Part 6 | Keputusan

1314 Words
“Bayang-bayangnya selalu ada, selalu saja menyapa. Entah aku yang kurang kerjaan atau dia yang tak memiliki kesibukan.” *** Suasana yang tadinya hangat dengan gurauan dan tawa riang kini secara tiba-tiba berubah menjadi suasana yang sangat mencekam bagi dua buah keluarga yang akan menjadi satu keluarga besar. Saat tengah membicarakan perihal masalah pernikahan yang satu minggu lagi akan dilaksanakan. Sang calon mempelai perempuan tiba-tiba membuka suaranya. Semenjak awal perbincangan Zahra tak ikut larut dalam obrolan yang sangat membuat mood-nya hancur berantakan. Kata-kata yang dilontarkan sang calon mempelai perempuan itu membuat semuanya diam terpaku tak percaya. “Jangan main-main dengan ucapan kamu, Zahra!” ujar Prawira yang tak suka dengan perkataan putri semata wayangnya. “Ini udah keputusan Zahra, Bi,” putusnya menunduk takut akan sorot mata tajam milik ayahnya. “Jangan mengambil keputusan pada saat dalam keadaan dirimu tidak baik Zahra.” Ucapan penuh peringatan ini terlontar dari sela bibir Prawira. “Abi, Zahra sudah memikirkan semuanya dengan matang. Dan ini keputusan terakhir Zahra.” Setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya, meluncur bebas dengan begitu sombongnya. “Kalau ada masalah bicarakan baik-baik jangan seperti ini,” seru Prawira menggebu-gebu. Menahan gejolak amarah di dalam d**a. “Istigfar, Bi,” tutur Hanna menenangkan suaminya. Dalam hati Prawira terus saja mengucap Astaghfirullah secara berulang-ulang untuk meredam emosi yang sudah berada di ubun-ubun. “Apa yang terjadi?” tanya Prasetya pada Gibran, putranya. “Gibran yang meminta Zahra untuk mengakhiri pernikahan ini,” jelas Gibran berbohong untuk melindungi Zahra dari amukan Prawira. Zahra mendongak dan menatap Gibran tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. ‘Kenapa loe lakuin ini, Ran? Ini salah gue gak seharusnya loe lindungin gue,’  batin Zahra. Bukan Gibran yang berniat ingin mengakhiri pernikahan ini, mana ada seorang mempelai laki-laki mengakhiri pernikahan impiannya sendiri? Termasuk Gibran. Tapi apa boleh buat jika sang calon istri tak menginginkan hal yang sama, lantas mau jadi apa rumah tangganya kelak? Ini adalah kemauan Zahra yang datang menemui Gibran tadi pagi di kantornya. Walaupun Gibran belum bisa mengartikan rasa yang kini tengah dia rasakan pada sahabatnya. Dia mengagumi calon istrinya tapi dia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Mungkin dengan mengikuti kemauan Zahra itu adalah keputusan yang tepat untuk mereka. *** “Gue minta sama loe batalin pernikahan kita saat ini juga!” seloroh Zahra tadi pagi saat menemui Gibran yang sedang berada di kantornya. Gibran terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Zahra. Sungguh dia tak mempercayainya sama sekali. “Maksud loe?” “Sorry gue gak bisa nikah sama orang yang jelas-jelas enggak ada di hati gue.” Ucapan Zahra sangat mengiris-ngiris perasaan Gibran. Sakit sudah jelas dia rasakan siapa yang tidak sakit hati bila calon istrinya sendiri mengatakan bahwa dia tidak menyukai calon suaminya. “Pernikahan sudah ada di depan mata bahkan hanya tinggal menghitung hari, Zahra,” ucap Gibran tak mau membatalkan pernikahan yang hanya akan memalukan keluarganya. “Gue gak mau tau pokoknya pernikahan harus dibatalin!” pungkas Zahra yang langsung pergi begitu saja. Panggilan Gibran tidak dia hiraukan sama sekali. Yang ada dalam otak Zahra hanya satu. Bagaimana caranya membatalkan pernikahan. Gibran terlihat sangat frustrasi, bingung, marah, kesal, kecewa, semuanya menjadi satu perpaduan yang apik di hati. “Apa yang harus gue lakuin,” gumamnya seraya menjambak rambut kasar. “Gue suka dan sayang sama loe. Tapi kenapa loe perlakuin gue kaya gini,” rancaunya tak jelas. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. perasaannya masih abu-abu. Apakah dia benar-benar menaruh hati pada sahabatnya? Atau justru sebaliknya.  “Loe bukan Zahra yang gue kenal, loe udah berubah, Ra,” ucapnya dengan hati kacau tak keruan. *** Dan yang terjadi kini, Gibran menuruti kemauan Zahra untuk mengakhiri pernikahannya. Tak peduli dengan sakit yang dia derita, yang penting Zahra bahagia. Tak peduli akan caci maki yang dia terima, yang terpenting Zahra tak tersakiti. Dia rela menjadi tersangka dalam drama pembatalan pernikahan ini, biarlah dia yang disalahkan dalam masalah ini.  “Apa maksud kamu?” tanya Prawira menggebu-gebu. “Maafkan saya, Om. Saya mundur,” cetus Gibran menunduk menyembunyikan sesak dalam hatinya. Tangan Prawira hampir saja mengenai wajah Gibran. Namun karena cekalan dari Zahra hal itu bisa dihentikan. “Kamu yang meminta putri saya lantas kamu buang begitu saja. Di mana otak kamu?” sentak Prawira. ‘Bukan aku yang menginginkan semua ini terjadi, tapi kalian.’  Kata-kata itu hanya tercekat di kerongkongan Gibran saja. Sangat sulit rasanya mengungkap sebuah kebenaran. “Jelaskan semuanya sama Papah apa yang terjadi?” Prasetya ikut menghakimi putra bungsunya. “Maaf, Pah Gibran gak bisa,” ucap Gibran lesu dengan wajah yang masih menunduk. Plak! Satu tamparan mendarat manis di pipi Gibran. Jangan tanya siapa pelakunya yang jelas dia adalah Prasetya, ayahnya sendiri. Zahra hanya menatap nanar dengan kejadian saat ini, ingin membantah dan menolong Gibran. Namun, apa daya dia hanya bisa menonton dan menyaksikan saja. ‘Maafin gue, Ran,’  batinnya miris melihat Gibran yang diadili dan itu bukan karena kesalahan Gibran melainkan dirinya. “Apa yang ada dalam pikiran kamu, Gibran?!” murka Papahnya. “Maafin Gibran, Pah.” Hanya itu yang bisa Gibran katakan. “Tidak ada pernikahan dan silakan kalian keluar dari rumah saya!” usir Prawira sudah kepalang emosi. Tanpa satu patah kata pun yang dikeluarkan Gibran dan kedua orang tuanya. Mereka sudah kepalang malu. Sangat-sangat malu dengan kelakuan putranya Prasetya menyeret paksa lengan anaknya dengan Yulia yang mengekor di belakang. Mereka pergi meninggalkan kediaman Zahra begitu saja. *** Zahra menangis sesenggukan di dalam dekapan Hanna menumpahkan segala kesakitan di hatinya. “Yang sabar, Nak dia bukan jodoh yang terbaik untuk kamu.” Itulah yang diucapkan uminya, yang justru semakin membuat tangis Zahra semakin kencang. Zahra menggeleng tak setuju dengan apa yang baru saja dikatakan uminya, “Zahra yang gak tau diri, Mi karena udah nyia-nyiain Gibran,” ungkapnya. “Apa maksud kamu?!” tanya Prawira yang memang masih berada di dalam satu tempat yang sama. “Zahra yang minta Gibran untuk mengakhiri semuanya,” tuturnya disela-sela isak tangis yang mendera. Didekapnya sang putri yang semakin banyak menumpahkan tangis sampai berguncang tubuhnya. “Jelaskan semuanya sama Abi,” pinta Prasetya yang sudah tak mengerti dengan jalan pikiran anak semata wayangnya. Tak ada sahutan ataupun penjelasan dari Zahra yang terdengar hanyalah isakan tangis pilu saja. “Udah, Bi nanti aja biar Zahra istirahat dulu,” bela sang istri yang langsung membawa tubuh bergetar Zahra menuju kamar. *** “Apa kamu sadar Gibran!” sentak Papahnya dengan suara meninggi. “Kamu yang meminta Zahra tapi kenapa sekarang kamu juga yang mencampakkan dia. Di mana otak kamu?!” lanjutnya dengan suara tak kalah tinggi dari sebelumnya. “Semua ini gak akan terjadi kalau bukan permintaan gila Papah,” balas Gibran tak terima. “Jaga ucapan kamu Gibran!” tegas Prasetya. “Semua drama ini dimulai karena Papah yang mengatur skenarionya. Bukan aku! Aku hanya korban dari keegoisan, Papah!” sela Gibran tak kalah emosi. Kedua tangan Prasetya sudah terkepal dengan sempurna. Menahan amarah yang menggelora.  “Maaf.” Akhirnya kata itu yang mampu Gibran ucapkan. Lebih baik dia mengalah dibandingkan harus bersitegang dengan ayahnya sendiri. “Jangan pernah mempermainkan pernikahan Gibran. Semuanya tidak akan baik-baik saja hanya dengan kata maaf kamu.” Gibran masih bertahan dengan gemingnya. Tak ingin memperpanjang dan memperkeruh semuanya. “Assalamualaikum,” salam seseorang memasuki area rumah yang sudah kacau balau. “Wa'alaikumusalam,” sahut ketiganya menjawab salam dari Galang yang baru saja pulang. Pulang kerja langsung disuguhi pemandangan yang tidak sedap dipandang mata membuat Galang menatap bingung dan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Apa yang terjadi?” tanya Galang karena di sini hanya dirinyalah yang tak tahu apa-apa. Tak ada sahutan ataupun penjelasan yang Galang dapatkan dan itu membuat Galang semakin dilanda rasa penasaran. “Istirahatlah keadaan kamu belum membaik,” titah ibunya menuntun Gibran putra, bungsunya ke dalam kamar. “Papah dan Galang juga istirahat. Gibran biar Mamah yang urus,” lanjutnya. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD