MAFIA - 05

1638 Words
Abigail memang bukan wanita perawan lagi. Thomas mendapatkan kesempatan emas itu setelah berusaha meyakinkannya kalau mereka akan selalu bersama dan saling mencintai. Betapa picik dan bodohnya keputusan itu saat ini. Menyerahkan sesuatu yang begitu berharga untuk lelaki yang tidak pantas menerimanya. Namun, di luar dari pada itu, Abigail akan berpikir ratusan kali untuk menjadi b***k nafsu seperti Bellatrix dan empat wanita lainnya. Terjebak di mansion mewah, meski mendapatkan apapun yang mereka inginkan tapi harus memuaskan napsu tuannya yang memiliki perangai mengerikan. Sampai mati, Abi tidak akan menukar harga dirinya untuk diberikan ke Lucca. Tidak peduli dia akan menjadi pembantu di mansion entah sampai kapan. Meski dari ekspresi Bellatrix, menjadi pemuas nafsu The Black Rose seperti sebuah kebanggaan. Dilihat dari betapa congkaknya dia bisa mengalahkan empat wanita lainnya malam ini. Abigail tidak bisa menemukan di mana bagusnya menjadi p*****r ketua mafia yang tidak perlu diragukan keperkasaannya. Abigail bergidik dan ngeri sendiri saat melihat memar-memar merah yang nampak di tubuh wanita blonde itu yang cukup menganggu pandangan. Tidak perlu mengkonfirmasi dari mana asalnya, karena Abi bisa menebak, Lucca bermain kasar dengan para pelacurnya. Apa The Black Rose penganut s*x gaya keras seperti Mr.Gray? "Hei, cepat!!" Bentakan Bellatrix yang berdiri membelakangi mengembalikan lamunan Abigail. "Kau akan terima akibatnya jika membuat Tuan Lucca marah karena menunggu terlalu lama. Cepat pakaikan kimonoku!!" Abigail bergegas memakaikan kimono sutera berenda halus menutupi tubuh sintal berlekuk bak gitar spanyol milik Bellatrix yang hanya mengenakan G-string tanpa bra. Sama sekali tidak malu mempertontonkan tubuhnya seakan-akan dia bangga memperlihatkannya. Abi benar-benar dijadikan pesuruh Bellatrix yang ingin tampil cantik maksimal. Melakukan perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki demi satu tujuan; memuaskan Tuan Lucca. Abi berusaha mengenyahkan bayangan Lucca yang mencumbu setiap senti kulit Bella yang dibaluri aroma bunga. Bellatrix mengangkat rambut blondenya keluar dari dalam kimono yang menempel pas di tubuhnya dan menggerainya begitu saja, berbalik menghadap Abi seraya mengikat bagian depan kimononya yang seksi. Dadanya yang besar tanpa bra itu seakan menyembul keluar. Abi bahkan bisa melihat cetakan p****g wanita itu di sana. "Bagaimana penampilanku?" Bellatrix berjalan ke depan kaca dengan d**a membusung, dagu terangkat dan kaki jenjangnya yang terekspos . "Tuan Lucca pasti akan sangat b*******h malam ini," ucapnya penuh percaya diri. "Beberapa minggu ini dia pergi sangat jauh, aku yakin malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kami." "Aku penasaran--" Abigail buka suara setelah sebelumnya hanya diam saja menuruti semua perkataan Bellatrix. "Penasaran bagaimana perkasanya Tuan Lucca?" selanya, memandang Abigail dari kaca. "Jangan berani-beraninya kau membayangkan Tuan Lucca mencumbumu karena itu tidak akan pernah terjadi!!" "Tidak. Aku tidak sudi." Bellatrix mencebik dari pantulan kaca. "Aku penasaran, bagaimana tampilanmu setelah keluar dari sana. Memar-memar di tubuhmu masih membekas setelah beberapa minggu dia tidak di sini. Bukankah itu mengerikan!" Bellatrix berbalik, menatap tajam. "Aku malah suka Tuan Lucca menandai tubuhku seperti ini karena itu berarti sesuatu." "Kau jelas berharap p*****r bisa naik jabatan menjadi nyonya rumah," timpal Abi. "Apa itu ambisimu selama di sini?" Bellatrix maju, begitu dekat dan memilin rambut Abi, "Wanita yang pintar. Kalau itu terjadi, kau akan aku buang begitu juga empat wanita yang ada di luar sana." Bellatrix tersenyum miring, menghempaskan rambutnya dan berjalan melewatinya keluar kamar. Abigail terduduk di tempat tidur Bella yang besar dengan helaan napas panjang. Sepertinya tinggal di sini tidak akan mudah meski hanya menjadi pembantu. *** "Dia mau kemana?" Abi memperhatikan Bella melenggang santai ke arah mansion bagian selatan, bukannya ke kamar pribadi Lucca. Tidak malu saat tubuhnya diperhatikan setiap bodyguard Lucca yang tersebar di sekitar area mansion. "Tentu saja pergi melayani Tuan Lucca." Abigail menoleh dan mendapati Serafine ikut memandangi Bella yang semakin menjauh di sampingnya. "Bukankah dia salah jalan?" tanya Abi, tidak mengerti. Serafine menghadapnya, "Tidak. Dia tahu harus pergi ke mana. Satu kamar besar yang berada di sana merupakan tempat Tuan Lucca menikmati pelacurnya." "Kamarnya--" "Tuan Lucca tidak memperbolehkan siapapun masuk. Kau seharusnya paham kalimat itu." Abigail mengangguk, meski heran. "Oke baiklah. Area itu terlarang." Abigail kembali melihat ke kejauhan. "Semua lelaki yang dia lewati seperti menelanjanginya dengan tatapan." "Jangan hiraukan itu. Tuan Lucca bahkan tidak peduli karena Bella hanya pelacurnya. Lagipula, Bella tipe wanita yang semakin senang jika ada yang mengagumi tubuhnya." Dalam hati, Abi membenarkan, lalu kaget saat Serafine mengulurkan kunci yang langsung diambilnya dengan kening berkerut. "Mereka tidak boleh keluar dari kamar tanpa seizin Tuan Lucca. Besok pagi-pagi sekali, kau harus membangunkan Bellatrix dan membawanya kembali ke kamar lalu bersihkan kamar yang mereka pakai malam ini. Aku yakin akan sangat berantakan sekali di sana." Abi jelas bergidik. "Setelah itu siapkan makan pagi mareka dan tanyakan apa saja yang mereka perlukan dan kau harus memenuhinya." "Lucca--" "Tuan Lucca," koreksi Serafine. Abigail mendesah, "Maksudku Tuan Lucca mengurung mereka?" "Seperti burung peliharaan di sangkar emas. Apa lagi yang mereka butuhkan kalau Tuan Lucca bisa memberikan yang mereka inginkan agar tetap di dalam." "Mengerikan!" ucap Abi seraya bergidik. "Kau bertanggungjawab di sana, jadi kalau ada apa-apa, kaulah yang akan kena akibatnya jadi berhati-hatilah." Abigail memandangi kunci emas di tangannya dengan seksama. "Jangan biarkan pintu itu terbuka. Mereka tidak diizinkan berkeliaran di luar mansion apapun yang terjadi. Kau harus camkan itu." "Kenapa?" Abigail mengangkat pandangan. "Kenapa harus memakai kunci yang bisa diduplikat dengan mudah seperti ini?" "Kunci itu tidak bisa diduplikat. Pintu tidak akan terbuka dengan mudah. Hanya kunci yang kau pegang itu yang bisa membukanya." Abigail membalas tatapan Serafine. "Kalau tidak percaya, coba saja. Tapi aku peringatkan, kau harus berhati-hati. Ada rubah di antara mereka, jadi jangan sampai lengah." "Berat sekali tugasku di sini." "Apa kau mau jadi pelacurnya tuan saja yang bisa bersantai sesuka hatimu tapi siap jika Tuan memanggilmu kapan saja." Abigail langsung mengatupkan bibir. Serafine melipat lengan dengan senyum miring. "Kalau begitu kau harus menerimanya." Serafine berbalik tapi lengannya dicekal oleh Abigail. "Aku melihat tubuh Bella memar--" "Jangan urusi sesuatu yang bukan urusanmu, Abigail." Abigail langsung terdiam, memandangi Serafine yang jarang menampilkan banyak ekspresi di wajahnya, padahal kalau saja wanita itu lebih banyak tersenyum, kecantikannya akan terpancar. "Itu aturan kalau kau mau hidup tenang di dunia kejam seperti ini." "Baiklah. Aku mengerti." Serafine berbalik hendak pergi tapi langsung kembali menghadapnya lagi. "Oh ya, aku melupakan sesuatu. Kau tidak dizinkan berada di area rumah utama apapun alasannya." "Kenapa?" tanya Abi. "Kau tidak akan bisa membayangkan siapa saja tamu tuan Lucca yang ditemuinya disana." Serafine tersenyum miring. "Kau harus ingat itu!"Serafine meninggalkan Abigail berdiri mematung memandangi punggungnya sampai menghilang di ujung paviliun, membiarkan senyap dan dingin merambati kulitnya yang meremang. Abigail mengedarkan pandangan ke sekitar area mansion yang indah tapi begitu sepi dengan satu kesimpulan; mansion megah ini mengerikan. *** Pukul satu malam, Abigail menyeret kakinya melangkah menjauhi kamar yang dia huni bersama para p*****r itu. Rambutnya tergerai, jubah tidur yang menutup seluruh tubuhnya, bersentuhan dengan lantai marmer, berjalan diantara temaramnya bangunan. Membiarkan sinar bulan dikejauhan menuntunnya entah kemana. Anehnya, tidak terlihat penjaga dimana pun membuat Abi mengeryit heran. Kemana mereka semua? Sampailah dia didekat jalan setapak, di balik bayang-bayang kebun bunga yang tertata rapi, jauh dari kamarnya berada. Abigail terdiam sejenak, merasakan semilir angin berhembus, dingin yang pekat memaksanya untuk kembali ke kamar dan berlindung di balik selimut hangatnya, namun tubuhnya seakan memiliki pikiran sendiri. Abigail berjalan memasuki area taman bunga yang tingginya mencapai lebih dari tubuhnya sendiri, memiliki beberapa belokan dengan ruas jalan yang bisa dijadikan pilihan hingga membawanya berputar dan sampai ke area tengah di mana ada air mancur dengan hiasan patung wanita bersayap di tengahnya. Abigail mengerjap setelah terkesima, diedarkannya pandangan dan menyadari kalau dia berada di labirin mini. Dilihatnya tidak jauh di depan, bangunan yang merupakan area terlarang, berdiri kokoh. Hal lain yang membuatnya terkesima hanyalah, serumpun bunga yang seumur hidup belum pernah dilihatnya tersebar di sekelilingnya. Mawar hitam. The Black Rose. Abigail mendekat, berlutut di depan salah satu bunga mawar hitam yang mekar dan memeriksanya seksama. "Cantik dan memikat--" bisiknya disertai senyuman "Juga mematikan." Bisikan itu seringan hembusan angin tapi mampu menciptakan ketakutan dalam dirinya, kulitnya meremang dan bergidik. Abigail sontak berdiri tegak, hendak berbalik tapi lengan kekar seseorang melingkari pinggangnya dari belakang lebih dulu membuatnya berdiri kaku. Terlebih saat dirasakanya, mata pisau berada dekat dengan pembuluh nadi di lehernya. "Kau tidak seharusnya menganggumi sesuatu yang gelap," bisik The black Rose di balik telinganya, membuat Abigail menggigit bibir agar tidak berteriak. "Yang gelap itu mematikan." "Aku--" "Ssssttt," sela Lucca, menggesekkan pisau lipatnya di bawah dagu Abigail yang reflek menahan napasnya. "Jangan bersuara, jangan bergerak. Kau bisa terluka." "Aku tidak bermaksud--" "Berada di sini," selanya lagi. "Kau terlalu ingin tahu. Sesuatu yang bisa begitu membahayakanmu." Abigail menggigit bibir bawahnya lagi hingga berdarah saat Lucca melepas kaitan depan gaun tidurnya, menurunkan sedikit gaun di area bahunya dan merasakan sentuhan bibirnya dikulit telanjangnya. Apa Bella tidak bisa memuaskan Tuannya, pikir Abigail kalut. "Biarkan aku pergi," lirihnya. "Tidak semudah itu lepas dari cengkramanku." Abigail merasakan gesekan pisau di pipinya yang perlahan turun dan terkesiap kaget saat kedua tali gaun tidurnya lepas hingga melorot yang reflek langsung ditahannya dengan tangan. Belum habis kagetnya, tubuhnya diputar berhadapan dengan Lucca yang menatapnya penuh arti dan seringaian devil. Abigail berusaha melindungi area dadanya. "Aku berubah pikiran. Sepertinya tubuhmu juga bisa dimanfaatkan." "Tidak!!" Abigail menggeleng, bergerak mundur, tapi kalah cepat dari Lucca yang menarik tangannya, memerangkapnya dalam pelukan, menangkup sebelah wajahnya dan mencium bibirnya yang berdarah. Lucca dengan sigap menggendong Abigail agar kakinya melingkar di pinggangnya, lengannya memeluk leher Lucca erat agar tidak terjatuh karena Lucca hanya menahannya dengan satu tangan sementara tangan yang lain menahan belakang kepalanya agar Abigail tidak melepas ciumannya. Tidak menyadari gaunnya melorot turun membuat area dadanya yang tidak tertutupi apapun terlihat jelas. Fokusnya terbagi, tidak bisa berpikir jernih. Ciuman yang panas dan menggelora dari Lucca yang tidak bisa diantisipasi oleh Abigail. Rasa karat tembaga dari darahnya bercampur dengan salivanya merekaa. Ketika bibir Lucca membebaskan bibirnya, ciumannya berpindah ke leher dan semakin turun ke area dadanya.... "Arrghhhhhh!!!" Abigail terkesiap dengan peluh membasahi wajah saat terbangun disertai pekikan akibat mimpi buruknya. Napasnya ngos-ngosan, rambutnya berantakan tapi Abi langsung menghembuskan napas lega melihat gaun tidurnya dalam keadaan baik-baik saja. Mimpi. Apa yang dialaminya bersama Lucca hanya mimpi. "Ahh sial!!!" Abi memegangi kedua tangannya dengan frustasi. "Kenapa aku bermimpi seperti itu." Abigail menggelengkan kepala. Saat mendongak, Abi memegang bibirnya yang terasa sakit. Apa sangking histerisnya terbangun dalam mimpi, dia mengigit bibirnya sendiri? *** Jangan lupa comment dan love-nya ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD