bab 4a

1036 Words
-Sheila ngambek- Sheila menatap Bian dengan datar. Jangan harap Sheila lemah, Sheila sudah dewasa.  23 tahun cukup sudah untuk menjadi wanita dewasa. Sheila melirik tangannya yang merah akibat cengkraman yang Bian berikan pada tangannya. "Lepas!" Pinta Sheila pada Bian tepat dihadapannya. Bian yang melihat Sheila yang berbeda dari biasanya segera melepaskan pegangan yang pasti ia anggap sakit juga untuk ukuran wanita seperti Sheila. Sheila berniat untuk pergi dari hadapan Bian, tapi baru beberapa detik berdiri Sheila merasakan pelukan bian dari belakang. "Maaf.." "Maafin om, Sheila." Lirih Bian seraya menyerukan kepala beserta bibirnya dileher putih dan wangi milik Sheila. Sheila diam ditempat.  Bian yang sudah setengah sadar dari mabuk pun makin erat memeluk perut Sheila, mengecup-kecup perlahan leher hingga rahang Sheila. Sedangkan sheila bingung apa yang harus ia lakukan, Sheila hanya diam menikmati apa yang tengah Bian lakukan padanya. Sesekali melenguh membuat Bian menampakan senyumnya disela-sela mencium ceruk Sheila. Sekarang lidah Bian yang malah ikut bergerilya didalam ciumannya. "Ekhhmmm...." lenguh Sheila "Udah om!" Sheila buru-buru menghentikan Bian dan menyadarkan dirinya. Sheila membalikan badannya dan mendorong tubuh Bian yang sedikit lunglai karena habis mabuk. "Sheila mau tidur, jangan ganggu!" Perintah Sheila. "Sheila, om Bian janji gak akan mabuk lagi. Selama sheila selalu sama om, disamping om terus. Om janji." Janji Bian. Sheila mendengarnya tapi tak menjawab apapun, tetap melangkahkan kaki menuju kamarnya. Bian menghela napasnya perlahan, mengusap wajahnya yang tidak gatal. Gara-gara Sandra nih!  Anton kemana sih!? Bian menunggu Sheila dibawah seraya menyeduh tehnya, baru saja Bian selesai membuatkan dua potong roti isi daging untuk sarapan kekasihnya, Sheila. Tapi Bian tidak lihat sheila  muncul juga pagi ini. Ckrek Pintu kamar Sheila terbuka. Bian tersenyum kearah wanitanya, tapi berbeda dengan apa yang Sheila lakukan pada Bian, Sheila mengabaikannya. Berjalan keluar menuju pintu rumah. "Sheila mau kemana?" Tanya Bian bingung. "Kenapa pakai baju begitu?" Tanya Bian lagi, yang melihat Sheila tak seperti biasanya memakai pakaian layak seorang wanita dewasa.  Sheila tak menjawab malah membuka pintu dan terlihat ingin pergi. Sebuah mobil ternyata telah terparkir lama disana, saat jendela mobil dibuka Bian bisa melihat seorang bocah laki-laki ingusan, yang sok ganteng. Untuk apa kekasihnya pergi dengan laki-laki lain? Bian menyusul Sheila sebelum keluar dari pagar menarik pergelangan tangan Sheila. "Mau kemana?" Tanya Bian datar mencoba menahan amarah. "Bukan urusanmu paman..!" Bian menghela napasnya mencoba untuk sabar menghadapi anak kecil. "Masuk sebelum om kasih kamu hukuman!" Ujar Bian memperingati. Sheila masih kekeh ingin pergi, tapi sebelum ancaman yang Bian lontarkan saat ini. "Anak laki-laki ingusan disana, saya janji akan membuatnya babak belur dihadapan kamu Sheila." Ucap Bian memperingati. Sheila menghembuskan napasnya kasar, lalu menghentakan kakinya seraya berjalan menjauh dari Bian masuk kerumahnya. Bian menang. Didalam rumah, "Halo, kak Erik. Maaf kita harus batal jalan, paman ku melarang untuk keluar rumah." "Ya, terimakasih atas pengertiannya kak." ujar Sheila memutus percakapan. Sheila baru ingin memasuki kamarnya dan menguncinya. Ia berniat menghabiskan waktu dikamar saja, maskeran dan nonton drama atau film-film terbaru tapi sepertinya niatnya gagal total. Bian tengah memegang knop pintu kamar Sheila. Sheila melirik Bian sekilas, lalu membuang mukanya. "Mau apa lagi?" Tanya Sheila dengan sabar. "Kamu gak jadi masuk ke kamar?" Tanya Bian dengan lembut. Bukannya menjawab Bian malah nanya balik. "Sheila akan masuk ke kamar kalau om Bian udah pergi." Jawab Sheila. Berbeda dengan Bian yang saat ini tengah tertawa. Sheila menyerngitkan dahinya kebingungan. "Kalau begitu om gak akan kemana-mana, setia temani Sheila saja disini." Bisik Bian. Sheila mendesak tidak suka, lalu mendorong tubuh Bian sedikit tersungkur karena kurang fokus disebabkan belahan d**a Sheila yang terlihat jelas jika melihatnya dari atas. Sheila hendak mengunci pintu tapi terlambat, Bian sudah ikut masuk dan mengunci pintu Sheila dari dalam. "Om mau apa?" "Sheila yang mau apa sayang? Mau main kunci pintu dan dikamar seharian? Memang kekasih om ini sudah makan? Kalau sakit nanti gimana? Om harus modusin siapa kalau bukan pacar om sendiri?" Astaga seketika bulu kuduk Bian meremang akibat perkataannya sendiri yang menyebut Sheila sebagai pacar  ala anak abg. Orang tua seperti dia hanya harus bilang kekasih, kenapa harus pacar segala? Tapi jangan salah, umur Bian sudah 38 tahun. Seketika Bian baru sadar bahwa umurnya sudah setua itu. Tapi wajah tampan dan tubuh yang masih terlihat menggoda, bahkan dapat menarik segerombolan kaum hawa yang ada dimuka bumi ini. "Kenapa om jadi mau kamu Sheila?" Gumam Bian. Kapan kita nikah Sheila , umur om sudah tidak muda lagi... "Apasih om, Sheila mau mandi. Sana keluar!" Pinta Sheila. "Mandi saja, om akan tunggu sebari menonton TV dikamar mu, setelah itu kamu sarapan dibawah." Ujar Bian yang tahu bahwa itu hanya alasan Sheila saja. Sheila tadi hendak pergi, sudah pasti mandi kan? Sheila terlihat menghela napasnya. Pasti kebohongannya sudah terkuak akibat kebodohannya sendiri. Sheila mengambil satu style pakaian santainya untuk menikmati kehidupan didalam rumahnya seharian. Biarlah Bian dikamarnya melakukan apapun asal tak menganggu Sheila. Sheila sedang kesal dengan om-om yang bernama Bian. Sheila mengganti bajunya di kamar mandi, kaos dan rok pendek. Setelah selesai Sheila masih melihat Bian yang asik menonton TV diatas kasurnya. Sheila berniat menonton film, jadi ia masih berusaha mencari- cari kaset barunya. "Mau nonton film sheil?" Tanya Bian pada Sheila. Sheila tak bicara ataupun menjawab. "Pakai Bluetooth hp om aja." Ucap Bian. Memang bisa? Tit! Tut! Suara TV film sudah dimulai, Sheila melirik TV nya yang tengah menayangkan awal sebuah film. Melihat juga ditengah-tengah kasurnya sudah ada banyak sekali makanan dan minuman Favorite Sheila, coca -cola. Sheila akhirnya ikut duduk diatas kasur disamping Bian yang sedikit berjarak karena makanan. Sheila ingin mengambil popcorn tapi tangannya di pengang lebih dulu oleh Bian. "Kalo gak mau kasih bilang dari awal." Sindir Sheila. Bian menggeleng, "makan roti dagingmu dulu Sheila, baru makan cemilan ini. Kamu belum sarapan..." ujar Bian pengertian. Sheila jadi tak enak hati sudah mendiamkan Bian, akhirnya kali ini ia mengangguk menuruti, karena hatinya pun juga sudah sedikit membaik. Setelah memakan sarapannya Sheila terlihat asik dengan popcorn coklat yang Bian order tadi. "Film apa ini om?" Tanya Sheila pada akhirnya membuka mulut. "Film yang selama ini kamu ingin tonton Sheila." Sheila melirik Bian meminta penjelasan yang lebih jelas dan lebih spesifik tentang apa judul atau genre film yang tengah mereka tonton. Bian tertawa kecil seraya menatap Sheila. "Film dewasa Sheila...." Sheila menggigit bibirnya. Lanjut? Udah ke jawab umur Bian dan Sheila ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD