Seminggu berlalu menjadi pelayan pribadi The Black Rose, cukup baginya untuk berpikir jika sikap diam, acuh, kejam, dingin dan menakutkan yang dia perlihatkan hanyalah sebentuk perisai. Menurutnya, lelaki yang tidak gentar menghadapi kematian itu lebih takut jika hatinya yang menderita karena itu akan mematahkannya lebih kejam. Memilih untuk mengeraskan hati hingga terlihat tidak berperasaan. Meski nampak tidak memiliki kelemahan justru Abigail bisa melihat celah itu dengan jelas. Sejelas bayangan rasa kesepian yang terpampang di matanya. Abigail bergidik saat melihat Lucca memakan daging steak favoritnya yang masih merah dan ada darahnya karena dimasak dengan kematangan rare. Terlihat sangat menikmati meski dia satu-satunya orang yang duduk di ruang makan pribadinya yang besar.

