“Terima kasih, Ma..." Fellycia memeluk Mamanya Kevin.
"Sama-sama, sayang."
“Mama kan baru pulang, sebaiknya Mama istirahat saja,"kata Kevin seolah-olah mengusir Mamanya dari kamar.
Wanita itu menatap Kevin dengan datar."Kamu mau berduaan saja ya dengan Felly, kau jangan macam-macam ya, kandungannya masih rawan, kau jangan coba-coba menyentuhnya!"
“Iya, Ma, Dokter udah kasih tahu itu kok."
"Baik, Fell, kalau kamu bosan, kamu bisa cari Mama di taman, di kamar, atau perpustakaan ya."
“Iya, Ma."
“Mama istirahat dulu."Wanita itu oun keluar dari kamar.
Kevin mengembuskan napas lega, ia kembali berbaring."Aku mau lanjut tidur, boleh kan?"
“Silakan."
"Boleh peluk kamu sambil tidur?"
Fellycia naik ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah Kevin. Pria itu membalikkan badan Fellycia, lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
**
Hari-hari Fellycia dilewati dengan menghabiskan waktu bersama Lia, Mama Kevin. Lia selalu menemani keseharian Fellycia agar pikirannya terbuka lebar, wawasannya luas, dan tidak mudah stres. Ia sangat paham di posisi itu kita sangat membutuhkan dukungan moral dari keluarga. Lia juga mengajarkan Fellycia banyak hal, termasuk merawat tanaman, memasak, sesekali ia mengajarkan Fellycia merawat bayi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Fellycia juga mengikuti program paket C atas bantuan dan saran Kevin.
Lima bulan sudah terlewati, selama itu juga Kevin, Evans, dan Lia memberi semangat dan dukungan pada Fellycia. Wanita itu mendapatkan kasih sayang yang begitu melimpah. Perutnya sekarang sudah besar sekali padahal masih lima bulan, ia tidak bisa membayangkan jika nanti usia kandungannya mencapai sembilan bulan.
Hari ini, Kevin dan Lia akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Oleh karena itu, Evans yang menemani Fellycia di rumah. Ada berita baik dari Evans, ia sudah menceritakan tentang Fellycia pada orangtua dan adik-adiknya, awalnya mereka kaget, tapi, kemudian perlahan mereka bisa menerima. Mereka akan menerima Fellycia seandainya itu adalah anak Evans, mereka juga mendukung Evans sepenuhnya untuk memperhatikan Fellycia. Rencananya, besok Evans akan membawa Fellycia ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga. Katanya, Mama Evans ingin ikut saat Fellycia chek up ke Dokter.
Fellycia berbaring di sofa, kepalanya bersandar pada bantal yang besar. Evans menyalakan musik klasik, kemudian ia duduk di atas karpet tepat di depan sofa yang sedang ditempati Fellycia.
"Kamu nggak pergi?"tanya Fellycia.
"Pergi ke mana?"
"Ke rumah Pacarmu, mungkin...ini kan weekend."
“Aku nggak punya pacar,"balas Evans.
"Oh..."
Evans membalikkan badannya."Aku nggak pernah punya pacar, tapi, teman dekat wanita ada, tapi, sejak ada kamu...aku nggak dekat-dekat lagi sama mereka."
"Nggak apa-apa kan mereka teman kamu."
"Nanti kamu cemburu, kan?"tatap Evans, tapi kemudian ia tertawa karena ekspresi Fellycia yang seperti setuju dengan ucapannya."Jangan dipikirkan, aku dan Kevin sudah berjanji melupakan kehidupan gemerlap kami, karena sebentar lagi akan menjadi Ayah."
"Iya." Fellycia suka dengan Evans dan Kevin, tentu ia tidak akan pernah keberatan menjadi istri atau kekasih mereka, tapi, ia masih belum bisa bernapas lega karena belum tentu ini adalah anak dari Evans atau Kevin. Masih ada Nathan atau Adam. Meskipun Kevin dan Evans sudah menjamin,anak mereka atau bukan, mereka akan tetap merawatnya, tapi hati Fellycia tentu tidak bisa tenang.
"Ini udah sore, kamu harus minum jus. Aku bilang ke Bu Nana dulu ya." Evans bangkit.
"Terima kasih,"kata Fellycia.
Baru beberapa langkah, bel berbunyi, Evans cepat-cepat berjalan menuju pintu sebelum Fellycia yang membukanya.
"Hai!" Nathan muncul di depan pintu.
