Bertukar Nestapa

1040 Words
Bunyi jam dinding berdetak nyaring di ruangan hening itu. Sesekali terdengar ketikan di mesin keyboard bersama hela napas. Gadis penghuni kamar itu memijat pelipis sembari melihat kalender meja yang penuh coretan. Tidak terasa sudah hampir satu bulan Kaia tinggal bersama Rere. Sepupunya itu bahkan menolak saat dia ingin membantu membayar sewa, listrik, atau air. Bahkan, terkadang dia harus diam-diam jika ingin membayar kebutuhan di apartemen itu, sebab jika Rere tahu tentu sepupunya itu akan memaksa mengganti uangnya. Namun, hidup dan tinggal bersama sepupu tanpa ikut andil untuk membayar kebutuhan menjadi beban tersendiri baginya. Rere bahkan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menolak jika Kaia membantu. Alasannya, tentu saja karena dirinya masih memiliki tanggungan tagihan rumah sakit Mama. "Kali ini aja, biar aku yang bayar biaya listrik, Re." Kaia tadi berusaha memaksa karena merasa tidak enak hati menumpang gratis di rumah sepupunya. Namun, seperti biasa Rere menolak dengan tegas. "Aku nggak akan membiarkanmu melakukan itu, Kai." "Ayolah, Re. Bayar biaya listrik aja nggak akan menyulitkanku, kok." Mereka terlibat perdebatan yang cukup alot sore itu. Kaia yang memaksa untuk membayar listrik, sedangkan Rere menolak dengan bersikeras. Setiap kali gadis itu ditanya alasan enggan membiarkan Kaia membayar, Rere tidak menjawab. Meski begitu, Kaia tahu bahwa alasannya karena sepupunya iba dan membiarkannya melunasi tagihan rumah sakit juga hutang-hutang mamanya terlebih dahulu. Namun, sebenarnya Kaia tidak ingin dikasihani. Dia justru tidak enak hati jika Rere terus bersikap seperti itu, sedangkan dirinya hidup dengan nyaman di apartemen tersebut. Jadi, sesekali dia akan berbelanja saat Rere lengah. Kini, dia kembali melamun dan merasa bimbang. Dia tidak ingin merepotkan Rere lebih lama dan berniat untuk mencari tempat sewa yang terjangkau. Namun, uangnya telah fokus digunakan membayar tagihan rumah sakit dan hutang. Dia menghela napas lagi. Entah sudah keberapa kalinya dia menghela napas selama tiga puluh menit duduk di meja kerjanya. Malam ini, dia berada di apartemen seorang diri. Rere pergi bersama rekan kerjanya sejak kembali dari kantor. Apartemen yang sepi itu hanya diisi oleh ketukan keyboard, jam dinding, dan hela napas yang masih terdengar sesekali. "Haruskah aku mengambil pekerjaan paruh waktu di akhir pekan?" gumam Kaia dengan netra yang masih terfokus pada tabel keuangannya yang semakin karut-marut. Tiba-tiba ponselnya berdenting, tanda sebuah pesan baru masuk. Kaia mengambil benda pipih itu dan mengecek pesan yang masuk. "Apa kamu berada di apartemen?" Itu adalah isi pesan yang ternyata berasal dari Asta. Pria itu tidak pernah absen di setiap hari-harinya akhir-akhir ini. Entah kenapa, di saat Kaia berada dalam kebimbangan, Asta tiba-tiba saja menghubunginya. Seolah-olah pria itu mengetahui apa yang tengah dia pikirkan meski jarak mereka jauh dan itu membuatnya bergidik ngeri. Jemari Kaia mengetikkan balasan dengan cepat, "Ya begitulah, ada apa?" "Mau pergi ke taman kompleks apartemenmu? Kita bisa makan es krim dari minimarket dekat sana," balas Kaia. Sungguh, dia tidak mengerti bagaimana Asta bisa tiba-tiba mengajaknya melakukan hal yang random. Akan tetapi, Kaia juga tidak menolaknya. Toh, saat ini dia juga tengah suntuk. "Boleh, kabari aja kalau kamu udah sampai," jawab Kaia. Tidak butub waktu tiga puluh detik sampai balasan masuk kembali. "Sebenarnya, aku udah ada di depan apartemenmu." Dan jawaban itu sukses membuatnya terkejut. Kenapa tiba-tiba