2 jam pun berlalu begitu lama Kayra, Zero, Rayhand, Jovan, Anita dan Rony masih cemas menunggu dokter keluar dari ruangan itu.
Dokter bername tag Charles Bagaskara keluar dari ruangan yang bertuliskan 'UGD' diatasnya. Membuat semuanya menoleh berharap hal baik yang mereka dengar
"Apakah ada keluarga korban?" tanya Dr.Charles tenang, Kayra dan kedua orang tuanya langsung mendekat kearah Dokter paruh baya itu dengan tergesa gesa
"Kami keluarganya Dok" kata Kayra dan Anita secara bersamaan
"Mari ikut keruangan saya" lagi dan lagi dengan tenang, Dr.Charles mengajak mereka menuju ruangannya. Sedangkan Zero, Rayhand dan Jovan hanya bisa mengumamkan doa didalam hati mereka demi keselamatan sahabat baik mereka.
"Sebelumnya, pasien cukup lama dibawa ke Rumah Sakit. Pendarahan yang diakibatkan benturan dikepalanya membuat pasien kehilangan banyak darah, untung otak pasien tidak mengalami cedera" dokter Charles mencoba menjelaskan
"Tapi dia baik baik aja kan dok?" tanya Kayra penuh harapan. Kayra memohon kepada Tuhan, ia tidak mau melihat Kenzo kembali koma
"Pasien mengalami koma, namun semua alat vitalnya bekerja dengan baik. Jadi kita hanya bisa berdoa"
Harapan Kayra kembali musnah. Kenzo kembali menutup matanya panjang, berada diambanh hidup dan mati. Raganya memang ada diatas brankar Rumah Sakit, namun jiwanya. Kayra tidak tahu.
"Apa kami bisa menengoknya?" tanya Rony yang sedari tadi diam berperang didalam diri sendiri
"Boleh tapi secara bergantian satu persatu" kata Dokter Charles, setelah itu Kayra langsung mengucapkan terimakasih, ia tidak mau berlama lama jauh dari Kenzo. Ia ingin melihat abangnya
KAYRA POV
Aku membuka pintu kamar rawat bang Kenzo, ruangan ini, hampir sama seperti ruangan 2 tahun yang lalu. Tempat Kayra menangis seperti sekarang. Menunggu Kenzo kembali membuka matanya. Berharap Kenzo memeluknya. Dan Kayra merasakan itu kembali
Ya, dia sudah dipindahkan kekamar inap saat aku diruang Dokter Charles, aku membuka pintu itu pelan pelan, aku yang pertama masuk ke kamar rawat bang Kenzo.
perlahan lahan aku mendekatinya, miris. Menyakitkan. Aku mencoba kuat.
Kulihat kepalanya diperban , bibir yang biasa membalas ocehanku terlihat pucat pasi dan ada selang infus yang menusuk kulitnya.
Dengan penuh kelembutan Kayra membawa tangan Kenzo yang terbebas infus menuju pipinya. Menutup matanya menahan sakit.
"Maafin gue bang, gue gak bisa jagain lo "kataku langsung menangis. Airmata turun tanpa permisi dan aku tidak memusingkan hal itu
"Gue bukan adek yang baik untuk lo"kataku lagi dengan nafas yang tidak beraturan
"Gue harusnya ngelarang lo, gue harusnya debat mati matian sama lo biar lo ga pergi, biar lo ga balapan" kataku menyalahkan driku yang b**o ini, benar benar menyesakkan rasanya hingga aku lupa caranya bernafas
Kembali disini, diruangan berbau obat obatan, berdinding putih bersih dengan suara monitor jantung, Kayra benci suara ini, Kayra benci bau ini, Kayra benci melihat dinding ini. Kayra benci semua yang berbau Rumah Sakit
"Bangun bang, bangun gue sayang lo bang" ujarku sambil menguncang badannya pelan. Berharap ia membuka matanya karena sedikit guncangan yang aku berikan
Kayra terdiam. Ia bingung harus melakukan apa. Akhirnya Kayra memutuskan untuk memberi waktu untuk Anita, Rony dan ketiga sahabat abangnya untuk menengok.
"Gue bakal disini sampai lo bangun bang. janji" kata Kayra berusaha tersenyum lalu keluar dari ruang rawat Kenzo
Kayra lelah, lelah menangis, lelah memikirkan Kenzo, lelah menyalahkan diri sendiri. Kayra duduk dikoridor ruang rawat tanpa memperdulikan siapapun, ia membenamkan wajahnya disela sela kakinya yang ia tekuk, kedua tangannya memeluk kedua kaki jenjangnya yang terbalut jeans panjang.
"Maaf" sebuah suara menghampiri indra pendengaran Kayra.
"Bukan salah lo" jawab Kayra ketus tanpa melihat keberadaan laki laki itu. Zero menghela nafasnya kasar lalu menjauh
"Kayra,kita pulang dulu ya? "ajak Rony dengan lembut, ia membelai rambut panjang Kayra berusaha menenangkan putrinya
"Nggak mau, papa sama mommy pulang aja, Kayra mau disini nungguin bang kenzo bangun" kata Kayra lemas. Pusing.
