Singa Yang Terbangun

1047 Words
Rasanya begitu hangat dan menenangkan, pelukan dan dekapan yang di berikan Rey pada Ayu malam itu membuat tidur Ayu menjadi begitu nyenyak. Selama ini, semenjak 2 tahun yang lalu dimana Ayu merasa dunia sudah mengkhianatinya dengan cara yang kejam dan menyakitkan, tidur Ayu tidak pernah tenang, tidurnya baru bisa terlelap saat dia kelelahan berpacu dalam gairah dengan mereka yang menginginkan kehangatan dari tubuhnya. Seks bukan sekedar cara Ayu bertahan hidup dari Ibunya, bukan sekedar untuk mendapatkan uang, tapi juga pelampiasan rindu Ayu terhadap sosok seorang Ayah yang selama ini tidak pernah dia miliki. Usai bercinta, mereka yang mendapatkan kepuasan dari Ayudia akan memeluknya erat, mengusapnya penuh sayang seolah dia adalah guci mahal yang begitu berharga, ya, di atas ranjang Ayudia adalah Ratu yang mereka puja, pemuas yang tidak bisa mereka dapatkan di rumah yang terasa dingin tanpa kepuasan. Mereka menginginkan kepuasan, dan Ayu membutuhkan perhatian. Itulah yang di kejar Ayu selama ini dari profesi hinanya menjadi kupu-kupu idaman para pria mapan yang memuja tubuh indahnya. Ayu mungkin gagal bercinta dengan Theo, Ayah tirinya yang sudah nyaris saja menyelipkan kejantanannya ke dalam miliknya, tapi Ayu tidak menyesal tidak mendapatkan kegilaan berdasarkan emosi sesaatnya semalam. Pelukan dari Rey membayar semua rasa kecewa tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan berkali-kali lipat lebih nyaman, dalam dekapan hangat d**a bidang yang telanjang ini, Ayu bisa merasakan nyenyaknya tidur tanpa kewanitaannya yang pegal, atau payu****nya yang memerah hingga pagi menyapa. Silau matahari yang kini menyapa masuk melalui kaca lebar apartemen milik Rey yang tidak tertutup membuat Ayu menggeliat, tubuhnya yang telanjang karena nyaris bercinta dengan Ayah tirinya di dalam mobil kini hanya tertutup selimut yang melorot serta memperlihatkan payu**** indahnya yang menggoda. Terbangun telanjang dengan pria yang ada di sisinya bukan hal yang mengejutkan untuk Ayu, dan saat Ayu melihat siapa yang ada di sampingnya, Ayu tersenyum kecil. Wajah ganteng Rey yang semalam di ciumnya dengan beringas tanpa pria itu membalas kini tampak terlelap, bibirnya yang tampak tebal dan menunjukkan jika dia seorang pencium yang handal sedikit terbuka, memperlihatkan betapa nyenyaknya Rey yang tengah tertidur tanpa sadar jika dia tengah di perhatikan. Ayu beranjak bangun, melepaskan lengan Rey yang memeluknya posesif dan meraih kaos yang tercecer di samping ranjang untuk menutupi tubuh telanjangnya. Ya, hanya kaos yang di kenakan Rey semalam tanpa ada penutup lainnya yang melekat di tubuh indah tersebut. Tidak bisa menahan diri atas rasa penasaran Ayu terhadap Barista yang sudah tahu hitam putih hidup Ayu tersebut, Ayub berkeliling apartemen besar ini, dan saat itu Ayu tersadar, ini bukan apartemen biasa atau apartemen kelas atas yang menjadi tempat tinggalnya hadiah dari salah seorang Direktur sebuah TV Swasta, tapi ini sebuah penthouse yang pasti tidak sembarang orang bisa memilikinya yang harus menggelontorkan dana puluhan Milyar. Astaga, siapa sangka Barista ini adalah seorang miliarder. Ya, atau mungkin saja Rey juga seorang Kucing sama sepertinya yang menjadi kupu-kupu, setidaknya itu yang di pikirkan Ayu saat dia memilih mengabaikan semua hal yang bukan urusannya dan menyeduh kopi yang ada di pantry. "Sudah bangun, Yu?" Tubuh tegap menggoda dengan abs yang terlihat liat itu menjadi pemandangan pertama yang di lihat oleh Ayudia dari Rey yang baru saja keluar dari kamar. Berbeda dengan para pria yang akan langsung menerjang Ayudia saat dia memperlihatkan kaki jenjangnya, Rey justru tampak acuh saat dia mendekat pada Ayu dan duduk di sebelah Ayu. Di antara para pria yang memujanya, hanya Rey yang mengacuhkannya seperti ini, dan ini sedikit mengesalkan untuk Ayu. Tanpa permisi Rey meraih cangkir Ayu dan menyesap kopi yang ada di dalamnya. Damn! Gerakan seksi bibir Rey saat menyesap sembari menatap Ayu membuat Ayu turut menelan ludahnya perlahan. Tatapan mata Rey yang tajam tampak terus memperhatikan Ayu dan dia sangat menikmati wajah Ayu yang juga membalasnya. Tanpa riasan sama sekali, bahkan hanya memakai kaos saja Ayu sudah terlihat begitu cantik. Jika Rey bukan seorang yang pintar menyembunyikan perasaannya mungkin dia tidak akan bisa berdecak mengagumi Dewi S3x ini. "Seperti yang kamu lihat, aku sudah bangun, sudah cuci muka, dan gosok gigi. Sayangnya aku masuk ke apartemen ini dengan telanjang, dan terpaksa memakai kaosmu, apa kamu keberatan?" Ayu mendekat pada Rey, menunjukkan pada pria itu kaos putih yang dia kenakan yang tampak mencetak p****g kecil yang terlihat menonjol, tanpa harus Ayu berdiri tepat di depan Rey, Rey bisa melihat wanita ini memakai kaosnya dengan jelas. Ayu hanya sengaja menggodanya, dan Rey paham itu. Sekuat tenaga Rey berusaha menahan diri, tapi saat di hadapkan terus menerus tubuh seksi Ayudia yang ada di depannya, pertahanan Rey perlahan luluh juga, apalagi saat Ayu dengan lancangnya duduk di pangkuannya, mengusap dadanya yang telanjang dengan sensual dan pandangan yang menggoda. Ayu tersenyum kecil saat melihat nafas Rey yang memburu, saat dia menaiki tubuh tegap tersebut, sebelumnya Ayu sudah bersiap akan mendapatkan penolakan dari Rey tapi ternyata Rey sama saja seperti pria lain yang tidak bisa menolak pesonanya. Ayu memegang bahu Rey dengan lembut, postur tubuh seperti Rey dan William inilah yang dia sukai, tegap, berotot, tapi tidak berlebihan, apalagi saat melihat jakun mereka yang naik turun karena hasrat, Ayu sangat menyukai hal ini. Mata tajam yang tadi memperhatikan Ayu kini terpejam, tampak menikmati sentuhan lembut Ayu di kulitnya. Tidak tahu kenapa, Ayu merasakan jika Rey begitu seksi, sangat berbeda dengan kebanyakan kliennya yang hanya menghajarnya penuh nafsu. Ayu menunduk, mendekat pada telinga Rey hingga payudaranya yang hanya terhalang kaos menyentuh d**a Rey, bisa di pastikan jika Rey dapat merasakan putingnya yang mengeras, sama seperti Ayu yang bisa merasakan jika sesuatu di pangkal paha pria pendiam nan dingin ini juga terbangun. "Kalau aku mau berterimakasih ke kamu karena sudah nyelamatin aku dari kejadian semalam, apa kamu mau menerimanya, Rey." Tidak ada jawaban dari Rey saat Ayu berucap demikian, tapi sebagain jawaban, remasan keras di dapatkan Ayu pada bokongnya yang hanya sebagian tertutup kaos di sertai erangan dari Rey. Dan saat mata itu kembali terbuka, bibir seksi yang sedari tadi menggoda Ayu langsung meraup bibir semerah cheri milik Ayu, mencecapnya seperti seorang yang kelaparan seolah enggan untuk melepaskan. Desahan tidak bisa ditahan Ayu merasakan ciuman Rey, seperti yang Ayu perkirakan, pria ini seorang pencium yang handal, bukan hanya bibirnya yang pandai dalam bermain, remasan tangan pria itu pada payudaranya juga sukses membuat kewanitaan Ayu basah. "kamu sudah membangunkan singa yang tertidur, Ayudia. Dan dia akan memangsamu sampai kamu tidak bisa untuk lari ke pemangsa yang lain."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD