Part 8 | Bismillah

1404 Words
“Jangan tanya aku tentang cinta yang tak kunjung kuterima. Karena jawabannya akan tetap sama. Aku belum menemukan dia yang kau sebut cinta.” *** Cinta satu kata tanpa definisi yang sulit untuk dimengerti. Cinta satu kata berjuta makna yang menyimpan banyak rasa, termasuk luka. Cinta itu fitrah seorang manusia tapi jangan salahkan jika fitrah itu berubah menjadi fitnah. Bukan cinta yang salah. Yang salah adalah kepada siapa cinta itu berlabuh hingga memberikan luka dan kesakitan yang mendera di dalam rongga d**a. Jika saja cinta itu dilabuhkan pada Allah Sang Maha Pemilik Cinta, maka tidak akan pernah mengenal luka dan kecewa. Karena memang cinta yang haqiqi adalah cinta kepada Allah Yang Maha Tinggi. Menuhankan cinta adalah suatu kebodohan yang saat ini merajalela. Dengan dalih saling mencintai dua insan yang tak halal saling menjalin cinta yang tak Allah ridhoi. Adakah cinta yang sejati melebihi cinta kepada Allah? Tentu saja jawabannya, tidak. Karena cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah kepada Dia, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jika memang cinta kini bersarang di hati kita lantas kita melupakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tinggalkanlah itu bukan cinta melainkan ambisi dan obsesi semata. Cintai Allah maka Allah akan mencintai kita. Dekati Allah maka Allah akan mendekat ke arah kita. Jangan terlalu pusing memikirkan jodoh yang entah di mana keberadaanya. Karena kita tidak tahu. Apakah janur kuning atau bendera kuning yang lebih dulu terpasang di depan rumah kita? Diam termenung dan terpaku di depan komputer yang menyala di depan mata sudah menjadi rutinitasnya. “Han kok loe bengong sih?” tanya Keyra menyadarkan Zihan dari lamunannya. “Enggak kok, Key,” alibinya. “Loe baik-baik aja, ‘kan?” tanya Keyra khawatir karena Zihan tak seperti biasanya yang terlihat ceria dan banyak bicara. Zihan mengangguk meyakinkan Keyra bahwa keadaannya kini baik-baik saja. Memang fisiknya tak terluka tapi hatinya begitu banyak menyimpan luka. Memang fisiknya terlihat biasa, tapi hatinya sungguh luar biasa. Memendam rasa sakit yang terus saja menggerogoti rongga d**a. Sakit itu sudah pasti dirasakannya. 'Besok adalah hari pernikahan Gibran sama Zahra. Apa gue bisa kuat melihat semuanya?'Gue kuat, gue bisa. Allah ngasih gue ujian karena Allah ingin tahu kadar keimanan gue,'  batinnya lagi menguatkan. “Tuh kan bengong lagi,” ujar Keyra mengagetkan Zihan. “Astaghfirullah.” Zihan langsung beristigfar dalam hatinya. Dia fokus kembali ke arah layar komputer yang ada di depannya. Dari pada menanggapi ocehan Keyra yang malah membuatnya semakin larut dalam kesedihan. “Mbak boleh saya bertanya?” tanya seseorang di depan meja kerja Zihan. Zihan mendongak dan mendapati seseorang yang tidak asing untuknya 'Irfan?' batinnya. “Eh ternyata kamu, Han kirain siapa,” selorohnya setelah mendapati wajah Zihan dengan indra penglihatnya. Zihan hanya mengangguk dan tersenyum ramah. “Kok di sini?” tanya Zihan basa-basi dan sedikit penasaran. “Tadi abis ngisi acara seminar di fakultas kedokteran, terus mau lihat-lihat buku di sini,” jelasnya. “Aku udah beberapa kali ke sini tapi aku baru liat kamu sekarang?” tanyanya karena memang Irfan sudah beberapa kali mengisi acara-acara seminar tentang kesehatan di kampus tempat Zihan bekerja. “Biasanya gue jaga di perpustakaan yang ada di rumah sakit, tempat para koas praktik. Tapi kebetulan sekarang gue kebagian jaga di sini, terus ‘kan gue juga harus bantu Ayah ngelola usahanya,” terang Zihan menjelaskan. “Oh gitu, pantes kita jarang ketemu,” kekehnya. Zihan hanya tersenyum tipis. “By the way, mau cari buku apa?" tanya Zihan. Obrolan keduanya larut begitu saja. Sepertinya Zihan bisa melupakan sejenak urusan percintaannya yang kandas di tengah jalan karena terlalu asik berbincang-bincang dengan Irfan. “Kamu datang, ‘kan ke pernikahan Zahra sama Gibran?” tanyanya yang membuat Zihan kembali larut dan mengingat tentang kesedihannya. “Insya Allah,” jawab Zihan dengan senyuman khasnya. Jangan sampai orang lain tahu kesedihan dan kesakitannya. Zihan tidak mau semua orang tahu tentang perasaanya kini. 'Gue suka liat senyum loe, Han,' batin Irfan tersenyum bahagia. “Bareng.” Entah itu sebuah ajakan atau pertanyaan bagi Zihan. Yang jelas dia tak bisa menjawabnya. “Liat nanti aja, Fan,” kata Zihan kemudian memberikan buku yang Irfan pinjam. “Ya udah aku tunggu kabar selanjutnya, assalamualaikum.” Irfan langsung pergi setelah mendengar jawaban salam dari mulut Zihan. “Wa'alaikumussalam warahmatullah.” “Siapa, Han akrab banget?” tanya Keyra yang sedari tadi menyimak obrolan di antara Zihan dan Irfan. “Temen,” jawab Zihan lalu kembali menatap layar komputernya. “Temen apa Demen?” selidik Keyra penuh curiga. “Temen Key,” sahut Zihan malas menanggapi teman seprofesinya yang kelewat kepo. “Demen juga gak papa kok, Han. Keliatannya dia suka sama loe,” oceh Keyra. Zihan tak menanggapi ocehan Keyra dia malah mengambil headset dan menyumpal telinganya. Keyra terlihat sangat kesal dengan tingkah rekan kerjanya yang mengacuhkan dia begitu saja. *** Merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk rumah memberikan sedikit efek kenyamanan dan ketenangan. “Hari yang melelahkan,” gumamnya seraya memijit pelipis yang terasa berdenyut nyeri. Matanya terpejam namun tangannya masih setia memijit-mijit pelipisnya. “Capek banget kayanya,” suara sang bunda membuat mata Zihan terbuka dengan sempurna. “Iya.” Zihan langsung bangkit dari tidurnya dan duduk berdampingan dengan bundanya. “Jangan terlalu diporsir, Han kalau kerja,” ucapnya mengingatkan sang putri. “Iya.” “Jangan iya... iya... mulu dengerin apa kata Bunda,” tegurnya. “Iya, Bundaku sayang yang cantik jelita,” kekeh Zihan. “Kapan kamu bawa calon untuk menikahi kamu, Nak?” suara ayahnya menggema menyeruak indra pendengaran Zihan. Bak tersambar petir di siang bolong Zihan merasa ngeri sendiri dengan pertanyaan horor yang ayahnya lontarkan. Meskipun ini bukan untuk yang pertama kali baginya, tapi tetap saja ini adalah pertanyaan horor yang tak ingin dia dengar. “Ayah sudah semakin tua renta, Nak. Ayah ingin melihat dan menjabat tangan laki-laki yang akan menjadi suami kamu,” lanjutnya duduk di samping sang putri dan membelai pucuk kepala putrinya yang tertutup Khimar. Miris sekali nasibnya mendengar permintaan sang ayah yang sampai saat ini belum bisa dia penuhi. Zihan hanya tersenyum getir menanggapi permintaan ayahnya. “Kedua sahabat kamu besok akan melangsungkan pernikahan, lantas bagaimana dengan kamu, Nak?” Sang bunda ikut bersuara yang membuat rasa sesak semakin menyeruak di dadanya. Digenggamnya tangan sang ayah dan bunda. “Allah belum berkenan memberikan Zihan pendamping hidup yang Ayah dan Bunda inginkan.” “Ayah tau, Nak. Ayah sudah seringkali mencarikan jodoh untuk kamu, tapi kenapa kamu selalu saja menolaknya,” tutur Pratama yang sudah sering sekali mengenalkan Zihan dengan putra dari kerabat kerjanya. “Memang belum waktunya, Ayah.” tetesan bening itu lolos begitu saja tanpa di aba-aba dari mata indah Zihan. “Cobalah untuk membuka hatimu, Nak,” saran sang bunda membelai lembut puncak kepala Zihan. Zihan hanya mengangguk lemah. Dia belum siap untuk membuka dan menata hatinya kembali. Jika hanya kekecewaan yang akan kembali dia dapatkan. Dipeluknya sang ayah dan bunda erat. Menumpahkan semua rasa sakit yang mendera di hatinya. “Maafin Zihan.” “Apa perlu Ayah yang akan mencarikan kamu jodoh lagi?” tanya sang ayah ragu, ia takut akan penolakan Zihan yang sudah seringkali dilayangkannya. “Kalau memang itu yang terbaik Insya Allah Zihan akan menerimanya,” ucapnya lesu, jelas sekali penuh keragu-raguan. “Jangan terlalu dipaksakan, Yah. Biarkan Zihan memilih dan memutuskannya sendiri,” saran Windi pada sang suami dan itu membuat hati Zihan menghangat seketika. “Ayah tidak akan memaksa kamu, jika kamu memang tak setuju dengan pilihan Ayah,” jelas sang ayah yang semakin membuat kelegaan di hati Zihan bertambah. 'Bismillahirrahmanirrahim, mungkin ini cara Allah untuk membantu mengubur dalam-dalam perasaan yang tak halal ini,' batinnya mencoba menerima dengan ikhlas dan lapang d**a. Tak ada satu pun orang tua yang akan menjerumuskan anaknya ke dalam lubang kesengsaraan Zihan, sisi baiknya bersuara. Jangan mau Zihan itu hanyalah tipu daya semata, pernikahan tanpa cinta akan hambar terasa, tapi sisi buruknya ikut meracuni pikiran Zihan. 'Permudahkanlah segala urusan hamba dalam menapaki satu persatu tangga kehidupan yang telah Engkau gariskan Ya Allah.' Doanya dalam hati. Meskipun pernikahan bukanlah sebuah permainan yang harus dicoba-coba terlebih dahulu. Tapi Zihan akan mencobanya, membuka hati untuk seseorang yang entah siapa dan bagaimana rupanya. Entah bagaimana dan seperti apa jadinya. Hanya Allah yang tahu akan hidup, mati, dan jodohnya. 'Mungkin dengan cara ini aku bisa membahagiakan Ayah dan Bunda.' tekadnya sudah bulat. Membuka dan menata hati itu artinya dia harus siap tersakiti. Semanis-manisnya gula tetap saja akan meninggalkan rasa pahit diujungnya. Begitu pun dengan cinta yang selalu manis di awal tapi pahit di akhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD