Aku tahu kalau Ibu masih begitu berat untuk menerima keadaanku sekarang. Ibu melarangku untuk keluar rumah. Sejak pulang kembali ke rumah, aku memang hanya menghabiskan seluruh waktuku di rumah, terutama di kamarku. Kemungkinan besar yang sangat mungkin terjadi adalah karena Ibu belum siap kondisiku diketahui oleh banyak orang. Ini aib. Bukan sebuah kebangaan yang bisa dibagikan dengan banyak orang. Akan berbeda ceritanya kalau aku terikat dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Mungkin Ibu akan dengan sangat bangganya mengumumkan kehamilanku pada setiap orang yang ditemuinya. Tapi, kenyataan berbanding terbalik. Aku hanyalah seorang anak yang sudah mencoreng nama baik keluarga dengan aib yang memalukan. “Bu, saya ambil di dapur, ya.” Langkahku terhenti seketika

