Tatjana sama sekali tak menghiraukan panggilanku. Kuikuti ia keluar gedung. Saat di lobi, sebuah mobil berhenti. Seseorang yang sumpah demi apapun sangat kubenci keluar dan membukakan pintu untuknya. Semuanya benar-benar sudah berakhir. Tak ada harapan lagi untuk hubungan ini. Tatjana sudah menyampaikan keputusannya. Aku masih memilih untuk tinggal di rumah kedua orang tuaku. Bersama keduanya, setidaknya aku merasa sangat nyaman. Ada yang bisa kuajak berbincang untuk dimintai saran dan pendapat. “Kamu dari mana, Yas?” tanya Mama. “Kok jam segini udah pulang. Nggak ke restoran?” “Nggak, Ma. Aku nggak mood mau kerja. Masa bodoh sama kerjaan.” “Nggak boleh begitu, Yas. Punya restoran itu kan impian kamu. Sekarang kamu udah punya restoran, jadi kamu harus mengelolanya dengan baik. Kamu d

