10 hari berlalu setelah perbincangan V dan Jung di lorong gelap waktu itu, namun V masih saja selalu kepikiran.
"Aku tidak mengerti sedikitpun dengan pria itu," Gumam V sambil melamun di depan meja makan kontrakannya, "Setiap kali aku bertemu dengan Jung, selalu muncul satu pertanyaan baru yang membuatku tidak bisa tidur." Tatapan V kosong kala merenung memikirkan Jung, si pria paling misterius yang pernah V temui dalam hidupnya.
"Yaaakkkk!! Kalau Noona tidak mau makan, sini berikan makananmu padaku saja daripada mubazir!!" Seru J mengejutkan V, sembari merebut mangkok nasi V dari tangannya.
"Yaaakkk!! Berikan padaku, Jayden Park!! Atau kau akan kuusir dari sini!!" Tukas V seraya merebut kembali nasi dari adiknya itu.
"Oke oke... Ampun Noona-ku yang cantik... nya biasa-biasa saja!!" Sahut J meledek kakaknya. "Kau lupa ya? Hari ini aku memang berniat untuk pulang ke rumah... Eomma kita yang sibuk sebentar lagi akan pulang, kau yakin tidak mau ikut pulang?" Tanya J kemudian.
"Tutup saja mulutmu itu selagi makan!! Berisik sekali!!" Pungkas V untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kau bercanda? Mana bisa makan sambil tutup mulut? Gimana caranya kita memasukkan nasi kalau mulut kita tertutup?" Ledek J lagi yang pada akhirnya diam setelah betisnya ditendang oleh kaki V dari bawah meja.
Sebenarnya mereka adalah anak-anak dari keluarga berada. Namun semenjak ayah mereka meninggal, ibunya yang merupakan darah keturunan Amerika menjadi terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai agen asuransi di negara asalnya hingga jarang sekali pulang ke Korea.
Karena merasa tidak diperhatikan di rumah, hal itu membuat mereka melakukan pemberontakan dengan cara mereka masing-masing. V yang tidak mau lagi pulang ke rumah ataupun menerima uang sepeserpun dari ibunya, dan J yang suka menginap di sana-sini, terutama di kontrakan kakaknya.
Blasteran, itulah sebutan mereka. Namun hanya J yang memiliki wajah blasteran hingga ia menjadi laki-laki yang populer di SMAnya, berbanding terbalik dengan V yang hanya mengikuti gen ayah mereka tanpa ada sedikitpun kemiripan dengan ibu bulenya yang cantik.
Beberapa jam kemudian, J pergi meninggalkan V sendirian, membuat suasana di kontrakan kembali hening. Karena terlalu sunyi, hal itu malah membuat pikiran V semakin dikuasai oleh Jung.
Siapa pria itu sebenarnya? Mengapa sikapnya mudah sekali berubah-ubah? Mengapa Jung bertingkah seolah-olah ia tertarik pada V? Apa alasan Jung menciumnya pertama kali, dan seperti selalu ingin menciumnya lagi dan lagi? Mengapa Jung begitu mempesona? Mengapa V sama sekali tidak bisa membencinya padahal Jung seringkali membuat ia kesal? Mengapa Jung seolah selalu mangkir dari pertanyaan-pertanyaannya? Mengapa ia terus memikirkan Jung padahal ia sendiri tidak terlalu peduli?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bergumul di dalam benak V hingga membentuk untaian benang yang kusut.
Sore itu hari mulai menggelap, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Suara debur ombak dari pesisir Busan yang berada 200 meter dari depan rumah V terdengar bertalu-talu, pertanda akan terjadi badai sebentar lagi.
Dari jendela kamar kontrakannya, V melihat ke arah lautan sana. Dengan pikirannya yang melayang entah kemana.
Benar saja, hujan deras mengguyur tanah Busan didampingi suara gemuruh halilintar yang bersahut-sahutan. Suara keras itu terdengar seperti letupan kembang api di tahun baru bagi V. Ia juga menyukai cahaya kilat yang ditimbulkan oleh awan yang saling bergesekan, baginya kilat itu menyerupai sinar dari sebuah bintang jatuh. Sejenak V dapat membebaskan pikirannya dari Jung.
"Permisi!! Apa ada orang di dalam?" Teriak seseorang dari motel yang terletak tepat di sebelah kontrakan V.
Awalnya V tak menghiraukannya, namun lama-lama V menjadi kasihan terhadap orang yang tanpa henti memanggil-manggil sang pemilik motel tanpa ada yang menyahut.
"Orang itu pasti kehujanan dan ingin mencari tempat untuk berteduh." Gumam V seraya beranjak dari tempat duduk meja belajarnya.
V berlari keluar dengan membawa sebuah payung, lalu berhenti sejenak di teras kontrakan. "Motel itu sedang tutup karena pemiliknya sedang mengunjungi rumah saudara mereka di Incheon!!" Teriaknya memberitahu orang itu dari arah teras.
"Saya adalah pengunjung pantai, Saya hanya ingin berteduh. Apa anda bersedia meminjamkan payung untuk saya? Saya kehujanan sekarang. Nanti saya akan ganti payungnya dengan yang baru, atau saya bisa membayarnya saja jika anda mau…" Sahut orang tersebut dari dalam pagar motel.
"Baiklah, saya segera kesana!" Ucap V seraya membuka payungnya dan berlari kecil di tengah hujan deras untuk menolong pria tersebut.
Dan seketika V terkejut saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu motel itu.
Sang pria merubah ekspresi tatkala ia tahu bahwa wanita tetangga sebelah motel itu adalah V. Dengan perasaan lega, ia mulai menyunggingkan senyum miringnya.
Jung.
"Rupanya kita bertemu lagi, Agashi! Apakah ini hanya sebuah kebetulan, ataukah memang takdir?" Ucap Jung untuk menggodanya.
V hanya terdiam.
Sedetik...
Dua detik...
Tiga detik...
Setelah berpikir singkat, V mengurungkan niatnya untuk menolong si pria yang ternyata adalah Jung dan meninggalkannya begitu saja. Dengan langkah kaki yang cepat hingga nyaris berlari, V terburu-buru pulang ke rumahnya. Namun sepertinya nasib V memang sedang sial.
Atau sedang mujur?
Tiba-tiba saja Jung sudah berada di samping V dan berteduh di bawah payungnya, membuat V sontak menghentikan langkah. "Bukankah kau tadi ingin menolongku, Agashi? Tega sekali kau meninggalkanku yang kehujanan tanpa memberikan payungmu! Kalau begitu, karena ini adalah rumahmu, rumah orang yang kukenal, maka dari itu aku akan berteduh di sini saja. Kau tidak keberatan kan?" Serunya seraya menatap mata V lekat-lekat dengan tanpa memudarkan senyumnya.
'Ini berbahaya, V!! Jika kau membiarkan pria ini masuk ke rumahmu, maka itu artinya kau telah memasukkan ular berbisa yang akan membunuhmu tanpa suara kapan saja!!' Batin V memperingatkan diri.
"Mengapa diam saja? Jadi kau memang berniat untuk membiarkanku kehujanan di sini sampai malam? Tidak kusangka ternyata kau sekejam itu, Agashi!" Ujar Jung, membuat V serba salah.
Jung telah berhasil memanipulasi pikiran V hingga dengan mudahnya luluh lantak dan mencair.
V akhirnya menyerah. Kalah dengan bujukan pria ini. "Baiklah... Kau kubiarkan berteduh di rumahku, hanya sampai hujan reda. Dan jangan pernah sekalipun melakukan macam-macam padaku!!"
"Macam-macam? Apa yang kau maksud bersikap macam-macam itu adalah hal-hal yang seperti ini?" Tanya Jung seraya mengecup bibir V sekilas. Lagi-lagi hal itu membuat V membeku di tempatnya berdiri.
"Jangan pernah melakukannya di dalam rumahku, mengerti?" Geram V memperingatkan peraturannya kembali sembari memperbaiki ekspresinya.
Namun sayangnya, hal itu malah membuat Jung semakin ingin menggoda V. Tangan nakalnya mulai melingkar di pinggang gadis itu, menariknya ke dalam pelukan, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inchi saja.
Sambil menatap dalam wajah V, Jung berkata, "Bagaimana jika aku berniat untuk melanggar aturan? Apa yang akan kau lakukan padaku, Agashi?" Tanyanya setengah merayu.
"Maka dari sekarangpun kau tidak akan pernah kuperbolehkan masuk. Aku tak main-main." Gertak V dengan nafas yang memburu. Tangan Jung di pinggangnya seolah menghasilkan tegangan listrik hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar.
