“Astaghfirullah, Mas. Ngagetin aja!” Raka terkekeh. Kemudian ia duduk di samping Viona sambil meletakkan kotak bekal di atas meja. “Makan siang dulu. Mumpung masih anget nasinya,” ucapnya. “Ini baru jam sebelas.” “Jam sebelas itu udah masuk siang, Sayang,” ucapnya sambil membuka kotak bekalnya. Viona menghela napasnya. “Tapi belum lapar,” balasnya. “Cobain dulu. Pasti kamu suka.” Raka menyuapkan sesendok nasi dan ayam teriyaki ke dalam mulut Viona. Kemudian ia juga ikut memakannya, walaupun hanya ayamnya saja. “Siapa yang masak?” tanya Viona. “Mami. Tadi dititipin lewat Om Amin,” jawabnya. “Enak.” Raka tersenyum. “Habisin ya,” ucapnya. Viona mengangguk. Kemudian ia kembali membuka mulutnya, menerima suapan Raka sambil terus fokus mengetik di laptopnya. Beberapa menit k

