Semalaman, Raka tidak bisa tidur karena anak cantiknya menangis terus. Tidak mau ditidurkan di boxnya, maunya di gendong terus atau ditidurkan dipangkuan papanya. Baru lahir saja sudah menjadi anak Papa banget. Gimana nanti kalau sudah mulai besar? Pasti jadi saingan mamanya sendiri. “Tidurin di box aja, Ka. Udah merem kan itu?” Emma tidak tega melihat menantunya yang kelelahan sampai tertidur di kursi sambil memangku bayinya. Makanya ia menyuruh pria itu untuk meletakkan anaknya di box saja. “Nanti nangis lagi, Ma.” “Enggak. Biasanya kalau pagi begini, bayi itu tidurnya anteng.” Raka menuruti perintah mamanya. Ia membaringkan anaknya di box dengan pelan-pelan, supaya tidak terganggu tidurnya. Kemudian setelah itu, ia langsung berjalan memasuki kamar mandi, karena saat ini jam su