Jung memanyunkan bibir, berniat merengek, "Lalu... Apa kau benar-benar tega membiarkanku kehujanan? Di tengah hujan deras yang entah kapan akan berhenti ini? Bagaimana kalau aku sakit? Apa kau mau kutuntut atas tuduhan penganiayaan?"
Mendengar itu, V melebarkan pupil matanya, "B-baiklah kalau begitu!! Tapi ingat, jangan pernah melakukan apapun padaku di dalam rumah!"
Setelah negosiasi yang teramat panjang itu, akhirnya V mengalah dan memperbolehkan Jung untuk berteduh di kontrakannya.
Ketika sampai di dalam rumah mungil itu, Jung menanggalkan blazer berwarna navinya, menampakkan kemeja putih yang basah setelah kehujanan, sembari melayangkan pandangan ke sekeliling rumah untuk mengamati ruangan mungil itu.
Untuk sesaat mata V terbelalak menyaksikan apa yang terlihat di balik kemeja basah yang tengah Jung kenakan. Nampak disana, bentuk tubuh Jung yang menjiplak di kain, seolah baju itu tengah menyatu dengan tubuh kekar pria itu. Selama ini, biasanya V hanya akan dibuat terpukau oleh betapa lebarnya pundak Jung juga tubuhnya yang tinggi dan besar layaknya seorang ksatria dari Eropa.Namun kini, ternyata bentuknya jauh lebih eksotis. Lengannya kekar dengan otot bisep yang menyembul dalam bentuk yang sempurna, dadanya yang kencang dan proporsional membuat wanita yang melihatnya pasti sangat ingin bersandar, dan perutnya...
Roti sobek!!
Kala itu V mendadak panik, lalu memalingkan wajahnya agar ia tidak melihat lagi.
Jung terkikik melihat kekalutan V, "Apa kau mau melihatku melepaskan kemejaku juga, Agashi?" Goda Jung dengan tatapan menggoda.
"Jangan!! Jangan pernah berani melakukannya di depanku!!" Sergah V dengan nada yang kasar seraya berlari menuju kamar yang biasanya ditinggali J.
"Jadi kau mau melihatnya di kamar saja?" Sahut Jung sambil tertawa.
"Jangan salah sangka!! Aku hanya ingin mengambil handuk dan meminjamkan pakaian adik laki-lakiku untukmu!!" Teriak V dari dalam kamar sembari terburu-buru membuka lemari.
Beberapa saat kemudian, V kembali keluar dari kamar dengan membawa handuk dan pakaian hangat milik J.
"Pakailah ini!! Itu baju mahal kok, ibuku yang membelikannya. Buatmu saja, toh adikku tidak pernah memakainya karena tidak suka dengan modelnya. Cepatlah berganti baju jika kau tidak ingin demam atau terkena flu. Kalau kau mau mandi, buka saja sabun baru yang ada di lemari di bawah wastafel, shampo baru juga ada di sana... Dan putar keran yang sebelah kiri jika ingin mandi dengan air hangat. Ini handuknya." Tanpa memandang wajah Jung, V memberikan instruksi dengan irama yang cepat sebelum pikirannya blank lagi.
"Kau menyuruhku mandi?" Tanya Jung sambil memiringkan wajahnya, "Lalu... Maukah kau mandi denganku?" Dengan lembut, tangan Jung merayap ke dua pinggang V, memeluk gadis itu dari belakang.
Dduuuaaarrrrr!!!!
Seketika V mendengar suara petir yang bersumber dari jantungnya.
"Jangan mimpi!!" Sergah V kalap sambil melepaskan tangan Jung yang melingkar di perutnya.
"Hahaha... Tenang saja, Agashi! Aku tidak akan melakukannya jika bukan kau sendiri yang meminta. Aku ini pria yang selalu memegang janji." Sahut Jung yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Kala itu V menghempaskan dirinya ke sofa. Adanya pria itu membuatnya tidak bisa tenang sedetikpun. Benar-benar melelahkan.
Namun di luar kendali, V terlelap di sana, di tengah hujan yang masih mengguyur deras di atas atap. Ia lupa bahwa sekarang di dalam rumah kecil itu hanya ada dia dan Jung. Berdua saja.