitu bersemangat ketika alunan musik yang dimainkan DJ menggema dengan asyiknya. Wanita itu tidak sabar ingin segera maju ke lantai dugem dan berjoget sepuasnya.
“Jo, ke sana yuk,” ajak Luna sesaat setelah melepas blazer yang sebelumnya membalut tubuhnya. Kini, tubuh itu hanya berbalut tanktop mini yang memamerkan perut datar Luna.
“Kamu saja. Aku tidak terlalu suka bergoyang. Aku lebih senang duduk di sini seraya menikmati wine.”
“Ternyata kamu belum berubah,” sindir Luna.
Jonas menggerakkan tangannya ke arah puluhan pengunjung yang mulai berteriak dan menggerakkan tubuh mereka sesuai irama.
“Okay, aku ke sana dulu.”
Luna pun meninggalkan Jonas dan bergabung bersama puluhan pria dan wanita yang asyik menikmati alunan musik itu. Luna semakin heboh ketika ia bertemu dengan dua orang wanita kenalannya. Luna mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama lagu yang dimainkan DJ sementara Jonas hanya memerhatikan seraya menikmati wine-nya.
“Hai Jo, kapan ke Bali?” Tiba-tiba Jonas dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
“Hai, Alex. Ini beneran kamu? Bukankah kamu sedang di Perth?” Johan menyambut sahabat lamanya dengan suka cita. Ia mengulurkan tangan dan menyalami pria bernama Alex itu.
“Sudah hampir lima bulan aku kembali ke Indonesia. Kebetulan lagi iburan ke sini.”
“Jadi selama ini kamu di mana?”
“Jakarta, sedang membangun bisnis ekspedisi.”
“Wow, keren ... tidak meneruskan bisnis papa kamu saja?”
Alex menggeleng, “Tidak! Aku tidak tertarik. Biar kak Gibran saja yang meneruskan bisnis papa. Aku ingin mandiri.”
“Hebat kamu, Lex. Aku sendiri tidak berani lepas dari orang tua. Sampai menikah pun atas pilihan orang tua.” Raut wajah Jonas berubah seketika.
“What? Kamu mau menikah?”
“Hhmm ....”
“Dengan siapa?”
“Luna.”
“Luna? Luna Clarissa?”
“Yeah!”
“Baru saja Alex memutar wajahnya, netranya langsung menangkap sosok Luna, teman Alex dan Jonas di kala SMA.”
“Luna?” Alex menatap Jonas dengan tatapan penuh tanya seraya menunjuk Luna dengan jempol kanannya.
“Yeah!”
“Kamu mencintai Luna? Bukankah dulu kamu sudah punya kekasih, bagaimana kabarnya?”
Jonas menggeleng, “Kalau aku mencintai Luna, aku pasti akan sangat bahagia dengan rencana pernikahan ini. Tapi kamu bisa lihat sendiri bukan, ekspresiku bagaimana?”
“Lalu kenapa kamu menerimanya? Bagaimana kabar Angel?”
“Kabarnya Angel sudah menikah. Ke dua orang tuaku menolaknya. Alasan mereka, Angel tidak sepadan dengan keluarga kami.” Netra Jonas menerawang menatap langit-langit diskotik yang kelap-kelip oleh lampu disko.
“Jo, kalau kamu memang tidak mau, kamu harusnya bersikap tegas dong. Pernikahan itu adalah tentang masa depan. Untuk apa kamu menikah jika kamu tidak bahagia?”
“Bagiku, tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan mami. Aku pernah mencoba memaksakan kehendak, dan semua berakhir dengan dirawatnya mami selama dua minggu di rumah sakit. Makanya sekarang aku tumbuh jadi pria pengecut.” Jonas tertawa lirih. Ia menghina dirinya sendiri.
Alex mengangguk. Ia menepuk pelan pundak Jonas, “Aku mengerti, Jo. Resiko jadi anak tunggal. Beruntung kak Gibran mau meneruskan usaha papa, jadi aku masih bebas menentukan pilihan hidupku sendiri.”
“Walau aku tidak yakin akan bahagia, tapi aku akan mencoba menerima Luna. Setidaknya demi kebahagiaan mami dan papi.”
“Aku tahu banget siapa kamu, Jo. Semoga saja kamu bahagia bersama Luna. Oiya, ia datang ke sini. Sebaiknya aku segera pergi. Aku tidak ingin merusɑk kencɑn kalian.”
Jonas mengangguk, “Sampai jumpa lagi, nanti.”
Tidak lama setelah Alex pergi, Luna datang dan duduk di sebelah Jonas, “Siapa tadi?”
“Alex.”
“Alex, siapa?”
“Teman SMA.”
“Alex? Alex yang pernah pacaran sama Rumi.”
Jonas mengangguk.
“Kok tiba-tiba pergi pas aku datang?”
