"Jadi, kira-kira kapan pernikahan ini akan dilaksanakan?"
Seketika Reina menghentikan suapan sendok makan ke mulutnya, bahkan sendok itu masih belum mendarat di mulutnya. Dia menatap Taru, Papa nya yang baru saja melontarkan pertanyaan itu. Apa harus langsung to the point? Padahal makanan saja belum selesai dimakan, namun sudah dicerca dengan pertanyaan yang langsung membuat mood Reina jatuh seketika. Meskipun sebenarnya, diajak makan malam seperti ini saja sudah merusak mood nya.
"Memangnya, kita gak mau adakan pertunangan dulu?"
Taru terkekeh pelan. "Bukannya lebih cepat, lebih baik?" Tanya Taru, dia menaikkan sebelah alisnya sambil menarik sudut bibirnya. "Jadi?" lanjut Taru.
Reksa menggeleng, mengedikan bahunya. "Aku serahkan semuanya sama kamu. Aku sih, ikut aja." jawab Reksa, dia menyerahkan semuanya pada Taru.
"Benar?"
"Tentu. Aku yakin, keputusan kamu itu gak pernah salah."
Taru menarik sudut bibirnya. Selalu saja seperti ini, semua orang terlalu percaya akan keputusannya. Atau memang, keputusannya tak pernah salah sehingga membuat semuanya, yakin? Entahlah. Setidaknya dia bersyukur, menjadi orang yang bisa dipercaya.
"Satu minggu. Gimana kalau pernikahan itu dilaksanakan satu minggu lagi?”
Pernyataan Taru itu sukses membuat Reina yang masih mencoba menikmati makanannya tersedak makanannya sendiri. Dia buru-buru mengambil air, dibantu Mamanya yang duduk di sampingnya. Tatapan semua orang tertuju padanya, lain halnya dengan dia yang kini sudah menatap Papanya tak percaya.
"Pa?"
Taru sebenarnya mengerti maksud dari ucapan Reina, hanya saja dia mencoba tak peduli. Yang harus dilakukannya kini hanya satu, menikahkan putrinya. Itu, saja. Sudah cukup.
"Gimana Reksa, kamu setuju?" Tanya Taru, dia mengalihkan pandangnya dari Reina memilih menatap teman sekaligus rekan kerjanya yang akan menjadi besannya.
Reksa mengalihkan atensinya dari Reina, dia yakin, perempuan muda itu pasti terkejut dengan keputusan yang baru saja dilontarkan orangtuanya itu. Namun, mau bagaimana lagi. Apa yang diucapkan Taru, itu yang harus terjadi. Dia kini menatap Taru, mengangguk pelan. "Ya, seperti aku bilang tadi. Aku percaya sama kamu. Jadi, gak ada alasan untuk aku menolak rencana kamu itu."
Taru tersenyum. "Kalau kamu Raka, apa kamu setuju?" Tanya Taru, dia ingin mendengar sendiri jawaban dari calon menantunya ini.
"Saya ikut keputusan, Om saja." Jawab Rakabumi yang justru semakin membuat Reina tak mengerti.
Reina mengerutkan kening heran mendengar jawaban Rakabumi. Ada apa dengan Rakabumi sebenarnya? Kenapa juga semua orang disini langsung mengiyakan saja ucapan Papanya. Ya, meskipun sebenarnya Reina pun demikian. Hanya saja... Kenapa keluarga dari pihak Rakabumi, tak ada sedikit pun mengajukan protes? Jangankan protes, usulan saja tidak. Mereka semua seakan pasrah saja.
"Reina permisi ke belakang sebentar."
Dan, tanpa menunggu persetujuan dari siapapun. Reina berjalan pergi meninggalkan semua orang yang berada disini. Dia berhenti sejenak, menatap Rakabumi yang tak menatapnya. Cukup lama sebelum akhirnya ia memilih melenggang pergi begitu saja.
***
Rakabumi terdiam, dia menatap punggung dengan pundak telanjang yang ada dihadapannya, tengah berdiri membelakanginya. Kedua tangannya masuk ke saku celana yang dikenakannya, cukup formal karena perempuan itu pun memakai gaun yang lumayan formal juga. Memang, acara makan malam di sini bukan hanya makan malam biasa. Lebih pada makan malam untuk membahas acara pernikahan mereka.
"Saya harap kamu terima keputusan Papa kamu."
Dia menatap Reina yang kini membalikkan tubuh kearahnya, perempuan itu menatap intens dirinya yang masih setia pada posisinya. Tak sedikitpun berniat melangkah menghampiri perempuan itu.
"Jujur sama aku. Sebenarnya apa sih niat kamu? Kenapa kamu gak pernah ada sedikitpun penolakan atas semua perintah ayah kamu. Bahkan, rencana pernikahan kita yang tinggal cuma satu Minggu lagi. Kamu gak tolak."
Rakabumi menatap ke lantai yang di tapaki nya, dia kembali mendongak menatap perempuan itu. "Ayah saya gak menolak, apa saya punya hak untuk menolaknya? Enggak." Jawab Rakabumi santai, dia berkata begitu datar dan santainya. Seolah tak ada beban apapun dalam setiap kalimat yang terucap dari mulutnya.
Reina berdecak, dia yang awalnya sempat kagum pada pria dihadapannya berubah kesal. Bagaimana bisa semuanya terlihat santai sedangkan dirinya yang akan dijodohkan dengan pria itu tidak. Bagaimana mungkin.
Dia melangkah mendekat pada Rakabumi, menatap cukup lekat dalam jarak yang lumayan dekat. Kakinya yang berbalut high heels membuat tinggi mereka setara, sehingga dia bisa melihat secara langsung mata tajam setengah sayu itu.
"Apa yang sebenarnya kamu mau?" Tanya Reina lagi. Kini di setiap kata yang terlontar dari mulutnya penuh dengan tekanan.
"Simple. Pernikahan."
Rasanya, dia ingin sekali melayangkan pukulan pada wajah tampan itu. Tapi, dia tak mau mengotori tangannya sendiri. Dan juga, dia sedikit tak tega sebenarnya melukai wajah tampan itu.
"Kamu kekeh buat nikahi aku. Bagaimana bisa, pernikahan ini berjalan tanpa ada rasa yang kamu bilang jangan sampai ada. Bagaimana bisa coba? Mustahil."
"Saya bisa. Kamu juga bisa. Apanya yang mustahil?”
Reina menggertak giginya. "Mustahil rasa itu gak akan muncul. Kalau nanti kita menikah, kita bertemu setiap hari. Gak menutup kemungkinan kalau rasa itu gak muncul dengan sendirinya."
Rakabumi terkekeh, namun terdengar seperti ejekan di telinga Reina. Pria itu masih memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, sedangkan tangannya yang lain sudah bertengger di lengan atas Reina. Membuat perempuan itu menatap tangan pria itu di lengannya. Jujur, tubuhnya sedikit bergetar hanya karena sentuhan langsung tangan pria itu di kulit lengannya.
"Sepertinya, ucapan itu hanya berlaku untuk kamu. Enggak dengan saya. Jadi, saya peringatkan sama kamu. Sebelum rasa yang kamu maksud benar-benar tumbuh di hati kamu. Segera hapus, karena percuma." ucap Rakabumi, dia menatap Reina yang terlihat sekali sangat kesal dengan setiap ucapan yang dilontarkannya.
"Yang ada kamu sakit hati. Karena sampai kapanpun, saya gak akan pernah pakai hati, apalagi perasaan." lanjut Rakabumi, dia berbisik pelan di telinga Reina sebelum akhirnya pergi meninggalkan perempuan itu. Tak lupa, tepukan pelan dia berikan di lengan itu.
"b******k!"
***
"Satu minggu, itu waktu yang dikasih Ayah"
Renata duduk di kursi roda, dia menatap lurus ke depan, matanya menatap fokus ke luar. Kaca besar di ruang inap nya memang langsung memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit yang bersinar terang karena lampu. Telinganya sejak tadi mendengar dengan seksama apa yang diucapkan Rakabumi sejak tadi, pembicaraan yang menjerumus pada acara pernikahan pria itu.
Rakabumi menghela napas kasar, kakinya melangkah menghampiri wanita tersebut kemudian memutar kursi rodanya sebelum akhirnya dia berlutut sambil menggenggam erat tangan halus yang terpasang infus itu.
"Maafin aku."
Renata menatap lirih Rakabumi yang baru saja berucap. Ingin sekali dia melontarkan protesnya, marahnya. Namun, dia bisa apa? Sekuat apapun dia meminta—agar pernikahan kekasihnya dengan wanita pilihan orangtuanya tak terlaksana—tak akan berefek apapun. Karena nyatanya, dia tak pernah bisa menjadi pilihan keluarganya.
Renata tersenyum simpul, menatap Rakabumi yang menatap lirih padanya. "Gakpapa. Mungkin, ini memang udah takdirnya." jawab Renata, dia tersenyum sendu.
"Nenek dan Ayah gak kasih aku pilihan, mereka yang memutuskan semuanya. Kalau sampai aku menolak, aku gak akan dapat sepersen pun warisan keluarga. Aku gak bisa berbuat apapun, karena yang aku lakukan ini juga untuk kamu. Maafin aku."
Renata tersenyum, menggeleng. Dia membalas menggenggam erat tangan pria itu. "Enggak, kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah apapun, mungkin emang ini udah jalannya, takdir mungkin mau kamu menikah sama perempuan itu."
"Bukan, bukan takdir. Tapi, ayah dan nenek aku."
Renata tersenyum. "Apapun, itu. Yang jelas, kamu mungkin aja udah ditakdirkan sama perempuan itu, bukan sama aku."
"Ren..."
"Udah, ya. Mending kamu pulang sekarang, udah malam. Aku gak mau, ayah kamu marah-marah dan nantinya kalian bertengkar. Aku gak mau sampai itu terjadi."
Rakabumi menghela napas kasar, dia beranjak berdiri kemudian mendorong kursi roda wanita itu kearah ranjang rumah sakit. Membantu Renata kembali ke ranjangnya. Tangannya menarik selimut, menyelimuti tubuh itu. Sebelum akhirnya sebuah kecupan manis dia berikan di kening wanita tersebut.
"Kamu istirahat, ya. Aku pulang."
Renata mengangguk, tersenyum. "Hati-hati."
"Iya."