sekali? Kaia segera bangkit dan keluar dari apartemen. Dia tidak menyangka Asta akan tiba-tiba berada di depan apartemen. Begitu keluar dari lobi, dia bisa melihat pria dengan kaus putih berdiri menyender mobil tidak jauh dari pintu masuk apartemen. Pria itu tampak memainkan ponsel dan baru menyadari ketika Kaia hampir setengah jalan menghampiri. Asta melambaikan tangan dan tersenyum. "Hai," sapa pria itu ketika akhirnya Kaia tiba. "Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Kaia sembari berusaha mengatur napas karena buru-buru menemui Asta. Pria yang diajak bicara hanya tersenyum kecil dan mengedikkan bahu. "Ya, cuma ingin. Memang nggak boleh?" "Bukan begitu." Baru setelah mengatakan itu, Kaia bisa melihat sorot sedih dari netra Asta. Namun, pria itu buru-buru mengalihkan pandangan dan membukakan pintu penumpang untuk Kaia. "Jalan ke taman kompleks dulu, yuk. Aku nggak mungkin parkir di pinggir jalan begini kan? Bisa-bisa mobilku diderek." Kaia mengangguk dan masuk ke mobil. Lantas, mereka meninggalkan apartemen menuju taman kompleks dengan tempat parkir yang berjarak sekitar 100 meter dari apartemen Kaia. Rasanya sudah sejak lama dia tidak mampir ke taman kompleks untuk sekadar melamun. Kini, wahana permainan dan bangku-bangku yang disediakan telah dipugar catnya sehingga tampak seperti baru, tetapi taman itu kosong dan sepi. Mereka turun dari mobil dan memasuki taman. Dia baru menyadari Asta membawa keresek kecil setelah mereka duduk di salah satu bangku taman. "Aku membeli beberapa jenis es krim karena nggak tahu kesukaan kamu apa. Jadi, ambil yang kamu suka, ya," ujar pria itu menyodorkan sekantong es krim. "Astaga, Ta. Ini banyak banget. Kamu bisa membeli satu aja dan aku nggak masalah sama rasanya. Kalau begini siapa yang mau menghabiskan?" tanya Kaia, terkejut dengan banyaknya es krim yang dibawa Asta. Pria itu justru tertawa kecil, "Kita, siapa lagi?" "Benar-benar ..." Meski begitu, Kaia tetap mengambil salah satu es krim stik rasa coklat dan mulai memakannya. Begitu pula Asta yang menikmati es krim rasa melon. Mereka menikmati es krim itu dalam diam, membiarkan suara kendaraan mengisi kebisuan. Barulah, ketika es krim di tangannya tersisa setengah, Kaia membuka suara, "Ada yang mengganggu pikiranmu?" Asta tidak langsung menjawab. Pria itu menggigit sisa es krim dan membuang stiknya ke dalam plastik. "Hmm, sedikit." "Kenapa? Cerita aja kalau kamu mau," ujar Kaia, masih tidak melepaskan pandangannya dari wajah pria itu. Terdengar hela nalas yang cukup keras dari bibir Asta. "Tapi, aku nggak mau membebanimu." "Ayolah, aku nggak pernah merasa begitu." "Oh ya, sejak dulu kamu memang masih jadi pendengar yang baik, ya. Apakah kamu masih menghibur dengan memberi permen?" goda Asta, mengingatkan pada masa kecil dan remaja mereka. Ketika Asta berada dalam masalah dan bersedih, Kaia akan mendengarkan keluh kesah pria itu dan memberinya permen untuk memperbaiki suasana hati. Namun, diingatkan dengan hal itu membuatnya malu dan berakhir memukul bahu pria tersebut. "Berhenti mengejekku." "Aku nggak mengejek." "Tapi, kamu tertawa. Apa itu kalau bukan mengejek?" "Aku hanya tertawa apa salahnya?" Pria itu masih terbahak. "Oke, lebih baik aku pergi," kata Kaia sembari bangkit berdiri, berpura-pura akan meninggalkan taman. Asta refleks menahan tangan gadis itu. "Oke, maaf aku bercanda. Aku ingin bercerita." Kaia menoleh dan melihat Asta memohon dengan netra anak anjing pria itu. Sungguh mengesalkan, tetapi akhirnya dia kembali duduk. "Baiklah, ceritakan."[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD