Reina menghela napas kasar, dia berdehem sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Sungguh, dia malu sekali. Kepergok sedang dalam posisi yang tidak aman bersama Rakabumi benar-benar membuatnya malu, apalagi yang melihat bukan hanya seorang dua orang, melainkan banyak orang. Dan, dia bisa pastikan kalau semuanya akan berpikir yang tidak-tidak. Lagipula, siapa yang akan berpikir seolah tak terjadi apa-apa, sedangkan posisi mereka sedang tumpah tindih seperti itu. Tck.
Langkah Reina seketika terhenti saat semua mata kini tertuju padanya, semuanya menghentikan kegiatan sarapan mereka dan justru fokus padanya. Reina menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya. Kedua bibirnya pun sudah dia tarik membentuk senyuman kikuk. Namun, bukan jawaban berupa kata-kata yang diterimanya melainkan senyum dan tawa yang dia tahu apa maksudnya. Pasti mereka semua masih teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Dia, yakin itu.
Rasa-rasanya, dia tak ingin menemui mereka semua. Dia ingin mengurung diri di kamar saja. Iya, itupun kalau tak ada Rakabumi di kamarnya. Karena nyatanya, dia lebih malu bertemu pria itu daripada mereka semua. Apalagi saat otaknya kembali ingat kejadian tadi, kejadian dimana tanpa disadari membuat dia menyentuh sesuatu yang ... Huft, dia malu mengatakannya. Yang jelas, sesuatu yang berhubungan dengan seorang pria.
“Rein, kenapa diam aja? Ayo, dong gabung sarapan.”
Kesadaran Reina kembali saat suara Shara—ibu mertuanya masuk ke telinganya, dia tersenyum kikuk kemudian melangkah menuju kursi kosong yang diperuntukkan untuk dirinya. Dia segera membalikkan piring kemudian mulai mengambil beberapa makanan untuk sarapannya kali ini.
“Raka nya mana, kok gak diajak sarapan juga?” tanya Ambar saat dirinya tak menemukan menantunya disini. Dia sedikit tersenyum geli saat ingat kejadian tadi. Kalau tahu akan seperti tadi, mungkin dia tak akan datang saat mendengar suara pekikan keras itu.
Reina seketika menghentikan suapannya. Tidak, bahkan dia belum menyuapkan sesendok makanan pun ke mulutnya. Gerakannya terhenti karena pertanyaan singkat dari Mama nya. “Lagi siap-siap dulu.” jawab Reina kikuk, dia langsung menyuapkan makanannya dan mengunyahnya dalam diam sambil menunduk.
“Maklum aja lah, jeng. Pengantin baru, apalagi tadi—”
“Bun...”
“Iya, iya, bunda becanda kok.”
Sungguh, dia malu sekali saat semuanya mengulum senyum mereka. Seolah-olah kejadian tadi benar-benar sulit di lupakan mereka. Obrolan-obrolan singkat mengalir begitu saja di meja makan, senyum dan tawa bahagia terpancar jelas di wajah mereka. Benar, sepertinya pernikahan yang dilakukan dua keluarga ini benar-benar menimbulkan banyak kebahagiaan. Seolah-olah, pernikahan ini sangat dinanti-nantikan.
“Pagi, semuanya.”
Semua mata menoleh ke arah sumber suara, begitupun Reina. Bahkan, perempuan itu tak mengalihkan atensinya pada Rakabumi yang berjalan kearah mereka dengan setelan santai yang melekat di tubuhnya. Rakabumi berbeda, sangat berbeda. Kemeja dan jas yang biasa melekat di tubuhnya, kini terganti dengan kaos polos. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi tertata, kini dibiarkan sedikit acak-acakan. Namun, tetap terlihat rapi but lebih menggoda.
“Ayo, Rak. Sarapan!” ajak Taru, dia tersenyum menatap menantunya.
Rakabumi hanya mengangguk, dia berjalan kearah kursi kosong yang tersisa, tepat di samping Reina. Mau bagaimana lagi, kursi itu satu-satunya. Jadi, dia tak punya pilihan lain. Dia membalikkan piringnya, namun pergerakannya terhenti saat mendengar suara intrupsi.
“Rein, masa kamu biarin suami kamu ambil makannya sendiri sih? Sama aja dong sama dia saat belum menikah. Ambilkan dong, 'kan udah ada istri sekarang.” ucap Ambar yang membuat Reina seketika mengentikan suapannya.
Reina mengangguk pelan, dia melirik Rakabumi yang kini terdiam. Dengan gerakan pelan, dia memutar tubuhnya kemudian membalikkan piring makan pria itu. Tangannya dengan lihai mengambil makanan untuk pria itu, mulai dari nasi sampai lauk pauknya. Dia telaten sekali, meskipun ini pertama kalinya. Menyiapkan sesuatu untuk orang lain. Meskipun tak bisa dipungkiri, dadanya bergemuruh begitu hebatnya.
“Makan,” ucap Reina pelan, dia meletakkan piring Rakabumi yang sudah penuh dengan makanan yang diambilnya.
Semua mata tertuju kearah mereka, tersenyum senang melihat sepasang pengantin yang benar-benar membuat mereka tak bisa menahan senyumnya. Lucu saja, melihat pengantin baru yang masih terlihat malu-malu. Sepertinya, dulu mereka juga begitu. Dan, begini rasa yang sepertinya orangtua mereka dulu rasakan.
“Heem,” ucap Rakabumi, dia mulai menikmati makanannya dengan pelan. Meskipun sebenarnya dia susah, dia tak terbiasa.
Reina mengangguk, dia ikut menikmati makanannya dalam diam. Bukan Reina sebenarnya, namun begitulah. Dia akan berubah jadi pribadi lain saat berada diantara orang-orang baru. Rakabumi dan keluarganya termasuk kedalam list orang-orang baru.
“Reina hebat, ya. Baru kali ini loh, Bumi mau makan nasi pagi-pagi.” ucap Shara yang membuat semua orang mengerutkan keningnya bingung, termasuk Reina dan terkecuali Reksa karena dia tahu apa maksud ucapan istrinya.
Shara mengangguk. “Iya, Bumi itu gak bisa makan nasi pagi-pagi. Dia biasanya langsung muntah gitu, tapi pagi ini dia bisa habisin setengah piring makannya. Dan, itu berkat Reina.” jelas Shara yang membuat semuanya tertawa dan menatap menggoda dua insan itu.
Sedangkan Reina hanya tersenyum kikuk, dia menunduk malu. Lain halnya dengan Rakabumi yang kini sudah menghentikan suapannya. Dia sebenarnya tak peduli apa yang diucapkan bundanya, namun dia membenarkan itu semua. Aneh memang, dia tak mual sejak tadi. Justru dia menikmati. Tapi, setelah bundanya berkata demikian baru rasa mualnya itu datang seketika.
Godaan yang tertuju pada mereka terus ada saja, tak terputus begitu saja. Hingga dering ponsel milik Rakabumi membuat pria itu mengundurkan diri dari mereka semua. Memilih mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari kekasihnya. Reina acuh, dia tak peduli. Meskipun hati kecilnya bertanya-tanya, siapa orang yang menelpon suaminya pagi-pagi.
Suami?
***
“Kamu mau ajak aku kemana sih sebenarnya? Gak mungkin kan, kamu bener-bener mau ajak aku jalan-jalan sepagi ini.”
Reina sejak tadi terus bertanya, namun Rakabumi pun sejak tadi hanya diam. Reina merasa bingung juga aneh saat setelah menerima telpon pria itu tiba-tiba berucap ingin mengajaknya pergi, ingin menghabiskan waktu untuk saling mengenal lebih dekat lagi, katanya. Tapi, Reina tentu tak langsung percaya. Lagipula, mana ada orang yang langsung percaya dengan apa yang diucapkan Rakabumi. Tak mungkin ada.
Reina mendengus, dia memutar bola matanya jengah dan memilih menatap lurus kedepan, menatap jalanan yang cukup lenggang. Hingga mobil Raka berbelok, berhenti di pinggir sebuah restoran milik Bima, lebih tepatnya didepan cafenya.
“Loh, kita ngapain kesini?”
“Saya ada urusan, kamu tunggu disini.”
“Wait, jadi maksud kamu apa tadi ngomong sama keluarga kita kalau kamu mau ajak aku jalan-jalan? Itu apa coba maksudnya?”
Rakabumi menghela napas kasar, dia melirik sekilas Reina. “Jangan terlalu naif, kamu seharusnya tahu maksud saya. Gak mungkin saya bisa pergi begitu saja disaat kita baru saja menikah, apapun alasannya pasti gak akan ada izin yang dikeluarkan. Kecuali, kalau saya bawa kamu. Udah jelas, pasti diizinkan.” jelas Rakabumi yang membuat Reina terkejut.
“Terus sekarang kamu mau kemana?”
“Yang jelas, bukan urusan kamu. Sekarang kamu turun, tiga jam lagi saya jemput kamu.”
Bola matanya melebar, mulutnya ternganga mendengar ucapan pria itu. Tangannya dengan refleks menarik lengan pria itu, berharap pria itu menatapnya. Namun, justru rintisan yang keluar dari pria itu membuatnya bingung seketika.
“Tangan kamu kenapa?”
Rakabumi meringis, mengusap pelan lengannya yang sakit. Ini akibat tadi pagi, refleks menyangga tubuh Reina berharap tak langsung menyentuh lantai, namun justru lengannya yang menjadi korban.
“Bukan urusan kamu. Mending sekarang kamu turun.”
“Tapi, tangan kamu—”
“Turun!”
Dengan kesal, Reina segera melepas seltbelt-nya kemudian turun dari mobil Rakabumi. Tak lupa, dia menutup kembali pintu mobil itu dengan keras yang sayangnya tak berefek apapun pada Rakabumi. Pria itu bahkan langsung melajukan mobilnya, benar-benar meninggalkan Reina seorang diri di depan restoran milik Bima yang benar-benarmasih tutup. Close.
“Nyebelin banget sih!”
***
Ceklek ...
Pintu kamar inap itu dibukanya dan langsung menunjukkan seorang wanita yang sudah berdiri membelakanginya tengah membereskan barang-barang nya. Wanita itu sudah di perbolehkan pulang, itu juga alasan Rakabumi ada disini. Belum sempat mulutnya berucap, wanita itu lebih dulu mendahuluinya.
“Kamu ngapain disini sih? Kan aku udah bilang, kamu jangan kesini. Nanti keluarga kamu tahu, urusannya ribet lagi.” ucap Renata, dia membalikkan tubuhnya dan menatap sendu sekaligus kesal Rakabumi.
Rakabumi tak langsung membalas, dia tersenyum simpul kemudian melangkah menghampiri wanita itu. Kedua tangannya sudah bertengger di pundak Renata, mendorongnya pelan yang membuat tubuh perempuan itu kini terduduk diatas ranjang rumah sakit yang sudah rapih. Senyumnya semakin lebar melihat bibir itu mengerucut kesal, lucu saja melihatnya.
“Aku gak mungkin biarin kamu pulang sendiri, aku gak mau sesuatu terjadi sama kamu.”
“Justru dengan kedatangan kamu sekarang, pasti ada sesuatu yang terjadi sama aku. Kamu kan tahu, mata-mata keluarga kamu tuh dimana-mana.” balas Renata, dia mengerucutkan kembali bibirnya. Menyesal dia menghubungi Rakabumi tadi, padahal niatnya hanya ingin memberi kabar kalau dia sudah diperbolehkan pulang. Bukan meminta di jemput dan diantar pulang.
“Tenang aja, aku pastikan kamu baik-baik aja.”
Renata menghela napas kasar, sulit bicara dengan Rakabumi. Dia hanya mengangguk pelan, kemudian kedua tangannya kini sudah melingkar di pinggang pria itu, sedang kepalanya bersandar tepat di d**a bidang lelaki itu yang banyak terdapat otot-otot hasil dari nge-gym setiap akhir pekan. Dia bisa merasakan otot itu dan juga detak jantung Rakabumi yang berdetak kencang setiap kali bersamanya.
“Terus gimana ceritanya kamu bisa kesini? Alasan apa yang kamu kasih?”
“Kamu gak perlu tahu lah.” jawab Rakabumi, dia membalas pelukan Renata. Tangannya sudah melingkari leher Renata, mengelus-elus surai lembut itu.
“Kok gitu sih?” dengus Renata, dia mengerucutkan bibirnya. “Ayo, coba cerita sama aku. Alasan apa yang kamu kasih?”
“Aku ajak perempuan itu keluar.”
Renata terkejut, dia menatap tak percaya Rakabumi dan segera melepaskan pelukannya. Dia mendongak, menatap Rakabumi yang kini menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa?”
“Terus sekarang dia dimana?”
“Aku turunin—”
“Pulang, jemput dia!”