Jonas mengangkat bahunya. Pria itu bahkan tidak peduli dengan pertanyaan Luna. Jonas lebih senang menikmati wine seraya memerhatikan puluhan orang yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di depan sana.
Luna pun mulai menenggak Wine dengan sloki yang berbeda. Wanita itu juga mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya dengan nikmat di samping Jonas.
“Luna, kamu merokok?” Jonas menatapnya, tidak senang.
Luna mengangguk, “Memangnya kamu enggak?”
Jonas menggeleng, “Pernah mencoba dan rasanya tidak enak.”
“Hahaha ... kamu benar-benar cupu banget ya ... kok bisa-bisanya mami dan papi aku maksa aku nikah sama laki-laki cupu kayak kamu.” Luna menghembuskan asap rokok itu ke wajah Jonas.
Jonas menyibak asap itu, ia tidak nyaman.
“Untung kamu ganteng dan kaya raya. Kalau tidak, aku tidak akan mau menikah sama kamu.” Luna kembali meniup asap itu. Tapi kali ini bukan ke wajah Jonas, melainkan ke udara.
“Mengapa kamu tidak menolak saja pertunangan ini?”
“Memangnya kamu bisa menolak?” Luna menatap Jonas, netranya sudah mulai memerah akibat wine yang ia tenggak.
Jonas diam. Pria itu kembali menghabiskan wine dalam sloki yang ada di tangannya. Jonas menghempaskan punggungnya ke dinding sofa.
Luna yang sudah mabuk, menatap Jonas. Wanita itu tiba-tiba bernɑfsu. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Jonas dan berusaha mencium pria itu.
Jonas segera mengelak, “Luna, apa-apaan ini?”
“Jo, anterin aku ke hotel ya ... aku udah ngantuk.” Luna mulai meregang ke dua tangannya. Wanita itu mulai mabuk berat.
“Ya, sebaiknya kita pulang sekarang. Aku akan antar kamu ke hotel.” Jonas memapah tubuh Luna karena wanita itu mulai sempoyongan.
Setelah mereka berdua sampai di atas mobil, Jonas pun melajukan mobilnya menuju hotel tempat Luna menginap. Ia mengantar Luna sampai ke dalam kamar.
Setelah memastikan Luna aman di atas ranjang, Jonas pun melepaskan tubuhnya dari tubuh Luna. Pria itu berniat meninggalkan Luna dan kembali ke rumahnya.
Namun tiba-tiba Luna menarik lengan Jonas, hingga Jonas terjatuh ke atas ranjang. Wanita itu seketika meníndih tubuh Jonas dan mencoba melumat bibir pria itu.
Jonas dengan cepat mengelak. Ia juga mendorong tubuh Luna hingga tubuhnya terlepas dari tindihan Luna.
“Luna, apa-apaan kamu!”
“Come on, Jo. Jangan munafik gini lah. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah? Anggap saja ini pemanasan.” Luna terus menggoda Jonas dan kembali berusaha menarik lengan pria itu.
“No, Luna. Aku tidak mau.” Jonas tetap menolak.
“Jo, kamu jangan sok suci. Aku dan kamu itu sama-sama sudah terbiasa dengan dunia malam. Itu artinya, hal seperti ini itu biasa dilakukan.”
“Apa maksudmu, Luna?”
Perlahan, Luna mulai melepas tanktop mini yang memamerkan perut datarnya.
“Aku ingin kita tidur berdua malam ini.” Luna hampir saja hendak melepas brɑ denga tali transparan yang melindungi asetnya.
“Luna, STOP!”
“Jonas, kamu jangan munafik lah. Sudah berapa wanita yang kamu tiduri, ha? Memangnya aku tidak lebih menarik dari wanita-wanitamu itu? Aku saja yang sudah mencicipi beberapa pria yang lebih macho dari kamu, tidak sombong, cuih!”
“Apa?!” Jonas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Ayolah, Jo.” Luna kembali memaksa.
Jonas menghentak tangan Luna. Ia bergegas pergi meninggalkan Luna.
“DASAR COWOK BΑNCI!! SOK SUCI!! AWAS KAMU, JO. SETELAH MENIKAH NANTI AKU TIDAK AKAN MEMEDULIKANMU!”
Jonas tidak memedulikan teriakan Luna. Pria itu tetap melangkah dan meninggalkan Luna sendirian di kamar hotel itu. Jonas pun tidak pulang ke rumahnya melainkan mencari hotel lain untuk menginap.
Sesampainya di kamar hotel, Jonas segera mengeluarkan gawai dan memesan tiket pesawat ke kota Padang. Ia akan terbang dengan pesawat tercepat besok pagi. Jonas sudah mencintai daerah itu semenjak ia memutuskan membangun cabang hotelnya di sana.
Flash back off ...