"Oh, kau rupanya. Ayo masuk!"
"Oke." Nathan masuk, mengikuti Evans, lalu matanya tertuju pada wanita yang berbaring di sofa.
"Duduk dulu, Nath, aku mau bikinin jus untuk Felly,kau mau minum apa?"
"Kopi saja,"balas Nathan.
"Oke."
Evans pergi ke dapur, Nathan berjalan mendekati sofa."Fell?" Nathan menatap Fellycia, tubuhnya membatu, matanya tidak lepas dari perut wanita itu.
Fellycia tersenyum,"hai, Nathan."
"Iya, kau masih ingat aku rupanya." Pria itu duduk di seberang Fellycia.
“Iya, aku masih ingat kok. Evans dan Kevin sering menyebut namamu dan Adam."
Nathan kembali menatap perut Fellycia."Kenapa besar sekali,kata Evans, bukannya masih lima bulan ya. Ini...seperti sudah mau melahirkan saja."
Fellycia mengusap perut buncitnya."Iya, karena ada lima, makanya sebesar ini."
Nathan langsung menganga."Li...lima?"
"Iya, ada lima bayi di dalam perutku, anugerah yang maha kuasa." Wanita itu tersenyum manis.
"Ma...maksudnya?" Kening Nathan berkerut. “Aku nggak paham."Kembar? Tapi, lima?"
“Iya, aku mengandung bayi kembar lima, Nathan."
Evans datang memecahkan keheningan yang terjadi setelah Fellycia mengatakan kondisi yang sebenarnya. Sepertinya Nathan syok.
“Ini, bro, kopinya!"
“Thanks, Vans!"balas Nathan.
“Fell, ini jusnya diminum." Evans datang menyerahkan segelas besar jus mangga, kemudian ia duduk di dekat kaki Fellycia,meletakkan kali Fellycia ke pangkuannya. Setelah itu ia memijit-mijitnya, perlakuan yang membuat Nathan geli, Evans sudah seperti b***k cinta saja.
"Memang beneran ya, Felly mengandung anak kembar lima?"tanya Nathan pada Evans untuk memastikan wanita itu tidak mengada-ada.
“Iya, kan ada hasil USG, mungkin anakku, karena aku juga punya keturunan kembar,"balas Evans, tapi, hal itu justru membuat hati Nathan terdetak.
Nathan terdiam beberapa saat sambil memperhatikan wajah Fellycia yang merona saat Evans memijit kakinya, atau mungkin wajahnya merona karena ia semakin sehat dan bahagia selama di sini. Tapi, ada hal yang mengganggu pikiran Nathan, ia juga memiliki keturunan kembar, yaitu dirinya. Kembarannya, Andra, meninggal akibat kecelakaan beberapa tahun silam. Nathan pun kembali teringat ketika dimana mereka masih liburan, ia yang pertama kali tidak menggunakan pengaman pada Fellycia, dan ia menyembunyikan kebenaran itu dari ketiga temannya. Bagaimana jika ternyata itu adalah anaknya, mereka pasti lucu, tampan atau cantik, mereka akan mirip dengannya.
"Kau kenapa?"tanya Evans.
Nathan menggeleng."Nggak, cuma ingat Papaku aja."
“Iya, sehat-sehat aja kan Om Hans?"tanya Evans.
“Ya, tapi, begitu...katanya mau menikah sama Tante Diana, Mamanya Adam."
“Nggak buruk-buruk amat kan kalau kau saudaraan sama Adam." Evans tertawa.
“Buruk! Sangat buruk." Nathan terlihat cemberut.
Evans kembali tertawa. Pria itu terus memijit kaki Fellycia yang sedikit membengkak karena kehamilan ini. Membawa perut sebesar itu pasti sangat melelahkan, hingga Evans selalu memijit kaki wanita itu. Nathan hanya bisa merenung melihat perlakuan Evans yang begitu manis pada Fellycia. Nathan merasa Evans terlalu yakin kalau itu adalah anaknya.
Bagaimana kalau ternyata itu adalah anak Nathan?
Pertanyaan itu terus-terusan mengusik pikiran Nathan. Jelas-jelas sejak awal ia sudah menolak keras kehadiran Fellycia, Evans dan Kevin juga sudah memberi peringatan keras agar tidak mengambil anak-anak itu walau terbukti itu anak Nathan atau Adam. Nathan menggeleng keras, seharusnya ia tidak perlu memusingkan hal tersebut, sejak awal ia sudah mengatakan dan memastikan kalau tidak ingin terlibat.