Setelah berada di kamarnya Sembagi mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia tampak kelelahan hari ini. Seluruh kakinya terasa sakit gara-gara perbuatannya tadi menendang kursi-kursi hingga terpental ke berbagai sudut ruangan. Setelah beberapa menit rebahan Sembagi mendudukkan kembali tubuhnya. Dia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. “Gimana bisa tidur kalau badan pegel semua gini,” keluh Sembagi. “Mana harus berpura-pura patuh. Itu sungguh melelahkan. Gue merasa nggak sedang menjadi diri sendiri sekarang ini. Apa cuma firasat gue aja ya?” Dia tiba-tiba memikirkan kembali obrolannya dengan Jenggala. “Laki-laki itu juga kenapa mesti jadi canggung banget? Padahal gue udah nggak mempermasalahkan soal dia yang nuduh gue bukan Sembagi asli.” Sembagi kembali memijat kakinya. Dia jadi meras