"Mommy aja yang jaga disini, Kay" kata Anita yang baru saja keluar dari kamar rawat Kenzo
"Jangan mom, kalian baru pulang. Kalian harus istirahat"
"Tapi kamu besok sekolah sayang" Anita berusaha membuka pikiran Kayra yang sedang kalut
"please mom" kata Kayra lalu memeluk Anita. Pertahanannya kembali luntur. Airmatanya kembali turun. Rayhand dan Jovan ingin sekali menenangkan gadis yang sudah mereka anggap adik sendiri.
"Tante, Om, Kayra pulang aja, biar kami bertiga yang jagain Kenzo" ujar Jovan dengan perasaan bersalah mendalam
"Iya Om, Tante, kami masih kuat kok jagain Kenzo sampai bangun" tambah Rayhand membuat Anita menoleh lalu tersenyum
"Kalian pulang aja, dicariin orangtua kalian pasti" ujar Anita membuat Rayhand dan Jovan semakin tak enak
"Iya kalian pulang aja, istirahat" ujar Rony sambil tersenyum
"Udah aku aja, please mom, pa" ujar Kayra memelas
"Janji malam ini aja" kata Rony seakan mengerti
"Kayra nggak janji" kata Kayra lalu melepas pelukan Anita
Anita menggeleng tanda tak setuju
"Besok Kayra izin ga sekolah ya"
"Yaudah nanti pagi Bi Sumi kesini bawa pakaian kamu" Anita berujar lembut dibalas anggukan oleh Kayra
"Sorenya mommy dan papa datang" kata Rony sambil mengelus lembut rambut putrinya
"Yaudah kita pulang sayang. Jangan lupa istirahat" kata Anita sebelum benar benar pergi meninggalan Kayra beserta ketiga sahabat Kenzo
"Tante sama Om pulang ya Jov, Ray. Salam buat Zero. Maaf ngerepotin kalian. Jangan lupa istirahat" tutur Anita lembut. Anita tidak menyalahkan siapa siapa atas semua ini. Karena bagi Anita semua sudah Tuhan rancang dengan baik.
"Titip putri om" kata Rony lalu pergi
Zero pun keluar dari ruangan Kenzo dan setelah itu Rayhand masuk terlebih dahulu sedangkan Jovan izin sebentar keluar, ingin berbagi kekalutannya dengan angin subuh
"Ga pulang?" tanya Zero saat melihat Ketua Osis sekolahnya masih disini tanpa kedua orang tua nya
"Menurut lo?" balas Kayra sinis sambil menaiki salah satu alis matanya
Beberapa saat kemudian Rayhand keluar, menunggu Jovam kembali. Rayhand memilih pergi keluar untuk memanggil Jovan agar masuk
"Siapa yang mau jagain Kayra?" Tanya Jovan ketika Kayra izin kekamar mandi. Sekarang mereka hanya bertiga. Zero terlihat tidak peduli. Akhirnya Rayhand memutuskan tinggal sampai pagi
Kayra telah kembali, Jovan mengucapkan kata maaf lalu pamit kembali duluan
"Gue duluan"kata Zero singkat lalu melakukan tos ala cowo kepada Rayhand
"Bang Ray, ga pulang?" Tanya Kayra, Rayhand tersenyum
"Engga, abang disini sampe pagi. Kamu masuk gih"
Kayra mengangguk mengerti dan langsung masuk ke kamar rawat Kenzo. Perempuan itu menarik kursi dengan pelan dan hati hati kesamping ranjang Kenzo
Kayra menggengam tangan itu lalu berucap"Cepat bangun bang"
Di gedung yang sama namun berbeda tempat, seorang laki laki membeli air mineral, membawanya ke rooftoop Rumah Sakit lalu diatas sana, ia menikmati angin malam menuju pagi. Menyalakan pematik apinya lalu menyesap rokok dengan nikmat.
Ya, laki laki itu adalah Zero. Ia memilih untuk tidak pulang, karena entah kenapa suasana hatinya tidak baik.
Setelah menghabiskan hampir 1 bungkus rokok, Zero kembali turun. Menuju kamar rawat Kenzo. Ia dapat melihat Rayhand masih terjaga dengan ponselnya yang menampilkan game online
"Lah gapulang lu?" Tanya Rayhand kaget, Zero hanya mengedikkan bahunya
"Yaudah sini dulu, gua mau rokok" pinta Rayhand hanya dibalas gumaman oleh Zero.
Zero mengintip kedalam ruang rawat Kenzo, mendapati seorang gadis tertidur dengan posisi kurang nyaman disamping ranjang Kenzo.
Entah kenapa, Zero masuk dengan perlahan lalu memindahkan gadis itu kesofa. Membenarkan posisi bantal dan anak rambut Kayra yang menganggu.
Zero melepas jaketnya lalu menutupi sebagian tubuh Kayra.
Zero menatap Kenzo lalu menutup matanya sebentar
"Sorry"