"Lepasin!!" geram Lia. Dia setengah menangis dengan air mata yang menyelimuti pelupuk matanya, namun masih tertahan lantaran belum jatuh dan belum menggenang di pipi. Perasaannya hancur karena merasa seperti perempuan murahan. "Aku nggak mau, tolong jangan seperti ini Pak Angga. Aku mohon ... tolong lepaskan aku!!" "Kau pikir aku perduli. Kau sudah menghancurkan diriku Lia, jadi ayo hancur bersama!" Lia geleng-geleng kepala dengan wajah putus asa seperti hilang harapan. Bagaimana tidak, meski susah payah, Angga tetap berhasil membawanya dan menguncinya di dalam kamar di apartemen pria itu. Apa yang akan pria itu lakukan, tentu saja tidak baik dan Lia sangat ketakutan. "Pak Angga mengertilah ... aku mohon! Bukankah kehormatanku juga suda kau ambil?" Angga tersenyum devil dan menyer

